Thu,30 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Membaca Wajah Masyarakat Jawa Sebelum Islam dalam Buku Sunan Kalijaga

Membaca Wajah Masyarakat Jawa Sebelum Islam dalam Buku Sunan Kalijaga

membaca-wajah-masyarakat-jawa-sebelum-islam-dalam-buku-sunan-kalijaga
Membaca Wajah Masyarakat Jawa Sebelum Islam dalam Buku Sunan Kalijaga
service

Mubadalah.id – Salah satu bagian penting dalam buku Sunan Kalijaga: Biografi, Sejarah, Kearifan, Peninggalan dan Pengaruh-pengaruhnya karya Yudi Hadinata adalah pembahasan mengenai kondisi masyarakat Jawa sebelum kedatangan Islam.

Melalui subbab ini, penulis mengajak pembaca memahami latar sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat Jawa yang kemudian menjadi ruang dakwah para wali, termasuk Sunan Kalijaga.

Menurut Yudi Hadinata, Islam tidak datang ke tanah Jawa dalam keadaan masyarakat yang kosong dari tradisi dan keyakinan. Sebaliknya, masyarakat Jawa telah memiliki sistem kepercayaan yang mengakar kuat selama berabad-abad.

Karena itu, memahami sejarah penyebaran Islam di Jawa tidak dapat dilepaskan dari pemahaman terhadap kebudayaan yang telah lebih dahulu hidup di tengah masyarakat.

Penulis membagi perkembangan masyarakat Jawa sebelum Islam ke dalam dua periode besar. Pertama adalah masa sebelum pengaruh Hindu-Buddha, sedangkan periode kedua merupakan masa ketika budaya Hindu dan Buddha telah berkembang di Nusantara dan memberi warna baru terhadap kehidupan masyarakat Jawa.

Periode Pertama

Pada periode pertama, masyarakat Jawa hidup dengan sistem kepercayaan yang bercorak animisme dan dinamisme. Animisme merupakan keyakinan bahwa roh nenek moyang atau roh halus memiliki pengaruh terhadap kehidupan manusia.

Sementara dinamisme adalah kepercayaan bahwa benda-benda tertentu memiliki kekuatan gaib yang dapat membawa manfaat maupun bencana.

Yudi Hadinata menjelaskan bahwa pandangan hidup masyarakat Jawa pada masa itu membentuk hubungan yang erat antara manusia, alam, dan dunia adikodrati. Alam sebagai ruang yang dipenuhi kekuatan-kekuatan sakral yang harus dihormati.

Karena itu, berbagai benda seperti keris, tombak, dan senjata pusaka dipercaya memiliki kekuatan magis sehingga diperlakukan secara istimewa.

Kepercayaan tersebut tidak hanya berhenti sebagai warisan sejarah. Penulis menunjukkan bahwa jejak animisme dan dinamisme masih dapat ditemukan dalam sebagian masyarakat Jawa hingga saat ini.

Praktik membawa benda-benda yang dianggap keramat, penggunaan jimat untuk berdagang, mencari pasangan hidup, maupun berbagai ritual tertentu menjadi contoh bagaimana kepercayaan lama tetap bertahan meski masyarakat telah memeluk agama-agama besar.

Dalam pandangan penulis, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perubahan agama tidak selalu menghapus seluruh kebudayaan sebelumnya. Sebaliknya, sebagian tradisi tetap bertahan dan beradaptasi dengan sistem keyakinan yang baru. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu karakter khas masyarakat Jawa.

Periode Kedua

Memasuki periode kedua, masyarakat Jawa mulai menerima pengaruh Hindu dan Buddha yang datang dari India. Namun, sebagaimana dijelaskan Yudi Hadinata, masuknya kedua agama tersebut tidak menghilangkan sepenuhnya kepercayaan lama. Yang terjadi justru proses percampuran budaya atau akulturasi, sehingga unsur-unsur lama dan baru hidup berdampingan.

