Cucuta, Arina.id– Sedikitnya 11 orang terluka akibat ledakan truk bermuatan bahan peledak di dekat sebuah kantor polisi di Kota Cucuta, Kolombia, Sabtu (1/8/2026). Peristiwa ini terjadi hanya enam hari sebelum pelantikan presiden terpilih Abelardo de la Espriella.
Saksi mata melaporkan kendaraan yang digunakan dalam serangan itu terbakar hebat. Ledakan juga merusak sejumlah bangunan di sekitar lokasi, sementara aparat kepolisian, militer, dan warga segera memadati area kejadian.
Sekretaris Keamanan Departemen Norte de Santander, George Quintero, mengatakan delapan anggota kepolisian dan tiga warga sipil mengalami luka-luka akibat ledakan tersebut.
“Saat ini terdapat delapan polisi dan tiga warga sipil yang terluka. Ini merupakan tindakan yang sangat keji dan penuh kekerasan. Apa yang terjadi sangat kami sesalkan,” kata Quintero kepada wartawan.
Serangan terjadi di Departemen Norte de Santander, wilayah yang berbatasan langsung dengan Venezuela dan selama ini dikenal rawan aktivitas kelompok bersenjata serta jaringan perdagangan narkotika.
Pelantikan Presiden Kolombia Diperketat
Abelardo de la Espriella, politikus berhaluan kanan, dijadwalkan dilantik sebagai Presiden Kolombia pada 7 Agustus 2026. Ia akan menggantikan Gustavo Petro, presiden sayap kiri pertama dalam sejarah negara tersebut.
Dengan dukungan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, De la Espriella berjanji memperketat operasi terhadap kelompok gerilyawan dan organisasi perdagangan narkotika yang dinilai menjadi penyebab meningkatnya kekerasan di Kolombia dalam satu dekade terakhir.
Kolombia hingga kini masih menjadi produsen kokain terbesar di dunia. Untuk memperkuat strategi keamanannya, De la Espriella juga berencana membangun kerja sama militer yang lebih erat dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pelantikan Dipindahkan ke Cali
Berbeda dengan tradisi sebelumnya yang selalu digelar di Gedung Kongres di Bogota, presiden terpilih meminta agar upacara pelantikannya dipindahkan ke Kota Cali, wilayah barat daya Kolombia.
Cali merupakan daerah yang kerap dilanda bentrokan antara kelompok gerilyawan dan sindikat perdagangan narkotika. Karena tingginya ancaman keamanan, pemerintah menyiapkan salah satu operasi pengamanan terbesar dalam sejarah pelantikan presiden Kolombia.
Sekitar 11.000 personel gabungan dari unsur militer dan kepolisian akan dikerahkan untuk melakukan pengamanan melalui operasi darat, laut, dan udara.
Sebelumnya, De la Espriella sempat mengusulkan agar pelantikan digelar di markas militer di Departemen Cauca yang dilanda konflik. Namun, usulan tersebut tidak mendapat persetujuan dari Presiden Gustavo Petro.
Ancaman Terhadap Presiden Terpilih
Sejumlah kelompok gerilyawan diketahui telah menyampaikan ancaman kepada De la Espriella. Presiden terpilih itu berencana menghentikan proses perundingan damai yang selama ini dijalankan pemerintahan Petro dengan berbagai kelompok bersenjata.
Situasi keamanan di Kolombia juga memburuk selama masa kampanye pemilihan presiden. Serangkaian aksi kekerasan, mulai dari ledakan bom, serangan drone bermuatan bahan peledak, hingga penyerangan terhadap aparat keamanan, terus meningkat.
Pada 2025, calon presiden dari kubu kanan sekaligus senator, Miguel Uribe Turbay, ditembak saat menghadiri sebuah acara politik di Bogota dan kemudian meninggal dunia.
De la Espriella sendiri beberapa kali mengklaim adanya rencana pembunuhan terhadap dirinya, sehingga pengamanan menjelang pelantikannya dilakukan dengan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi.



Comments are closed.