Sat,8 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Ketika Wilayah Hilang Ancam Keberadaan Masyarakat Adat

Ketika Wilayah Hilang Ancam Keberadaan Masyarakat Adat

ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat
Ketika Wilayah Hilang Ancam Keberadaan Masyarakat Adat
service

Berbagai tekanan tidak hanya mengancam eksistensi masyarakat adat,  juga pengetahuan yang terwarisi dari generasi ke genarasi. Sebab, perlindungan tidak hanya mencakup ruang hidup, juga tradisi, bahasa, hingga nilai-nilai yang hidup bersamanya. “Yang perlu dijaga bukan hanya wilayahnya, juga praktik baik di dalamnya, termasuk bahasa, istilah, dan nilai-nilai yang menyertainya. Karena di situlah sistem pengetahuan kami hidup dan hubungan manusia dengan alam dibentuk,” kata Wiwin Indiarti, perempuan  Adat Osing Banyuwangi, dalam diskusi Peluncuran Data Nasional Indigenous Peoples and Local Communities Conserved Areas and Territories (ICCAs) 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/26). Baginya, ancaman terbesar masyarakat adat saat ini bukan hanya kehilangan wilayah, juga terputusnya pengetahuan yang selama ini terwarisi dari generasi ke generasi. Ketika ruang hidup hilang, katanya, yang ikut lenyap bukan sekadar hutan, kebun, atau sumber penghidupan. Bahasa, istilah lokal, nilai-nilai budaya, hingga cara masyarakat memahami hubungan dengan alam pun perlahan dapat ikut hilang. “Padahal, di situlah sistem pengetahuan kami hidup,” katanya. Di tengah berbagai tantangan itu, regenerasi menjadi persoalan yang makin menjadi tantangan bagi masyarakat adat.  Tak  mudah, katanya,  mengajak generasi muda untuk terlibat dalam kerja-kerja kebudayaan maupun advokasi masyarakat adat. “Jangankan mengajak mereka masuk ke urusan advokasi, mengajak anak-anak muda bergerak di luar hal-hal yang mereka anggap menyenangkan saja sudah sangat sulit,” katanya. Padahal, sejumlah anak muda Osing yang bergabung sejak duduk di bangku sekolah menengah atas telah menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang baik tetapi  jumlahnya masih terbatas. Untuk itu, perlu pendekatan baru agar generasi muda kembali mengenali identitas budaya mereka. “Kalau identitas ke-Osingan itu hilang, maka yang hilang bukan…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.