Mubadalah.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya berpotensi besar menjadi ladang korupsi bagi sebagian pihak, namun juga berpeluang mencederai nilai-nilai keberlanjutan ekologis. Kita tahu, fenomena makanan MBG yang tidak termakan lalu berakhir di tempat sampah belakangan ini menyentak kesadaran publik.
Di satu sisi, program yang memangkas anggaran pendidikan ini dirancang untuk meningkatkan gizi anak-anak bangsa. Namun di lain sisi, realitas makanan MBG yang terbuang justru membuka ironi besar: ketika sebagian masyarakat masih kekurangan pangan, sebagian lainnya justru menyia-nyiakan makanan yang sudah tersedia.
Peristiwa ini bukan omong kosong, melainkan fakta di lapangan. Jika kalian membaca berita, di beberapa daerah, ada siswa-siswi yang enggan memakan MBG kemudian membuang makanan itu. Tak sedikit pula yang memakan namun tidak sampai habis. Selain itu juga ada pula wali murid di Kota Malang yang mengaku sudah empat kali membuang MBG karena trauma sebab anaknya pernah keracunan setelah menyantap MBG. Selain itu, ada pula SPPG yakni SPPG Mekarmukti yang buang limbah MBG ke sungai (Tempo, 2025).
Kejadian ini bukan sekadar persoalan teknis distribusi atau selera makan, tetapi merupakan potret kecil dari krisis global yang jauh lebih besar, yaitu krisis sampah makanan (food waste).
Sampah Makanan di Dunia
Secara global, masalah sampah makanan telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Organisasi Pangan Dunia (FAO) memperkirakan sekitar 30% makanan yang diproduksi di dunia hilang atau terbuang setiap tahun. Bahkan, laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa, di tahun 2022, lebih dari satu miliar porsi makanan terbuang setiap hari, atau hampir seperlima dari total makanan yang tersedia bagi konsumen.
Jika terhitung secara keseluruhan, sekitar 1,3 miliar ton makanan menjadi sampah setiap tahun. Angka ini bukan hanya mencerminkan pemborosan sumber daya, tetapi juga menunjukkan kegagalan sistem pangan global dalam mendistribusikan makanan secara adil.
Indonesia sendiri berada dalam posisi yang cukup memprihatinkan. Data menunjukkan bahwa negara +62 termasuk salah satu negara dengan tingkat pemborosan makanan tertinggi di dunia. Bahkan pernah menempati peringkat keempat secara global.
Merujuk pada beberapa hasil penelitian, salah satunya artikel yang Taufiq Immawan tuliskan di Jurnal UPN Veteran (2022), setiap tahunnya, Indonesia menghasilkan sekitar 23-48 juta ton sampah makanan, dengan angka per kapita mencapai 115–184 kilogram per orang per tahun.
Lebih ironis lagi, sampah makanan mendominasi komposisi sampah nasional, yakni mencapai sekitar 41,55% dari total sampah. Ini berarti hampir setengah dari sampah yang kita hasilkan sebenarnya adalah makanan yang seharusnya bisa terkonsumsi.
Dampak Sampah Makanan terhadap Lingkungan
Kondisi ini tidak bisa kita pandang remeh, karena sampah makanan memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Ketika makanan terbuang dan membusuk di tempat pembuangan akhir, ia menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang jauh lebih berbahaya daripada karbon dioksida.
Paul Polman, dalam opininya yang terbit di Reuters.com menyebut, secara global, sampah makanan berkontribusi sekitar 8–10% terhadap emisi gas rumah kaca. Meningkatnya emisi gas rumah kaca dapat menyebabkan pemanasan global, perubahan iklim, serta kenaikan permukaan laut.
Selain itu, makanan yang terbuang juga berarti pemborosan air, energi, lahan, dan tenaga kerja yang terpakai dalam proses produksinya. Dengan kata lain, setiap nasi yang kita buang bukan hanya kehilangan nilai pangan, tetapi juga membawa “jejak ekologis” yang besar.
Dalam konteks MBG, Kementerian Lingkungan Hidup memperkirakan potensi timbulan sampah makanan dari program ini mencapai 2.400 ton/hari atau 624.000 ton/tahun. Angka ini berdasarkan asumsi setiap siswa menghasilkan sampah sisa makanan 50-100 gram/hari dari MBG.
Fenomena makanan MBG yang terbuang seharusnya menjadi refleksi bersama. Mengapa makanan yang sudah tersedia dengan tujuan mulia justru tidak kita manfaatkan? Mengapa ada penerima MBG ogah memakan bahkan sekadar mencicipinya pun tak sudi? Sudah seberapa jauh keefektifan peran negara dalam memfasilitasi pengelolaan sampah makanan MBG?
