Mubadalah.id – Belum genap satu bulan memiliki akun Threads, saya menemukan pelbagai preseden menarik di sana. Aplikasi ini amat mirip dengan X (Twitter) tapi entah mengapa muatannya serasa lebih mengasikkan. Banyak informasi, tips, dan tentu saja humor receh. Pun beragam utas-utas bahasan menarik terkait hubungan, keluarga, dan sejawatnya.
Salah satunya datang dari akun @masfiqqqq pada 28 Maret 2026 silam. Dalam utasnya, ia mempertanyakan ulang mengapa lelaki tidak boleh bingung dan harus selesai dengan diri mereka sendiri. Maksud konteks lelaki di sana mengarah pada sebuah hubungan serius (menikah), atau mungkin sebatas pertalian kasih.
Taruhlah dalam bingkai pernikahan, saya mengerti mengapa lelaki tidak boleh bingung dan mesti selesai dengan diri sendiri. Bagaimanapun perempuan ingin hidup bersama dengan lelaki yang mampu (saling) membimbing diri dan keluarnya. Jika lelaki sendiri bingung, lantas apa yang perempuan harapkan darinya?
Konon, lelaki yang sudah “selesai” dengan dirinya yakni mereka tahu apa yang dimau, punya prinsip, dan tak gampang terbawa opini atau stereotipe orang lain. Soal finansial, itu bukan hanya tentang cukup atau tidaknya, sebab rezeki bisa dicari bersama, tapi arah dan kedewasaan itu mesti terbangun oleh setiap pribadinya.
Takaran Menjadi Ideal
Dalam utas itu, seorang dengan akun @safiitt memberi pandangan. Dalam hubungan yang membikin awet bukan hanya perasaan saja, tapi kejelasan, komunikasi, dan emotional clarity juga perlu terjaga. Jika sudah selesai dengan diri sendiri, lanjutnya, biasanya lebih stabil dan tidak mudah tarik-ulur.
Jika memang belum, bakal cenderung inkonsisten, kadang ada atau hilang. Bingung teralami itu wajar, tapi tak boleh memendamnya sendiri. Sebab, katanya, yang membikin capek itu bukan perasaannya, tapi ketidakjelasannya. Karena itu, sebelum memutuskan untuk berhubungan lebih serius (menikah), setiap dari kita mesti punya emotional stability bagi diri sendiri dulu.
Ragam pendapat dan argumen datang di kolom komentar itu. Berusaha mendedahkan takaran bagaimana agar lelaki benar-benar telah “selesai” dengan diri mereka sendiri. Tak ada format baku dalam menentu klasifikasi itu, artinya ia terbuka untuk mendapat perdebatan. Saya yakin, tak sedikit lelaki mengajukan keberatan akan hal ini. Saya paham, saya juga lelaki, pun paham apa yang perempuan inginkan.
Keinginan itu sedikitnya tergambar dalam buku Sebelum Janji Terucap (2011) gubahan Adriana S. Ginanjar. Dalam sebuah bab, Adriana menulis khusus mengenai “Harapan dalam Perkawinan”. Hakikatnya, formulasi harapan terbagi ke dalam pelbagai bentuk, mulai dari pencapaian bersifat materi hingga hal-hal bersifat non-materi. Memiliki pasangan hidup yang “selesai” dengan diri mereka sendiri bisa terartikan sebagai kemewahan non-materi. Ia tidak datang ujug-ujug, tapi terbentuk alamiah dari kesadaran tiap manusia.
Proporsi Universal
Pada dasarnya konsep “selesai dengan diri sendiri” tidak hanya terperuntukkan bagi lelaki saja. Ia universal dan mengikat pada setiap orang, termasuk perempuan juga. Mengapa perlu selesai dengan diri sendiri? Ini menjadi penting sebelum seseorang membangun keluarga. Kita tak ingin melihat luka-luka dalam keluarga akibat kecerobohan atau ketaksiapan salah satu pasangan hanya gara-gara ia masih belum kunjung beres dengan dirinya.
Selaiknya di atas, tak ada aturan tunggal dan baku soal proporsi ini, tapi seminimalnya lelaku maupun perempuan bisa bertanggung jawab atas diri sendiri. Itu hal paling dasar dalam kita membahas konteks pertanggung jawaban terhadap diri sendiri. Dengan itu, ia paham apa yang dimau dalam hidup.
Sebagaimana poin bahasan utama esai ini, hal yang sekiranya belum selesai ada baiknya selesaikan terlebih dahulu. Jangan belum-belum satu hal terselesaikan ingin mengerjakan hal lain, menunda menyelesaikan hal sebelumnya. Dalam ilmu manajemen dan psikologi hal itu mendapat sebutan prokrastinasi, yakni kebiasaan menunda-nunda pekerjaan.
Berbenah diri itu bagus, apalagi dalam rangka menuju ikatan suci perkawinan. Konsep “selesai dengan diri sendiri” bisa menjadi satu dari banyak jalan pembenahan itu. Sulit tersangkal, mereka yang berhasil menyelesaikan konsep itu cenderung mampu memandang diri secara positif dan lebih bisa memaknai hidup lebih objektif. Pelbagai pengganjal seakan mereka lucutkan bersamaan niat membuka lembaran baru dalam hidup.
Pengulangan Hidup
Tatkala seorang lelaki memilih hidup bersama pasangannya kelak sejatinya ia datang tidak dengan pengulangan. Ia harus menolak klise dengan benar-benar telah selesai dengan dirinya sendiri. Meramu harapan sesuai kemampuan demi masa depan pasangan dan keluarga.
Masalahnya, sejauh mana setiap lelaki sadar bahwa dirinya berada di fase “belum selesai” itu. Jika memang benar begitu, coba kita ubah premisnya, bukan tentang sudah atau belum selesai dengan diri sendiri, tetapi dengan ketidaktahuannya sebagian lelaki barang kali tengah berjuang tepat di fase medio keduanya. Belum sampai pada tahap “sudah selesai” tapi tidak juga stagnan di ranah “belum selesai”. Tengah-tengah begitu intinya.
Tak harus sempurna dalam berubah, sebab manusia dinamis, bisa saja kita sudah merasa “selesai” tapi justru di fase-fase setelahnya memunculkan sekian persoalan baru. Pada akhirnya, seseorang tahu apa yang ia inginkan tapi keadaan memaksa ia membuka lebar-lebar pintu keberterimaan.
Bagi yang belum selesai, maka selesaikanlah. Bagi yang sudah, pertahankanlah. Ingat, hidup kita dinamis. Yang semula kita anggap selesai, jangan-jangan akan kembali terulang ke garis start. Terus, hidup seakan terpenuhi dengan pengulangan demi pengulangan yang tak pernah akan membikin kita “selesai.” []





Comments are closed.