Di alam liar, hewan mengembangkan berbagai cara untuk menghindari predator, mulai dari kecepatan lari, kamuflase, hingga gigitan berbisa. Namun sejumlah spesies memilih pendekatan yang berbeda, yaitu berpura-pura sudah mati. Perilaku ini disebut thanatosis, dan salah satu contoh paling banyak dipelajari datang dari ular hognose timur (Heterodon platirhinos) di Amerika Utara.
Ular hognose timur termasuk dalam genus Heterodon, yang juga mencakup ular hognose barat (Heterodon nasicus) dan ular hognose selatan (Heterodon simus). Ketiganya memiliki perilaku bertahan yang serupa, tetapi ular hognose timur menjadi spesies yang paling sering dijadikan subjek penelitian karena responsnya yang konsisten dan mudah diamati di laboratorium maupun lapangan. Perilaku berpura-pura mati pada spesies ini pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada tahun 1955, dan sejak itu terus menjadi bahan kajian dalam bidang perilaku hewan.

Ular hognose timur hidup di area berpasir, padang rumput, dan hutan terbuka di Amerika Utara bagian timur dan tengah, mulai dari wilayah selatan Kanada hingga Florida dan Texas. Ukurannya tergolong sedang, dengan panjang dewasa sekitar 50-115 sentimeter, dan dikenal karena moncongnya yang sedikit terangkat, digunakan untuk menggali tanah berpasir saat mencari mangsa berupa katak dan kodok, termasuk spesies yang beracun bagi banyak predator lain. Karena pola makannya yang spesifik ini, ular hognose timur berperan penting dalam mengendalikan populasi amfibi di habitatnya.
Tahapan Sebelum “Mati”
Perilaku berpura-pura mati pada ular hognose timur tidak muncul begitu saja. Sebelum sampai ke tahap ini, ular biasanya mencoba menggertak lebih dulu, yaitu memipihkan leher hingga menyerupai kepala ular berbisa serta mendesis keras. Jika predator tetap mendekat dan melakukan kontak fisik, barulah ular masuk ke fase thanatosis.
Pada fase ini, ular berbalik ke posisi telentang sambil menggeliat tidak beraturan, kemudian melepaskan cairan berbau busuk dari kelenjar dekat kloaka, kadang disertai muntah atau defekasi. Mulutnya terbuka, lidah terjulur lemas, dan dalam beberapa kasus pembuluh darah di rongga mulut pecah sehingga darah menggenang, memperkuat kesan bahwa ular tersebut sudah mati. Detak jantung dan laju napasnya menurun drastis selama proses ini berlangsung, yang dapat bertahan dari beberapa menit hingga lebih dari satu jam tergantung tingkat ancaman yang dirasakan.
Hal yang menarik, jika seseorang membalik tubuh ular ke posisi normal saat ia sedang “berakting”, ular akan segera membalikkan dirinya kembali ke posisi telentang. Detail kecil ini menunjukkan bahwa posisi telentang merupakan bagian penting dari keseluruhan tampilan, bukan sekadar efek samping ketakutan. Sebuah penelitian bahkan mencatat kasus di mana ular hognose barat melukai dirinya sendiri secara tidak sengaja selama proses berguling dan menggeliat ini, menunjukkan betapa intensnya respons fisik yang terlibat.

Salah satu studi paling sering digunakan mengenai perilaku ular ini adalah penelitian yang terbit di jurnal Animal Behaviour, yang menguji efek simulasi predator dan paparan terhadap mata buatan pada anak ular hognose timur berusia 13 hari, dengan mengamati durasi dan berhentinya kondisi tonic immobility. Studi itu juga mencatat bahwa jika predator melakukan kontak fisik, ular hognose sering kali langsung masuk ke fase berpura-pura mati sambil menggeliat, buang air, dan mengeluarkan cairan dari tubuhnya, disertai penurunan detak jantung.
Penelitian lanjutan menemukan bahwa suhu lingkungan dan ukuran tubuh ular turut memengaruhi pilihan antara berpura-pura mati atau melarikan diri. Ular yang lebih kecil atau berada di suhu lebih rendah, yang membatasi kecepatan geraknya, cenderung lebih sering memilih thanatosis dibanding kabur.
Dari sudut pandang evolusi, para peneliti menjelaskan bahwa strategi ini berhasil karena kebanyakan predator terpicu untuk menyerang oleh gerakan mangsanya. Dengan diam total, ular seolah menghilang dari perhatian predator. Selain itu, banyak predator lebih menyukai mangsa segar dan enggan memakan bangkai, sehingga ular yang tampak “membusuk” cenderung ditinggalkan begitu saja.
**
Referensi:
Burghardt, G.M. & Greene, H.W. (1988). “Predator simulation and duration of death feigning in neonate hognose snakes.” Animal Behaviour, 36(6), 1842-1844.
https://doi.org/10.1016/S0003-3472(88)80127-1
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0003347288801271





Comments are closed.