Arina.id – Situasi geopolitik di Timur Tengah pernah menempatkan sosok Umm Kulthum sebagai figur perempuan paling ditakuti Israel. Pada Juli 1949 Surat kabar Mesir Al Balagh melaporkan, radio pemerintah Zionis setiap hari bahkan menyiarkan ancaman “hukuman mati” terhadap Umm Kulthum.
Bagaimana Umm Kulthum begitu menakutkan bagi negeri Zionis itu? Jauh sebelum konflik berkepanjangan Palestina-Israel, suara Umm Kulthum memang telah lebih dulu menjadi jembatan penghubung antar wilayah Levant (Lebanon, Suriah, Yordania, Israel, dan Palestina).
Antara tahun 1929 dan 1935, ia mengunjungi Palestina setidaknya tiga kali, tampil di pusat-pusat budaya Jaffa, Haifa, dan Yerusalem. Kunjungan-kunjungan ini didokumentasikan oleh musisi legendaris Palestina Wasif Jawhariyyeh, sambil menyoroti periode kebangkitan budaya dan kehidupan artistik negerinya yang kaya.
Bepergian dengan kereta api antar kota, Umm Kulthum membawakan karya-karya awal seperti En Kont Asameh (Jika Aku Memaafkan). Konon, selama tur-tur inilah ia menerima gelar paling ikonik, ketika seorang penggemar berteriak: “Kawkab al-Sharq”, Bintang Timur.
Pengaruh Umm Kulthum yang begitu besar di Palestina rupanya membuat Israel ketar-ketir, terutama soal sikap dan pendirian yang jelas anti-Zionis dan anti-kolonial. Apalagi di saat bersamaan, sikap Umm Kulthum juga tegas menolak pemisahan seni dengan realitas gerakan politik (gerakan politik bisa melalui seni).
Ia pernah ‘ngamen’ keliling wilah Arab menggalang dukungan dana untuk membeli senjata bagi negaranya, Mesir, saat konflik Arab vs Israel memuncak. Sampai lahirlah lagu berjudul: Asbaha Andi Alana Bunduqiyah (Aku Sekarang Memiliki Senapan).
Dituduh melakukan kejahatan oleh Israel
Israel pernah menuduh Umm Kulthum memobilisasi moral publik Arab dan mendukung tentara Arab selama perang 1948 terhadap Israel melalui konser dan lagu-lagunya. Meskipun “hukuman” yang dilaporkan ini kemudian dibatalkan setelah perjanjian gencatan senjata 1949 yang menandai akhir perang Arab-Israel.
Saat itu negeri Zionis menganggap konser Umm Kulthum sebagai sebuah preseden berbahaya: otoritas Israel memandang pengaruh budaya sebagai ancaman keamanan, bukan sekadar hiburan. Namun, justru setelah kekalahan perang pada 1967, yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai Naksa, kehidupan politik Umm Kulthum memasuki babak paling dramatis.
“Saya menolak untuk menyerah pada keputusasaan setelah Naksa pada tahun 1967. Saya hanya punya dua pilihan: tetap diam dan mundur ke sudut kehancuran psikologis, atau maju dengan senjata saya – suara saya – dan memberikan semua upaya yang saya bisa untuk pertempuran. Saya memilih yang kedua,” katanya dalam sebuah wawancara dengan majalah Al-Hilal pada Oktober 1971.

Sebuah iklan tahun 1935 di surat kabar Palestina Al-Difa, dengan judul “Perayaan lagu dan kegembiraan di kota-kota Palestina,” mempromosikan konser Umm Kulthum di Yerusalem, Jaffa, dan Haifa (Media sosial)
Dia kemudian meluncurkan kampanye penggalangan dana besar-besaran untuk mendukung pembangunan kembali militer Mesir, dan menggambarkan dirinya sebagai orang yang sedang menjalankan “misi nasional”. Misi itu mengikutinya ke berbagai panggung di seluruh dunia Arab, hingga sampai ke teater Olympia di Paris pada November 1967, di mana ketegangan mencapai titik puncaknya.
Konser itu sendiri luar biasa – sejarawan Namik Sinan Turan mencatat bahwa direktur Olympia, Bruno Coquatrix, mengundang Umm Kulthum atas desakan Presiden Charles de Gaulle, yang dilaporkan hadir dalam acara tersebut.
Penyiar Radio Mesir, Jalal Moawad, memperkenalkannya dengan mengatakan: “Hari ini, Umm Kulthum akan bernyanyi di Paris, dan besok di Yerusalem yang diduduki.” Direktur teater di Paris sempat bergegas ke belakang panggung dalam keadaan panik, ketakutan pada dampak politiknya.