Pengaruh Hindu-Buddha membentuk sistem budaya masyarakat Jawa secara lebih luas. Penulis menilai budaya Jawa pada masa itu memiliki sifat terbuka terhadap berbagai ajaran baru.

Pandangan bahwa setiap agama mengandung kebaikan membuat masyarakat relatif mudah menerima pengaruh luar tanpa harus meninggalkan seluruh tradisi yang telah dimiliki sebelumnya.

Sikap terbuka tersebut melahirkan corak kebudayaan Jawa yang sinkretis, yakni perpaduan berbagai unsur kepercayaan dalam satu sistem kehidupan. Karakter inilah yang kemudian banyak para sejarawan membahasnya ketika menjelaskan perkembangan kebudayaan Jawa hingga masa Islam.

Salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus dalam buku ini adalah berkembangnya konsep kekuasaan yang bersifat teokratis pada masa Hindu-Buddha. Raja memiliki kedudukan sakral sebagai titisan dewa. Konsep dewa-raja menjadi dasar legitimasi kekuasaan kerajaan-kerajaan di Jawa pada masa itu.

Untuk memperkuat penjelasannya, Yudi Hadinata mengutip pendapat sejarawan Onghokham yang menyatakan bahwa dalam kerajaan tradisional, agama menjadi sebagai alat legitimasi kekuasaan.

Konsep raja titising dewa membuat rakyat memandang kepatuhan kepada raja sebagai bagian dari jalan menuju keselamatan. Akibatnya, kehidupan budaya, politik, dan agama berpusat pada raja, istana, dan keraton sebagai simbol puncak peradaban.

Perkembangan Masyarakat Jawa

Selain membahas sistem kepercayaan, buku ini juga menguraikan perkembangan kehidupan sosial masyarakat Jawa pada masa Hindu-Buddha.

Penulis menyebut setidaknya terdapat tiga kerajaan besar yang berkembang di Jawa, yakni Taruma, Ho-Ling, dan Kanjuruhan. Keberadaan kerajaan-kerajaan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jawa telah memiliki sistem pemerintahan, ekonomi, dan kebudayaan yang cukup maju sebelum Islam datang.

Dalam bidang ekonomi, pertanian dan perdagangan menjadi dua aktivitas utama masyarakat. Kedua sektor tersebut berperan penting dalam membangun hubungan antardaerah serta memperkuat integrasi masyarakat di berbagai wilayah Nusantara.

Sementara itu, perkembangan seni dan sastra juga mendapat perhatian besar. Seni musik, tari, wayang, lawak, hingga tari topeng berkembang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Berbagai bentuk kesenian tersebut banyak melalui relief-relief candi yang hingga kini masih dapat kita jumpai sebagai bukti kemajuan peradaban Jawa pada masa Hindu-Buddha.

Melalui uraian tersebut, Yudi Hadinata menunjukkan bahwa masyarakat Jawa sebelum Islam telah memiliki fondasi budaya yang sangat kuat.

Tradisi, adat istiadat, sistem kepercayaan, seni, hingga struktur politik telah berkembang jauh sebelum dakwah Islam berlangsung. Kondisi inilah yang kemudian menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para wali dalam menyebarkan ajaran Islam.

Subbab ini menjadi pengantar penting untuk memahami mengapa pendekatan dakwah Sunan Kalijaga lebih mengedepankan dialog budaya daripada konfrontasi. Sebab, Islam tidak hadir untuk menghapus seluruh tradisi masyarakat Jawa, melainkan berdialog dengan budaya yang telah hidup sebelumnya.

Dengan memahami latar sejarah tersebut, pembaca dapat melihat bahwa keberhasilan dakwah Sunan Kalijaga tidak terlepas dari kemampuannya membaca karakter masyarakat Jawa yang telah lama terbentuk melalui proses sejarah yang panjang. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.