Arina.id – Hampir 95.000 hektare lahan hutan terbakar di Indonesia hanya sepanjang Juli 2026, belum dihitung Agustus dan awal September tahun yang sama. Sementara data Kementerian Kehutanan lebih luas lagi, diperkirakan sekitar 202.000 hektare lahan telah terbakar secara nasional hingga akhir Juli.
Bencana kebakaran hutan memang langganan Indonesia setiap kemarau tiba. Dampak kabut asab kebakaran hutan dan lahan ini bahkan dirasakan negara tetangga, Malaysia. Kabar terbaru, negeri Jiran itu meminta izin ke Jakarta akan menyemai awan agar segera turun hutan untuk melesaikan masalah kebakaran.
Dikutp dari Anadolu, pada Kamis kemarin, 3 September 2026, memulai operasi pembenihan awan selama tiga hari di negara bagian Sarawak untuk meningkatkan cadangan air di sejumlah bendungan sekaligus mengurangi kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut.
Operasi itu menyasar bendungan pembangkit listrik tenaga air Batang Ai, Bakun, dan Murum. Penerbangan berikutnya direncanakan dilakukan di atas sejumlah daerah tangkapan air yang dinilai penting di seluruh Sarawak, menurut laporan harian The Star.
Wakil Perdana Menteri Sarawak Douglas Uggah Embas mengatakan operasi tersebut bertujuan meningkatkan ketinggian air waduk sebagai langkah antisipasi menghadapi kondisi yang berpotensi lebih panas dan kering pada Oktober 2026.
Upaya tersebut dilakukan ketika negara tetangga Indonesia menghadapi musim kemarau yang berlangsung lebih panjang dari biasanya. Fenomena El Nino turut menciptakan kondisi yang mendukung terjadinya kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan.
Sarawak merupakan negara bagian Malaysia yang terletak di Pulau Kalimantan dan berbatasan darat dengan wilayah Kalimantan di Indonesia. Malaysia juga telah meminta persetujuan Jakarta untuk melakukan operasi penyemaian awan dengan menggunakan wilayah udara Indonesia, seiring upaya pemerintah mengatasi kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran di kawasan tersebut.
Penyemaian awan dilakukan dengan menyebarkan partikel berbahan dasar garam ke awan yang memenuhi kondisi tertentu untuk merangsang turunnya hujan. Metode tersebut dapat membantu meningkatkan pasokan air sekaligus mengurangi polutan yang terdapat di udara.
Sebelumnya, cara berbeda untuk mengatasi kebakaran hutan disampaikan Presiden RI Prabowo Subianto. Pada Agustus 2026 lalu, presiden justru meminta tim penerjun payung Tentara Nasional Indonesia (TNI) ikut serta dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Ia menyebut tim freefall, teknik terjun bebas militer TNI, jangan hanya muncul dalam upacara-upacara saja.
“Jadi freefall jangan hanya untuk upacara saja, tapi ini sekarang kita pakai untuk bantu rakyat,” kata Prabowo saat memimpin rapat penanganan karhutla di Pekanbaru, Riau pada Senin, 24 Agustus 2026 seperti disiarkan Sekretariat Presiden.
Prabowo menyampaikan, penerjun yang ditugaskan harus memakai alat pelindung diri, khususnya jika mereka berada dekat titik api. “Jadi tim yang terdekat sama titik api atau titik panas harus pakai APD,” ucap mantan menteri pertahanan tersebut.
Ia pun berharap ada dokumentasi jika tim freefall ini bisa dikerahkan membantu penanganan karhutla. “Itu kalau bisa you praktikkan, saya minta didokumentasikan ya. Ini saya kira pertama kali kita lakukan dalam sejarah ya,” ucap Ketua Umum Partai Gerindra.





Comments are closed.