Namun Umm Kulthum tetap teguh pada pendiriannya. Ia berkukuh sedang menjalankan misi nasional dan memperingatkan direktur teater: “Jika ini mempermalukan Anda, kami akan berkemas dan pergi.” Sampai akhirnya ia memenangkan kebuntuan tersebut.
Operasi ‘Mata Sapi’
Berdasarkan dokumen intelijen Inggris dan AS yang telah dideklasifikasi, buku berbahasa Arab berjudul: Umm Kulthum and the Mossad: Secrets of Operation Cow’s Eyes, karya jurnalis Tawhid Magdy merinci bagaimana intelijen Israel memantau Umm Kulthum sebagai bagian dari operasi rahasia.
Buku tersebut menceritakan bagaimana agen-agen Israel melacak secara ketat aktivitas penggalangan dananya, memata-matai rumahnya di Kairo, berupaya menanam alat penyadap, dan mencari cara untuk mengintimidasi Umm Kulthum agar menghentikan dukungan finansialnya untuk tentara Mesir.
Laporan intelijen yang dikutip dalam buku tersebut menunjukkan bahwa dia berhasil mengumpulkan cukup uang untuk membiayai pembelian 12 tank modern atau lima jet tempur.
Buku tersebut lebih lanjut menjelaskan bagaimana badan intelijen asing Mossad memasukkan Umm Kulthum ke dalam apa yang disebut “daftar likuidasi” dan berencana melenyapkannya, termasuk upaya menempatkan seorang agen Yunani yang menyamar sebagai perawat untuk mengeksploitasi kondisi lutut kronisnya dengan tujuan mematikan. Operasi tersebut dilaporkan gagal, tetapi peristiwa itu menggarisbawahi kedudukannya sebagai pilar perlawanan Arab.
Pada tahun 2020, Kota Lod dan Haifa Palestina memutuskan untuk menamai jalan-jalan dengan nama Umm Kulthum sebagai simbol hidup berdampingan, sebuah rencana yang memicu penentangan keras. Para kritikus menuduhnya memiliki pandangan anti-Israel atau menyanyikan lagu berjudul “Bantai orang Yahudi”.
Sebenarnya, kontroversi tersebut berpusat pada lagu Asbaha Andi Alana Bunduqiyah (Aku Sekarang Memiliki Senapan), yang ditulis oleh penyair Suriah Nizar Qabbani dan digubah oleh penyanyi Mesir Mohammed Abdel Wahab pada 1968. Liriknya tidak mengandung diksi pembantaian Yahudi, melainkan bicara tentang nuansa perlawanan, kehilangan, dan perampasan.
Lirik: Nizar Qabbani
Musik: Mohammed Abdel Wahab (1968)
“Sekarang aku punya senapan, bawalah aku ke Palestina bersamamu.
Ke bukit-bukit kesedihan, seperti wajah Maria Magdalena.
Ke kubah-kubah hijau dan batu-batu para nabi.
Selama 20 tahun, aku telah mencari tanah dan identitas.
Mencari rumahku, yang ada di sana.
Mencari tanah airku yang dikelilingi pagar.
Mencari masa kecilku dan teman-teman di lingkungan sekitarku.
Sejak aku memegang senapan, Palestina hanya berjarak beberapa meter.
Oh pemberontak… di Yerusalem, Hebron, Beisan, dan Betlehem.
Maju… maju ke Palestina, satu-satunya jalan adalah melalui moncong senapan…”
(Terjemahan oleh Majd Asadi)
Sepanjang kariernya, Umm Kulthum bekerja dengan seniman Yahudi Mesir, termasuk komposer luar biasa Dawood Hosni, yang lahir dengan nama David Haim Levy. Salah satu teman terdekatnya adalah aktris Yahudi Raqiya Ibrahim.
Pada awal 1970-an, kesehatannya memburuk. Selama penampilan terakhirnya dalam Laylat Hob (Malam Cinta), para musisi memperhatikan bahwa suaranya—yang biasanya sangat kuat—bergetar mulai rapuh. Ketika tirai ditutup untuk terakhir kalinya, “kesunyian yang memekakkan telinga” memenuhi panggung.
Setengah abad setelah kematiannya, Umm Kulthum tetap lebih dari sekadar penyanyi. Ia adalah gema di radio, simbol Palestina kosmopolitan yang hilang, dan pengingat bahwa di Timur Tengah, sebuah lagu bisa sekuat benteng.
Sumber: Middle East Eye (MeE)





Comments are closed.