Mubadalah.id – Gaenie berjalan di antara kerumunan mahasiswa yang lalu-lalang. Langkahnya cepat menuju kos. Seorang teman lelaki memperlambat motor dan menawarkan boncengan. Ia tersenyum kaku lalu menolak dengan sopan.
Ia tahu selalu ada yang mengawasinya atau setidaknya membuatnya merasa diawasi. Ia sudah terlalu jengah jika harus selalu menghadapi keributan. Setahun terakhir, hidupnya menyempit ke dalam sebuah layar.
Begitu pintu kos tertutup, ponselnya bergetar. Ia bahkan tak perlu melihat nama pengirimnya. Lelaki dalam ponsel. Ia yang pernah menjadi satu-satunya orang yang paling terpercaya ketika baru sampai di kota itu.
Lelaki: “Sudah sampai?”
Lelaki: “Lama sekali balasnya.”
Gaenie melempar tas ke atas kasur. Ia membuang napas panjang lalu bersila.
Gaenie: “Baru sampai. Maaf.”
Lelaki: “Cantiknya.”
Sebuah tautan media sosial menyusul. Ia membuka video singkatnya bersama Neela pagi tadi.
Gaenie: “Neela mengajakku. Cuma velocity”.
Lelaki: “Kamu sadar nggak itu ditonton banyak orang?”
Gaenie: “Banyak juga yang unggah video serupa”
Kalimat pendek itu datar, tetapi Gaenie tahu ke mana arahnya.
Gaenie: “Bajuku tertutup.”
Lelaki: “Bukan soal baju.”
Titik tiga muncul bergelombang beberapa detik.
Lelaki: “Aku mencintaimu. Aku hanya tidak mau orang lain juga menikmati kecantikanmu.”
Gaenie menelan ludah. Kalimat manis itu terasa perih sampai ke dada.
Gaenie: “Nanti aku minta Neela menghapusnya.”
Lelaki: “Percuma. ada yang lain kan di situ?”
Gaenie mengerutkan kening.
Lelaki: “Yang tiba-tiba muncul itu siapa?”
Gaenie: “Oh, itu Bang Arya. Dia mau jemput Neela.”
Lelaki: “Bang? Sejak kapan sedekat itu?”
Hening beberapa detik.
Gaenie: “Kamu berlebihan.”
Lelaki: “Berlebihan kalau aku cemburu?”
Gaenie: “Tidak ada hubungan apa pun.”
Lelaki: “Siapa yang berani jamin?”
Gaenie: “Kok jadi begini?”
Lelaki: “Kamu yang begitu. Sok kegenitan.”
Gaenie: “Bahkan kami tidak bertegur sapa.”
Lelaki: “Alah, itu alasanmu saja.”
Gaenie: “Aku lelah.”
Lelaki: “Jadi kamu lelah denganku?”
Beberapa pesan masuk berturut-turut.
Lelaki: “Kenapa diam? “
Lelaki : “Jadi begini kelakuanmu di belakangku?”
Tiga jam kemudian pesan lain muncul.
Lelaki : “Angkat!”
Gaenie menatap layar tanpa bergerak.
Lelaki: “Kalau saja Bang Aryamu itu lihat video kita …”
Akhirnya ia membalas.
Gaenie: “Jangan bawa-bawa dia. Tidak ada apa pun di antara kami.”
Lelaki: “Kalau video itu tersebar, kamu tahu akibatnya.”
Gaenie: “Terserah.”
Lelaki: “Oh, Begitu?”
Lelaki: “Jangan salahkan aku kalau nanti terjadi apa-apa.”
Gaenie: “Maksudmu?”
Lelaki: “Kalau ada janin dalam rahimmu, jangan cari aku.”
Gaenie: “Kamu mau lari?”
Lelaki: “Aku tidak yakin itu anakku.” “Anak Bang Aryamu.” “Atau lelaki lain yang entah aku tidak tahu.”
Gaenie tercekat. Darahnya menjalar ke kepala. Ia melempar ponsel dan tangisnya pecah.
Bunyi ping terus menggedor telinganya seperti alarm bom waktu.
Setelah mengusap air mata, ia kembali meraih ponsel.
Lelaki: “Kenapa tidak dibalas?
Lelaki: “Sekali kirim, habis kamu.”
Gaenie: “Tidak ada orang lain.”