Melihat realita ini, ada banyak faktor yang mungkin berperan. Mulai dari ketidaksesuaian menu dengan selera penerima, kurangnya edukasi tentang pentingnya menghargai makanan, trauma atas keracunan hidangan MBG, hingga lemahnya sistem distribusi dan pengawasan. Namun, apa pun penyebabnya, hasil akhirnya tetap sama. Makanan menjadi sampah jika tidak terkelola dengan baik dan tepat, serta lingkungan menanggung akibatnya.
Sudut Pandang Nasr: Krisis Spiritual
Untuk memahami persoalan ini lebih dalam, kita dapat menggunakan perspektif seorang tokoh Muslim yang memiliki perhatian besar terhadap isu ekologi, yaitu Seyyed Hossein Nasr. Nasr melihat krisis lingkungan modern, termasuk pemborosan makanan, sebagai akibat dari krisis spiritual manusia. Menurutnya, manusia modern telah kehilangan kesadaran sakral terhadap alam dan memandang dunia hanya sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai amanah dari Tuhan.
Dalam kerangka pemikiran Nasr, makanan bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari karunia Ilahi yang harus dihormati. Ketika makanan dibuang begitu saja, sesungguhnya yang terjadi bukan hanya pemborosan materi, tetapi juga bentuk ketidaksyukuran terhadap nikmat Tuhan.
Cendekiawan asal Iran ini mengkritik cara pandang modern yang memisahkan antara etika, spiritualitas, dan praktik sehari-hari, sehingga tindakan seperti membuang makanan dianggap sepele, padahal memiliki implikasi moral dan ekologis yang besar.
Ketika distribusi makanan tidak kita sertai kesadaran etis dan spiritual, program yang semestinya membawa maslahat berubah menjadi paradoks. Memberi makan sekaligus merusak tatanan ekologis. Di sinilah dosa spiritual itu menemukan bentuk konkretnya, yakni kegagalan manusia menjalankan peran sakralnya sebagai penjaga bumi.
Membaca Fenomena MBG
Pendekatan ini relevan untuk membaca fenomena MBG. Program tersebut pada dasarnya adalah upaya menghadirkan keadilan sosial melalui distribusi pangan. Namun, tanpa kesadaran spiritual dan etika konsumsi, program sebaik apa pun bisa berujung pada pemborosan dan berujung pada menumpuknya sampah makanan. Dalam bahasa Nasr, solusi krisis lingkungan tidak cukup hanya dengan pendekatan teknis, tetapi harus kita sertai dengan “re-spiritualisasi” cara pandang manusia terhadap alam dan kehidupan.
Dalam tradisi Islam sendiri, larangan berlebih-lebihan (israf) sudah sangat jelas. Al-Qur’an, dalam surat Al-A’raf ayat 31, menegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan, termasuk dalam hal konsumsi makanan. Ini menunjukkan bahwa isu sampah makanan bukanlah masalah baru, melainkan telah menjadi perhatian etis dalam ajaran agama samawi sejak lama. Namun, tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai tersebut dihidupkan kembali dalam konteks modern yang serba cepat dan konsumtif.
Oleh karena itu, penanganan sampah makanan—termasuk dalam program MBG—harus kita lakukan secara komprehensif. Pertama, diperlukan perbaikan sistem, mulai dari perencanaan menu, distribusi, hingga pengawasan agar makanan benar-benar terserap. Kedua, perlu adanya edukasi kepada penerima manfaat tentang pentingnya menghargai makanan dan dampak lingkungan. Ketiga, inovasi pengelolaan sampah makanan, seperti pengolahan menjadi kompos atau energi.
Namun yang tak kalah penting adalah perubahan cara pandang. Kita perlu melihat makanan bukan sekadar sebagai barang konsumsi, tetapi sebagai amanah yang memiliki nilai sosial, ekologis, dan spiritual. Dengan cara pandang ini, membuang makanan bukan lagi hal biasa, melainkan tindakan yang harus dihindari.
Kesadaran Baru yang Lebih Bertanggungjawab
Fenomena MBG dan sampah makanan sejatinya adalah cermin dari cara kita memperlakukan nikmat. Apakah kita akan terus mengabaikannya hingga krisis lingkungan semakin parah, atau mulai membangun kesadaran baru yang lebih bertanggungjawab? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan bukan hanya masa depan program pangan, tetapi juga masa depan bumi yang kita huni bersama.
Keberhasilan program MBG tidak hanya terukur dari berapa banyak makanan yang tersalurkan, tetapi juga dari seberapa bijak makanan tersebut kita manfaatkan. Di sinilah pentingnya sinergi antara kebijakan yang tepat, manajemen yang baik dan tidak ugal-ugalan, serta kesadaran moral masyarakat. Tanpa itu semua, makanan akan terus terbuang, lingkungan akan terus terbebani, dan kita akan terus mengulangi kesalahan yang sama. []





Comments are closed.