Kawanan gajah sumatera beriringan membelah keheningan barisan eukaliptus di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Jambi, awal April lalu. Mereka melintasi bentang alam Bukit Tigapuluh, yang masuk area perkebunan kayu, PT Wirakarya Sakti (WKS). Gajah-gajah itu tak menemukan satu pun tanaman yang mereka kenal, apalagi untuk mereka makan. Rombongan gajah hanya terus berjalan sembari meninggalkan jejak kotoran di tanah yang dulu adalah rumah mereka. “Dari atas sana. Di situ ada jalan, lalu mereka turun ke bawah ini. Kalau saya hitung, ada sekitar 15 gajah. Ada anak gajah,” kata Adi, warga Muara Kilis, 18 Mei lalu. Dalam beberapa tahun terakhir, hutan jalur gajah ini berubah. Dari beragam tumbuhan jadi tanaman seragam. Barisan eukaliptus kian meluas hingga menjangkau luar konsesi inti perusahaan. Meski lanskap berubah, kawanan gajah tetap melintasi wilayah yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh ini. Tak pelak, konflik gajah dan manusia pun terjadi. “Karena makanan gajah sudah tidak ada, akhirnya masuk permukiman. Ada menyasar ke tanaman sawit. Lahan dua hektar jadi korban,” kata Ahmad Susanto, warga Lubuk Mandarsah, Kecamatan Tengah Ilir, Tebo. Dia menilai, ekspansi WKS turut mengganggu habitat gajah di Bentang Alam Tigapuluh ini. Masyarakat sekitar merasakan dampaknya. Potensi konflik antara manusia dan gajah kian membesar. Kawanan gajah pernah menyasar perkebunan sawit Ahmad. “Tahun 2017, baru setahun habis. Tanam lagi, 2018, habis. Terus saya cari modal, sampai akhirnya 2019, di-stacking (proses pembersihan dan persiapan lahan dengan alat berat) sama WKS, ditanam eukaliptus. Sempat ribut saat itu,” katanya. Peta Temuan Ekaliptus dan Wilayah Jelajah Gajah di…This article was originally published on Mongabay
Menelusuri Kemitraan Hutan di Jambi, Berisiko bagi Habitat Gajah
Menelusuri Kemitraan Hutan di Jambi, Berisiko bagi Habitat Gajah





Comments are closed.