Wed,26 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Satu FYP, Sejuta Realita

Satu FYP, Sejuta Realita

satu-fyp,-sejuta-realita
Satu FYP, Sejuta Realita
service

Kalau semua orang buka aplikasi yang sama malam itu, kenapa yang mereka lihat dan yang mereka percaya bisa berbeda-beda?



PinterPolitik.com

Gerald dan Alvina duduk semeja di satu warung kopi, Jumat malam, sama-sama menunggu pesanan sambil buka HP. Layar mereka menyala berdampingan, sama-sama membuka For You Page TikTok.

Di layar Gerald, muncul potongan video seorang pejabat yang salah bicara, dibungkus keterangan sinis dan kolom komentar yang sudah penuh cemooh. Di layar Alvina, muncul potongan video yang persis sama, tapi dibungkus pembelaan dan kolom komentar yang sudah penuh pembenaran.

Keduanya tidak sedang membaca kejadian yang sama lalu menyimpulkan sendiri-sendiri. Mereka menerima simpulan yang sudah jadi, sebelum sempat berpikir.

Ini bukan cuma soal FYP menyodorkan berita yang beda-beda. FYP menyodorkan opini yang sudah matang, diramu dari sumber yang kebanyakan sudah punya kecenderungan sendiri jauh sebelum masuk algoritma.

Pola ini bukan cuma milik Gerald dan Alvina. Ini terjadi tiap malam, ke jutaan HP, ke siapa pun yang yakin sedang melihat “kenyataan” yang sama dengan orang di sebelahnya.

Tapi apakah ini cuma soal gelembung informasi biasa, sesuatu yang sudah lama dibahas dan mungkin terlalu dibesar-besarkan? Atau ada mekanisme yang lebih dalam, yang membuat FYP bukan sekadar penyaring berita, tapi mesin penyusun pendapat?

Opini Jadi Duluan, Faktanya Menyusul

Konsekuensi paling mendasar dari opini yang datang pra-jadi begini adalah orang lama-lama berhenti membedakan penilaiannya sendiri dari penilaian mesin. Beda pendapat mulai terasa seperti kesalahan fakta, bukan sekadar beda cara pandang.

Dua orang bisa menonton siklus berita yang sama, lalu pulang membawa cerita yang tak bisa disatukan. Bukan karena salah satu berbohong, tapi karena mereka memang tak pernah ditunjukkan cerita yang sama.

Celah ini gampang dimanfaatkan. Feed yang sudah menyortir orang berdasarkan kecenderungan yang ada sebelumnya adalah target empuk buat pesan politik yang disesuaikan atau kemarahan yang sengaja dipantik, karena kerja penyortirannya sudah selesai duluan.

Sosiolog Jerman Jürgen Habermas, yang pada 1962 justru menuduh media massa komersial merusak ruang publik borjuis, di tahun 2022 balik arah. Dalam esainya soal transformasi struktural jilid dua, ia menulis bahwa fungsi penyaringan jurnalisme profesional yang dulu ia kritik justru jadi syarat yang hilang buat ruang publik yang sehat.

Yang hilang, menurut Habermas, bukan kesopanan berdebat, tapi kerangka acuan bersama; kemampuan warga mengenali bahwa mereka sedang membahas persoalan yang sama, di saat yang sama. Tanpa itu, tidak ada dasar buat legitimasi apa pun yang dihasilkan lewat diskusi publik.

Peneliti media Tarleton Gillespie punya jawaban kenapa kerangka acuan itu hilang. Algoritma tidak menemukan publik yang sudah ada lalu menyortirnya, ia menghitung satu publik terhitung (calculated public) untuk tiap pengguna, lalu menyodorkannya seolah itu satu-satunya kenyataan.

Gerald dan Alvina tidak sedang berbeda pendapat soal topik yang sama. Mereka masing-masing diberi tahu bahwa topik yang mereka lihat itulah yang sedang “rame”, padahal keduanya sedang melihat dua topik berbeda.

Eli Pariser menyebut mekanisme ini filter bubble, dengan algoritma berperan sebagai editor tak kasat mata yang menyunting apa yang boleh sampai ke layar tanpa pernah menampakkan diri. Karena bahan bakunya, konten media yang sudah dipenuhi kecenderungan tertentu sebelum diunggah, editor tak kasat mata ini tidak cuma menyaring fakta, ia ikut menyodorkan simpulan.

Perlu diakui, sejumlah peneliti seperti Axel Bruns menilai istilah filter bubble kelewat sering dijadikan kambing hitam, dengan bukti empiris yang masih lemah. Faktor lain seperti media partisan dan perilaku elite politik, menurut kritik ini, sering luput dari sorotan gara-gara semua kesalahan ditimpakan ke algoritma.

Tapi kalau publik yang terhitung ini benar-benar terjadi di skala jutaan pengguna, apa wujudnya ketika mereka semua keluar rumah dan bertemu di ruang yang sama? Dan siapa sebenarnya pegang kendali atas mesin yang menyusun opini itu, platformnya sendiri, atau ada pihak lain yang ikut menariknya?

Ketika Kendalinya Berpindah Tangan

Peneliti Merlyna Lim sudah memotret pola ini di Indonesia sejak 2017, jauh sebelum FYP jadi kata sehari-hari. Ia menyebutnya algorithmic enclave, bukan sekadar publik yang terpecah, tapi kelompok yang mengeras jadi saling bermusuhan karena masing-masing merasa pandangannya yang paling masuk akal.

Pola ini terlihat jelas dalam gelombang demonstrasi akhir Agustus 2025. Malam itu juga, TikTok memutuskan sendiri menutup sementara fitur Live-nya di Indonesia, dengan alasan menjaga keamanan di tengah eskalasi kekerasan unjuk rasa.

Sebulan berselang, giliran negara yang menekan balik. Komdigi menangguhkan izin operasi TikTok pada 3 Oktober 2025 karena platform itu dianggap tidak membuka data lengkap soal aktivitas Live selama demonstrasi, lalu mencabut penangguhan itu sehari setelah data diserahkan.

Dalam rentang enam minggu, editor tak kasat mata yang menyusun apa yang boleh dilihat publik berpindah tangan dua kali, dari korporasi ke negara, tanpa satu pun dari keduanya benar-benar mewakili publik itu sendiri. Mengatur algoritma, dengan begitu, tidak otomatis mengembalikan ruang publik yang hilang, ia cuma memindahkan siapa yang pegang kendali menyusunnya.

FYP tidak pernah jadi ruang publik seperti yang dibayangkan Habermas, karena ruang itu butuh kerangka acuan yang sama dan editor yang bisa dipertanggungjawabkan.

Indonesia baru saja membuktikan bahwa kendali atas kerangka itu bisa berpindah dalam hitungan hari, dari algoritma korporasi ke meja birokrasi, tanpa publik pernah benar-benar diberi kursi. (R100)


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.