Mon,11 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Lebih Dekat dengan Jembatan Kereta Cisomang yang Jadi Jembatan KA Aktif Tertinggi di Indonesia

Lebih Dekat dengan Jembatan Kereta Cisomang yang Jadi Jembatan KA Aktif Tertinggi di Indonesia

lebih-dekat-dengan-jembatan-kereta-cisomang-yang-jadi-jembatan-ka-aktif-tertinggi-di-indonesia
Lebih Dekat dengan Jembatan Kereta Cisomang yang Jadi Jembatan KA Aktif Tertinggi di Indonesia
service

Lebih Dekat dengan Jembatan Kereta Cisomang yang Jadi Jembatan KA Aktif Tertinggi di Indonesia


Jembatan Cisomang merupakan jembatan kereta api tertinggi di Indonesia. Terletak di Desa Cisomang, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Jembatan Cisomang berada di ketinggian kurang lebih dari 100 meter dari dasar Sugai Cisomang.

Panjang total Jembatan Cisomang adalah 243 meter. Jembatan ini terletak di antara Stasiun Cisomang yang sudah nonaktif dan Stasiun Cikadongdong.

Uniknya, jembatan ini memiliki tiga generasi. Generasi pertamanya sudah ada sejak era penjajahan Belanda. Sementara itu, generasi terakhirnya adalah jembatan kereta api yang sampai saat ini masih digunakan.

Jembatan KA Tertinggi yang Punya 3 Generasi

Pembangunan Jembatan Cisomang di era kolonial | Koleksi Tropen Museum

info gambar

Pembangunan Jembatan Cisomang di era kolonial | Koleksi Tropen Museum

Pembangunan Jembatan Cisomang bertujuan untuk menghubungkan jalur dari Bandung menuju Jakarta. Jembatan ini memiliki tiga generasi, di mana dua generasi lamanya sudah ada sejak zaman kolonial.

Jembatan Cisomang generasi satu dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1984 dan dioperasikan di tahun 1906. Namun, kondisi tanah di area sekitar tidak stabil dan membuat beberapa kereta sempat anjlok saat melintasinya.

Kemudian, jembatan generasi dua dibangun pada 1932 untuk menggantikan jembatan yang lama. Dengan demikian, Jembatan Cisomang generasi satu resmi ditutup untuk kereta. Sisa-sisa jembatannya sudah nyaris hilang, hanya fondasinya yang masih berdiri di area sekitar persawahan warga.

Jembatan Cisomang gen II | NFarras/WikimediaCommons

info gambar

Jembatan Cisomang gen II | NFarras/WikimediaCommons

Jembatan ini punya panjang 230 meter. Pilar besi bajanya ditopang dengan fondasi yang tertanam sedalam tiga meter di kedalaman tanah.

Jembatan generasi dua digunakan sangat lama hingga akhirnya dipensiunkan pada tahun 2004. Berbeda dengan “kakaknya”, sisa-sisa jembatan kedua ini masih tampak kokoh berdiri sampai sekarang. Ada warga yang menggunakan sisa kerangka jembatan itu untuk sekadar nongkrong sembari menunggu kereta lewat.

Kemudian, tahun 2000, pemerintah Indonesia membangun Jembatan Cisomang generasi ketiga. Merangkum dari PT Kereta Api Indonesia (Persero), pembangunan si “bungsu” melibatkan ahli konstruksi kereta api asal Austria. Pembangunannya selesai pada tahun 2004.

Jembatan Cisomang baru menggunakan konstruksi baja yang melengkung ke atas. Jembatan ini juga memiiki rel ganda serta jalur kecil yang diperuntukkan untuk motor dan pejalan kaki. Jembatan generasi dua dan tiga ini bersebelahan.

Punya Urban Legend Terkenal

Menyandang status sebagai jembatan kereta api aktif tertinggi di Indonesia, Jembatan Cisomang konon memiliki urban legend yang cukup terkenal. Merangkum dari Instagram @urangpurwakarta.id, ada kisah misteri yang menyelimuti jembatan ini.

Yang pertama adalah soal kemunculan merpati putih. Ada mitos yang berkembang di tengah masyarakat jika ada dua ekor burung merpati putih terbang di sekitar jembatan, akan ada kejadian buruk yang terjadi.

Selain itu, dikatakan bahwa ada sosok gaib yang menunggu jembatan yang bernama Nyi Daweh. Ia memiliki rupa yang amat cantik, hingga membuat lelaki terpesona, termasuk Sinyo Belanda.

Namun, agaknya kecantikannya ini membawa petaka. Konon, Nyi Daweh dikubur hidup-hidup untuk dijadikan tumbal dan ditanam di tiang ke dua Jembatan Cisomang yang lama, Saat dikubur itu, ia memakai kebaya berwarna merah.

Menurut kesaksian beberapa orang, Nyi Daweh kerap terlihat di ujung jembatan dengan baju serba merah

Namun, perlu diketahui bahwa kisah-kisah mistis yang melekat adalah mitos dan kepercayaan lokal yang tumbuh di sekitar masyarakat. Di tengah urban legend itu, Jembatan Cisomang tetap menjadi primadona karena memiliki pemandangan sekitar yang memikat. Hijaunya alam mampu membius mata siapa pun yang melihatnya.

Ada Kawan GNFI yang pernah atau bahkan sering melewati jembatan ini saat bepergian dari Bandung ke Jakarta dan sebaliknya?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.