Wilayah Pasemah, Sumatera Selatan, memiliki jejak peradaban megalitikum, yang tersebar di lanskap seluas 8.000 hektar. Membentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam hingga Kabupaten Empat Lawang. Peradaban megalitikum ini berkembang sejak periode 2.500 hingga 1.500 tahun Sebelum Masehi. Mario Andramartik, lelaki kelahiran Lahat pada 31 Juli 1970, terpesona dengan peninggalan mahakarya tersebut. Lelaki yang memiliki nama kelahiran Maryoto, yang lama bekerja di kapal pesiar Holland America Line, sejak tahun 2009 memutuskan untuk mempelajari dan menggali peradaban megalitikum Pasemah. Dia mengunjungi berbagai situs dan belajar banyak dengan para arkeolog yang melakukan penelitian megalitikum Pasemah. Di antaranya (alm) Nurhadi Rangkuti, Budi Wiyana, Siswanto, Wilston Douglas Mambo, Ramli, Iskandar, (alm) Kristantina Indriastuti, Sigit Eko Prasetyo, Muhammad Ruly Fauzi, Mubarak Andi Pampang, Wahyu Rizky Andhifani, dan lainnya. Berbagai buku dia baca, seperti “Megalithic Remains in South Sumatra” karya van der Hoop yang dicetak tahun 1932, “Arca-Arca Megalitik Pasemah Sumatra Selatan” karya Rr. Triwurjani, “Megalitik Pasemah Warisan Budaya Penanda Zaman” yang ditulis Rr. Triwurjani, Nurhadi Rangkuti, Nasruddin, Annissa M Gultom, Rumaejani Setyorini dan Riri Fahlen, “The History of Sumatra” karya Willian Marsden, serta Jurnal Arkeologi Siddhayatra dan hasil penelitian arkeologi Balai Arkeologi Sumatera Selatan – Balai Arkeologi Sumatera Selatan yang diintegrasikan ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “Selain mengunjungi setiap situs megalitik Pasemah, saya juga mengunjungi situs megalitik di Lampung (Batu Berak, Batu Bedil, Pugung Raharjo), Gunung Padang (Cianjur), Lebak (Banten), Cipari (Kuningan, Jabar), Batu Kenong (Bondowoso) hingga Easter Island Chile,” terangnya, saat mendampingi tim Mongabay Indonesia mengunjungi beberapa situs megalitikum Pasemah di Kabupaten…This article was originally published on Mongabay
Mario Andramartik dan Jejak Peradaban Megalitikum Pasemah
Mario Andramartik dan Jejak Peradaban Megalitikum Pasemah





Comments are closed.