Fri,15 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Manspreading dan Ketimpangan Ruang Berbasis Gender di Ruang Publik 

Manspreading dan Ketimpangan Ruang Berbasis Gender di Ruang Publik 

manspreading-dan-ketimpangan-ruang-berbasis-gender-di-ruang-publik 
Manspreading dan Ketimpangan Ruang Berbasis Gender di Ruang Publik 
service

Bincangperempuan.com- B’Pers pernahkah kamu menggunakan transportasi umum? Pasti pernah dong. Transportasi umum seperti kereta dan bus atau trans kota memang jadi pilihan yang ekonomis. Tetapi saat kamu duduk, lelaki di sebelahmu malah melebarkan kedua kakinya sehingga kamu jadi kesempitan. 

Nah, ini tuh namanya manspreading, yaitu tindakan seorang laki-laki yang duduk di transportasi umum, dengan kedua kaki terbuka lebar, sehingga orang yang duduk di sebelahnya memiliki ruang yang lebih sempit.

Posisi duduk seperti ini sering dibenarkan dengan alasan organ reproduksi laki-laki. Katanya, duduk “ngangkang” itu soal kenyamanan tubuh. Akhirnya, kamu jadi segan menegur, takut dianggap tidak paham atau berlebihan. Tapi, benarkah alasan itu bisa dijadikan pembenaran?

Baca juga: Ketika Performative Male Jadi Ajang Kontes 

Manspreading Apakah Itu?

Istilah manspreading sebenarnya tergolong baru. Melansir dari Mentalzon, istilah ini mulai muncul di internet pada awal 2013, setelah kelompok feminis menyuarakan kekhawatiran terhadap perilaku tersebut. Awalnya, manspreading diperdebatkan sebagai bentuk superioritas laki-laki, karena memperlihatkan area selangkangan sehingga dianggap menyampaikan pesan dominasi seksual.

Perdebatan ini kemudian meluas. Banyak orang menilai manspreading sebagai bentuk ketidakhormatan berbasis gender. Tetapi pembahasannya bukan hanya tentang dominasi laki-laki. Yang dipersoalkan justru ruang publik yang diambil ketika laki-laki duduk dengan kaki terbuka lebar.

Posisi duduk ini sering membuat laki-laki mengambil lebih dari satu ruang duduk. Akibatnya, orang lain harus rela mendapat ruang yang lebih sempit, terutama di tempat-tempat umum yang padat seperti bus, atau kereta.

Fenomena laki-laki yang mengambil porsi duduk lebih dari yang seharusnya ini bahkan sudah dianggap seperti wabah. Saking meluasnya, kata manspreading sampai masuk dalam daftar kata populer versi Collins English Dictionary.

Perilaku ini jelas tidak sopan dan menjengkelkan, terlebih ketika gerbong kereta penuh. Meski begitu, masih ada laki-laki yang mengklaim sains sebagai pembela. Mereka berargumen bahwa mengambil ruang lebih banyak bukanlah soal kuasa atau agresi seksual, tetapi kebutuhan biologis agar tubuh bisa merasa nyaman.

Bisakah Dibenarkan dengan Alasan Biologis?

Pembenaran biologis ini banyak diangkat oleh media seperti Vice dan The Independent. Dalam artikelnya, Vice mengutip pandangan ahli biomekanika tulang belakang yang menjelaskan bahwa variasi struktur panggul, sudut tulang paha, serta distribusi beban tubuh dapat memengaruhi kenyamanan posisi duduk seseorang. Pada sebagian laki-laki, duduk dengan kaki rapat disebut dapat menimbulkan tekanan pada area panggul dan otot tertentu, sehingga posisi duduk dengan kaki lebih terbuka dianggap lebih nyaman.

Sementara itu, The Independent juga memuat penjelasan dari tenaga medis yang menyoroti perbedaan anatomi antara tubuh laki-laki dan perempuan, khususnya pada lebar panggul dan sudut tulang paha. Faktor-faktor ini disebut dapat membuat posisi duduk dengan lutut rapat terasa kurang ergonomis bagi sebagian laki-laki.

Sebagian besar artikel yang membahas topik ini justru berfokus pada upaya menjelaskan dan membenarkan perilaku laki-laki ketika duduk di ruang publik. Pembahasan mengenai anatomi, kenyamanan tubuh, hingga penjelasan ilmiah lainnya mendominasi narasi.

Secara sederhana, argumen-argumen tersebut menyimpulkan bahwa manspreading dipandang sebagai konsekuensi dari kondisi fisik, bukan semata-mata sikap tidak sopan.

Namun, pembahasan mengenai bagaimana seharusnya setiap individu, terlepas dari gendernya masih kurang ditegaskan. Diskusi juga jarang menempatkan manspreading dalam konteks sosial dan budaya. Padahal dalam budaya patriarki, laki-laki kerap disosialisasikan untuk memproyeksikan maskulinitas. rasa percaya diri atau kehadiran tubuh secara lebih dominan. Pola ini dapat tercermin, secara sadar maupun tidak, termasuk dalam cara mereka menempati ruang saat duduk. 

Minimnya diskusi tentang aspek sosial budaya, mempersempit manspreading lebih sebagai persoalan kebutuhan biologis laki-laki, alih-alih sebagai isu tata krama di ruang publik. Padahal, transportasi umum merupakan ruang bersama yang menuntut setiap penggunanya untuk saling menyesuaikan diri demi kenyamanan bersama.

Baca juga: Mansplaining dan Dampaknya Terhadap Perempuan

Manspreading Bukan Pembenaran untuk Tidak Sopan di Ruang Publik

Dengan demikian, membahas manspreading semata-mata sebagai soal anatomi tanpa melihat dampaknya terhadap orang lain justru berisiko mengaburkan persoalan utamanya, yaitu ketimpangan dalam penggunaan ruang publik. Terutama bagi perempuan, jarak tubuh yang terlalu dekat dan tidak diminta ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, terintimidasi, bahkan pengalaman yang dirasakan sebagai pelecehan.

Tak jarang perempuan memilih diam, menahan tubuh, atau bahkan berdiri, tetapi karena merasa tidak aman untuk menegur. Ketidaknyamanan ini lalu dianggap biasa, seolah memang sudah sewajarnya perempuan menyesuaikan diri di ruang publik. 

Situasi ini berbanding terbalik ketika perempuan yang melebarkan kaki saat duduk; tindakan tersebut pasti dinilai tidak sopan, memancing tatapan tidak pantas, atau bahkan berujung pada teguran dari penumpang lain.

Padahal, transportasi umum adalah ruang bersama. Kenyamanan tidak seharusnya dibangun dengan mengorbankan rasa aman orang lain. Karena itu, manspreading perlu dipahami sebagai persoalan etika berbagi ruang dan kesadaran sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.