Akar dan tunggul pohon hangus masih tersisa, menyembul dari atas lahan gambut. Batang-batang pohon menghitam jadi arang. Bertebaran di sepanjang hamparan area yang terbakar. Bekas kebakaran dalam kawasan perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH) PT Sekato Pratama Makmur (SPM) ini begitu tampak jelas, Selasa (12/5/26). Walau tanah gambut itu mulai tertutup tumbuhan hijau seperti pakis, jejak kebakaran di konsesi hutan tanaman industri (HTI) grup usaha APP Sinar Mas itu tak terbantahkan. Di tepi lahan kebakaran, masih ada bekas gubuk kayu walau hanya kerangka. Diduga, pondok itu ditempati selama pemadaman berlangsung. Plastik minuman kemasan juga berserakan di sekitarnya. Di depannya, terpacak spanduk dengan rangka baja ringan berisi peringatan kawasan rawan terbakar, dilarang menyalakan api beserta ancaman pidana. Bagian paling atas ada dua kotak merah berisi tulisan berwarna putih: PT SPM dan MPA. Ia mengapit logo Polda Riau dan TNI Angkatan Laut. Hamparan hutan gambut terbakar di konsesi SPM sudah berkanal sepanjang batas kebakaran. Penjelajahan pesawat tanpa awak juga menemukan satu kanal yang membelah areal itu. Pengukuran menggunakan citra satelit Sentinel-2, luas kebakaran sekitar 99,7 hektar. Temuan ini saat Mongabay bersama Walhi Riau ke lapangan untuk memverifikasi sebaran titik api (hotspot) di empat perizinan, Mei lalu. Sejak awal 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah melanda Riau. Laporan Sipongi, situs pemantauan karhutla Kementerian Kehutanan (Kemenhut), luas kebakaran per 24 Juni sudah mencapai 15.318,02 hektar, atau 70% dari tahun lalu. Analisa satelit NASA FIRMS yang Walhi Riau olah, sepanjang Januari – Mei, terdapat 450 titik titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan di atas 70%.…This article was originally published on Mongabay
Menelusuri Karhutla Riau di Hutan Alam dan Gambut Perusahaan
Menelusuri Karhutla Riau di Hutan Alam dan Gambut Perusahaan





Comments are closed.