Lelaki: “Perempuan sepertimu selalu punya banyak alasan.”
Gaenie mengetik, lalu menghapusnya dan berulang terus. akhirnya ia hanya membalas; “Kamu keterlaluan.”
Lelaki: “Aku hanya ingin memastikan kebenarannya.”
Gaenie: “Apa maumu?”
Lelaki: “Buktikan. Datang besok ke kosanku.”
Gaenie: “Itu tidak akan membuktikan apa-apa.”
Gaeni berusaha melawan perasaan yang selama ini mengungkungnya. Ia tahu jika ia datang, meski melakukan apa pun yang diminta, keributan akan terus berulang.
Gaenie: “Kita cukup sampai di sini.”
Gelombang titik tiga muncul beberapa detik lamanya.
Lelaki: “Setelah semua yang kita jalani?” “Aku cuma takut kehilanganmu, Gae …” “Aku mencintaimu melebihi hidupku sendiri, Gae …”
Gaenie: “Jangan hubungi aku lagi.”
Gaenie segera menekan kontak Neela, tetapi panggilannya tak berdering. Neela pasti sudah tidur, batinnya.
Beberapa detik kemudian panggilan masuk bertubi-tubi.
47 panggilan tak terjawab. Dan ponsel itu menjadi cengkeraman tangan yang mengguncang bahunya.
Lelaki: “Tunggu akibatnya!”
Gaenie mematikan data seluler. Ia mulai memasukkan pakaian ke dalam tas ransel. Kaus yang baru dilipatnya kembali jatuh dan jatuh lagi. keringat dingin keluar dari tubuhnya.
Layar itu kembali berkedip. Gaenie menelan ludah. Jarinya ragu menyentuh layar, lalu buru-buru memasukkan charger, dompet, dan beberapa buku ke dalam tas. Beberapa saat kemudian ia mengaktifkan kembali data seluler. Ia harus memastikan Neela ada di rumah sebelum lelaki itu nekad mendatanginya, pikirnya.
Notifikasi bermunculan.
Satu.
Lima.
Puluhan.
Tangannya semakin dingin ketika membuka pesan terakhir.
Lelaki: “Masih ingat video ini?”
Notifikasi Anda telah ditambahkan dalam grup muncul di utas paling atas. Darah Gaenie seperti berhenti mengalir. Ia membuka daftar anggota; Bapak, Kakak, Paman, Beberapa dosen, Neela. Ponselnya terjatuh, tangannya mati rasa.
Pesan baru muncul.
Lelaki: Lihat! Sekali kirim, habis kamu.
Jantung Gaeni berdegup tak beraturan. tatapannya terkunci pada layar. Dalam kepalanya, dunia runtuh lebih dulu. Ia membayangkan video itu terkirim.
Satu pesan. Lalu diteruskan.
Satu orang.
Sepuluh.
Seratus.
Angka-angka itu melonjak dalam kepalanya.
Ia membayangkan satu orang menonton.
Lalu dua.
Lalu ratusan wajah yang tak dikenalnya.
Namanya berubah menjadi bisik-bisik. “… Mahasiswi itu …Yang di video itu…” Dadanya sesak. Ia teringat ibu dan bapaknya.
“Jaga diri baik-baik di rantauan, Nak.”
“Bapak akan bekerja lebih keras supaya bisa melihatmu wisuda.”
Kalimat itu seperti belati yang diputar pelan di dadanya.
Gaenie menekan tombol blokir. Layar bergeming. Ia terduduk di samping lemari.
Beberapa detik berlalu dalam menit yang panjang. Tidak ada notifikasi, tetapi suara lelaki itu sudah telanjur tinggal di kepalanya.
“Aku tidak yakin itu anakku …”
Gaenie memeluk lututnya dan membatin “Hanya denganmu …” lalu ia menutup telinganya rapat-rapat. Suara lelaki dalam ponsel itu terus berdengung dari dalam dirinya sendiri.
“Ping!” suara itu terdengar lagi. segera ia sentuh pola kunci.
Neela : “Ini video apa Gae?”
Gaenie tidak membuka pesan itu. Ia mematung sekian lama. Ransel dalam gendongannya terjatuh, dan bahkan ia tak menyadarinya. []
Indramayu, 05 Maret 2026





Comments are closed.