Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Masa Depan NU Ditentukan Kader yang Mampu Membaca Tantangan dan Kebutuhan Umat

Masa Depan NU Ditentukan Kader yang Mampu Membaca Tantangan dan Kebutuhan Umat

masa-depan-nu-ditentukan-kader-yang-mampu-membaca-tantangan-dan-kebutuhan-umat
Masa Depan NU Ditentukan Kader yang Mampu Membaca Tantangan dan Kebutuhan Umat
service

Aceh Utara, NU Online

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh, Tgk H Faisal Ali, menegaskan bahwa masa depan Nahdlatul Ulama (NU) bergantung pada kualitas kader yang mampu membaca tantangan zaman sekaligus memahami kebutuhan masyarakat. Menurutnya, kaderisasi harus menjadi prioritas agar NU tetap relevan dan mampu memberikan manfaat di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.

Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka Pendidikan Dasar-Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) Angkatan XII di Dayah Ashhabul Yamin Al-Aziziyah, Gampong Tumpok Mesjid, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (3/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung hingga 5 Juli itu diikuti 251 peserta, terdiri atas 212 laki-laki dan 39 perempuan dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh. Jumlah tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam penyelenggaraan PD-PKPNU di Aceh.

Dalam arahannya, ulama yang akrab disapa Abu Sibreh itu menekankan bahwa seluruh kader NU harus memiliki visi perjuangan yang sama dengan organisasi secara nasional. Namun, pelaksanaan program tetap harus disesuaikan dengan karakter masyarakat dan budaya lokal.

“Gerakan Nahdlatul Ulama harus memiliki visi yang sama secara nasional. Akan tetapi, pelaksanaan program harus mampu membaca karakter masyarakat dan memperkuat budaya lokal sebagai bagian dari dakwah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah,” ujarnya.

Menurut Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh tersebut, Aceh memiliki tradisi keislaman yang kuat sebagai warisan para ulama. Tradisi itu perlu terus dijaga sebagai modal sosial dan kultural dalam membangun masyarakat yang religius, moderat, dan tetap terbuka terhadap perkembangan zaman.

Abu Sibreh menjelaskan bahwa tantangan NU saat ini jauh berbeda dibanding masa lalu. Perkembangan teknologi informasi, media digital, dinamika sosial, hingga perubahan pola pikir generasi muda menuntut organisasi menghadirkan pendekatan dakwah dan pelayanan yang lebih adaptif.

“Kader NU tidak cukup hanya memahami organisasi. Mereka harus mampu membaca perubahan zaman, memahami kebutuhan masyarakat, kemudian menghadirkan solusi yang tepat melalui program-program organisasi yang benar-benar dirasakan manfaatnya,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi informasi sebagai bagian dari strategi organisasi. Menurutnya, teknologi dapat memperkuat koordinasi, mempercepat komunikasi, dan meningkatkan efektivitas pelaksanaan program hingga tingkat ranting.

“Peran teknologi harus dimanfaatkan secara maksimal agar pelayanan organisasi lebih cepat, koordinasi lebih efektif, dan realisasi program dapat berjalan sesuai kebutuhan masyarakat. Jangan sampai NU tertinggal dalam memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kemaslahatan umat,” tegasnya.

Meski demikian, modernisasi tidak boleh menghilangkan jati diri NU yang berakar pada tradisi keilmuan ulama, akhlak, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Karena itu, kader dituntut mampu memadukan kemajuan teknologi dengan penguatan nilai-nilai keislaman dan budaya lokal.

Menurutnya, keberhasilan kaderisasi tidak diukur dari banyaknya peserta, melainkan dari lahirnya kader yang berintegritas, memiliki kapasitas kepemimpinan, loyal terhadap organisasi, dan peka terhadap persoalan masyarakat.

Menutup arahannya, Abu Sibreh berharap peserta memanfaatkan PD-PKPNU sebagai ruang belajar sekaligus membangun jejaring antarkader.

“NU akan tetap besar apabila kader-kadernya terus belajar, menjaga tradisi ulama, mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta hadir memberikan solusi atas persoalan masyarakat. Itulah hakikat kader penggerak Nahdlatul Ulama,” pungkas Lem Faisal.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.