
Ada sesuatu yang ganjil ketika sebuah kata menjadi terlalu sering diucapkan. Ia kehilangan bobotnya, seperti uang yang dicetak berlebihan. “Perubahan iklim”—kini beredar di ruang rapat, jurnal ilmiah, pidato pejabat, bahkan khutbah keagamaan—terdengar seperti mantra yang tak lagi dipertanyakan. Seolah ia bukan lagi persoalan, melainkan kewajiban untuk dipercaya.
Bahwa bahasa, ketika menjadi terlalu mapan, berhenti menjadi alat berpikir. Ia berubah menjadi alat kepatuhan. Di forum ilmiah internasional—para penulis laporan Intergovernmental Panel on Climate Change berdebat. Nada mereka tidak selalu tenang. Ada yang mengajukan grafik, ada yang meragukan metodologi, ada yang mengulang angka dengan suara nyaris seperti doa. Sains, di sana, tampak bukan sebagai bangunan kokoh, melainkan medan yang retak—dipenuhi asumsi, kepentingan, dan tentu saja, keyakinan.
Dalam sejarah, sains memang tak pernah sepenuhnya steril. Thomas Kuhn pernah menyebut “paradigma”—kerangka besar yang menentukan apa yang dianggap benar, dan apa yang disisihkan. Dalam setiap paradigma, selalu ada yang tak terdengar: suara-suara minor, data yang tak cocok, atau sekadar keraguan yang dianggap mengganggu.
Itulah sebabnya, di negeri-negeri maju, isu perubahan iklim tumbuh sebagai ladang riset yang subur. Ia melahirkan teknologi, model matematis, bahkan industri baru. Namun kebijakan sering kali punya logikanya sendiri. Ia tak selalu mengikuti kesimpulan ilmiah. Kadang ia berbelok, ditarik oleh kepentingan ekonomi, oleh lobi industri, atau oleh kalkulasi geopolitik yang dingin.
Di sini, di negeri yang jauh dari pusat produksi pengetahuan itu, gema isu tersebut terdengar berbeda. Ia datang seperti paket jadi—lengkap dengan istilah, kerangka kerja, dan bahkan arah kebijakan. Kita mengadopsinya dengan cepat, nyaris tanpa jeda. Seperti murid yang rajin, tapi lupa bertanya.
Padahal, seperti diingatkan Amartya Sen, pembangunan—dan segala diskursus yang menyertainya—tak pernah lepas dari konteks kebebasan: kebebasan untuk berpikir, meragukan, dan memilih. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi pengulang, bukan pengolah.
Tentu saja persoalan ini bukan sekadar soal percaya atau tidak percaya pada perubahan iklim. Itu terlalu sederhana. Dunia tidak bekerja dengan dikotomi semacam itu.
Justru yang lebih genting, adalah kenyataan yang kita lihat sendiri: hutan yang hilang tanpa upacara, sungai yang keruh tanpa nama, tanah yang retak sebelum musimnya. Kerusakan itu tidak membutuhkan laporan internasional untuk diakui. Ia hadir dalam ingatan petani, dalam cerita nelayan, dalam tubuh anak-anak yang tumbuh di antara udara yang tak lagi bersih.
Di titik ini, perdebatan global menjadi agak jauh. Ia seperti percakapan di ruang lain, dengan bahasa lain. Sementara di sini, yang kita hadapi bukan abstraksi, melainkan akibat.
Kita perlu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk istilah, dari kepastian yang dipinjam. Bukan untuk menolak, tapi untuk melihat kembali. Sebab, seperti yang kerap muncul dalam catatan-catatan kecil yang reflektif itu: kebenaran sering kali bukan sesuatu yang datang dari luar dengan suara keras. Ia justru tumbuh pelan, dari pengalaman yang tak bisa sepenuhnya diwakili oleh angka.
Pada akhirnya, yang tersisa bukanlah pertanyaan apakah perubahan iklim itu benar atau salah. Melainkan: sejauh mana kita bersedia bertanggung jawab atas kerusakan yang sudah kita lihat sendiri.[]





Comments are closed.