KABARBURSA.COM — PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mencatat lonjakan laba bersih signifikan sepanjang 2025. Namun, di balik kinerja tersebut, terdapat faktor non-operasional yang menjadi penopang utama.
“Meski dampak konsolidasi GMR bersifat one–off, kami menilai prospek kinerja DEWA ke depan tetap positif,” tulis Tim Riset Stockbit Sekuritas dalam riset terbarunya yang dikutip Minggu, 29 Maret 2026.
Sepanjang 2025, DEWA membukukan laba bersih sebesar Rp4,3 triliun, melonjak tajam dibandingkan Rp55 miliar pada 2024. Bahkan, capaian ini jauh melampaui ekspektasi pasar yang mencerminkan lonjakan yang tidak biasa dalam kinerja tahunan perusahaan.
Lonjakan laba ini terutama dipicu oleh pengakuan negative goodwill dari akuisisi PT Gayo Mineral Resources (GMR) yang mencapai Rp4,5 triliun. Komponen ini berasal dari selisih antara nilai wajar aset GMR yang mencapai Rp6,7 triliun dengan biaya perolehan yang lebih rendah.
Dalam laporan keuangan DEWA, komponen tersebut tercatat sebagai pendapatan lain-lain dan menjadi faktor dominan yang mendorong kenaikan laba bersih.
Di luar faktor tersebut, kinerja operasional DEWA menunjukkan perbaikan yang cukup solid. Core profit perusahaan tercatat meningkat menjadi Rp573 miliar sepanjang 2025, dibandingkan Rp65 miliar pada tahun sebelumnya.
Peningkatan ini ditopang oleh ekspansi margin laba kotor yang mencapai 15,1 persen sepanjang tahun, naik dari 7,3 persen pada 2024. Pada kuartal IV 2025, margin bahkan meningkat menjadi 16,6 persen.
Kenaikan margin ini tidak lepas dari strategi peningkatan porsi pengerjaan secara in-house. Langkah ini terbukti mampu menekan beban subkontraktor secara signifikan, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Volume pekerjaan juga menunjukkan tren positif, dengan kenaikan material moved serta pertumbuhan pendapatan yang sejalan dengan ekspansi proyek.
Ke depan, prospek DEWA dinilai masih terbuka. “Kami memperkirakan core profit DEWA meningkat menjadi Rp910 M pada 2026(+59 persen YoY), didorong meningkatnya porsi pengerjaan in–house menjadi 100 persen,” tulis Tim Riset Stockbit Sekuritas.
Proyeksi tersebut juga didukung oleh tambahan volume kontrak sebesar 50 juta bcm dari proyek non-Bengalon milik PT Kaltim Prima Coal (KPC), yang diharapkan memperkuat kinerja operasional ke depan.
Selain itu, perkembangan GMR menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati investor. “Investor dapat mencermati perkembangan eksplorasi GMR, yang akan menjadi sumber recurring income bagi DEWA setelah memasuki tahap produksi,” tulis riset tersebut.
Saat ini, kontribusi GMR masih bersifat non-operasional. Namun dalam jangka panjang, aset tersebut berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi perusahaan. “Manajemen DEWA menyampaikan bahwa GMR ditargetkan berproduksi mulai 2029,” tulis Stockbit.
Dengan demikian, kinerja DEWA saat ini mencerminkan dua dinamika yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, lonjakan laba besar didorong oleh faktor akuntansi yang bersifat sementara. Di sisi lain, perbaikan bisnis inti mulai terlihat melalui peningkatan margin dan efisiensi operasional.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.