Sun,26 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Ormas Islam Perlu Ubah Strategi Dakwah Agar Gen Z Tak Makin Jauh dari Agama

Ormas Islam Perlu Ubah Strategi Dakwah Agar Gen Z Tak Makin Jauh dari Agama

ormas-islam-perlu-ubah-strategi-dakwah-agar-gen-z-tak-makin-jauh-dari-agama
Ormas Islam Perlu Ubah Strategi Dakwah Agar Gen Z Tak Makin Jauh dari Agama
service

Jakarta, NU Online

Generasi Z (Gen Z) memiliki tingkat religiusitas yang lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini perlu menjadi perhatian para ulama dan organisasi keagamaan, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). Temuan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) di Hotel Bidakara Jakarta Selatan, Pada Ahad (26/7/2026).

“Berdasarkan data riset yang dikeluarkan, dua hingga tiga juta data riset yang dikumpulkan sejak 1999, saya menemukan pola yang menunjukkan bahwa Generasi Z, yakni mereka yang lahir pada rentang 1981 hingga 1997, cenderung kurang religius dibandingkan generasi yang lebih tua,” kata Burhanudin.

Menurutnya, tingkat religiusitas tersebut diukur melalui berbagai indikator. Pertama, religiusitas dilihat dari seberapa sering seseorang menjadikan agama sebagai dasar dalam mengambil keputusan. 

“Gen Z sekarang semakin jarang menggunakan agama dalam mengambil keputusan,” kata Guru Besar Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Kedua, aktivitas dalam organisasi keagamaan. Burhan menjelaskan, dibandingkan generasi sebelumnya, Gen Z kini lebih banyak terlibat dalam organisasi berbasis hobi atau komunitas, seperti K-Pop, daripada organisasi keagamaan.

“Gen Z itu sekarang lebih banyak aktif di organisasi seperti hobi, K-Pop. Sementara responden yang lebih tua umumnya aktif di majelis taklim, NU, HMI, PMII, IMM. Gen Z kita makin jarang yang aktif di organisasi-organisasi semacam ini,” ujarnya.

Selain itu, survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia juga menunjukkan bahwa Gen Z semakin kurang percaya terhadap otoritas maupun hierarki. Menurutnya, kecenderungan tersebut dilihat dari munculnya berbagai fenomena sosial yang kini berkembang seperti fenomena tidak menikah dan childfree (tidak mau punya anak).

“Gen Z dalam survei-survei kita makin kurang percaya terhadap otoritas atau hierarki. Dan itu mungkin menjelaskan mengapa mereka punya pandangan untuk tidak menikah. Kalaupun menikah, mereka enggak mau punya anak atau memilih childfree,” jelasnya.

Ia juga menyinggung fenomena yang sebelumnya disampaikan Menteri Agama mengenai peningkatan kasus pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan pernikahan di sejumlah kota.

“Termasuk fenomena kumpul kebo. Di beberapa kota, ditemukan banyak anak yang didaftarkan ke sekolah tanpa NIK karena mereka lahir tanpa melalui lembaga pernikahan,” katanya.

Menurut Burhanuddin, fenomena tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga merupakan tren global yang terjadi di dunia.

“Jadi, ada satu fenomena yang menarik, yang ketika saya lihat secara komparatif, itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Ini terjadi di seluruh dunia,” ujarnya.

Ia kemudian merujuk pada tesis dan temuan riset sosiologis The Decline of Religion karya Ronald Inglehart dan Pippa Norris yang membahas penurunan peran agama di berbagai negara.

“Jadi, bukan hanya Islam yang mengalami kemerosotan, tetapi banyak agama di seluruh dunia yang disebabkan oleh lahirnya generasi baru,” ungkapnya.

Burhanuddin menjelaskan bahwa Generasi Z lahir dalam situasi dunia yang relatif lebih aman sehingga lebih mengedepankan ekspresi diri dan cenderung kurang mempercayai otoritas maupun hierarki.

“Nah, otoritas dan hierarki ini biasanya adalah agama. Jadi ini yang menjelaskan mengapa banyak gereja yang tutup di negara-negara Barat,” tuturnya.

Oleh karena itu, ia menilai MUI dan organisasi-organisasi keagamaan perlu memberi perhatian serius terhadap tren tersebut dengan menyiapkan mitigasinya. Jika tidak ada Langkah ke arah sana, ia khawatir organisasi keagamaan akan ketinggalan zaman.

Misalnya, lanjut Burhan, terkait dengan pola dakwah keagamaan, organisasi keagamaan perlu menyesuaikan diri dengan karakteristik Generasi Z agar tetap mampu menjangkau mereka.

“Jadi, saya kira mimbar agama sudah berubah. Dakwah keagamaan harus kita modifikasi sesuai dengan perkembangan Gen Z supaya Gen Z tidak makin jauh dari agama,” katanya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.