Mubadalah.id – Di Hari Raya Idulfitri, umat muslim merayakan hari kemenangan atas sebulan penuh dari usahanya untuk menjadi yang terbaik di siang dan malam selama Ramadan. Sehingga tak ayal, umat muslim merayakannya dengan baju baru, bagi-bagi Tunjangan Hari Raya (THR), dan berbagai macam euphoria lainnya sebagai bentuk rasa syukur (self reward).
Namun di balik itu semua, masih terdapat perosalan yang mengiris hati sekaligus menyisakan persoalan cara pandang kita sebagai umat muslim. Ketika masih banyak saudara kita yang seiman tidak sempat merayakan hari kemenangan dengan segala euphoria-nya. Karena terdapat berbagai macam kondisi yang tidak bisa terelakkan, seperti faktor ekonomi.
Sebab tidak bisa kita mungkiri, tidak sedikit di hari kemenangan, kita melihat—bahkan mungkin merasakannya. Bahwa tidak ada yang bisa kita rayakan kecuali kemenangan yang sifatnya immateriil seperti kesehatan atau yang semacamnya. Namun kemenangan immateriil saja, mungkin tidak cukup bagi masyarakat kita yang memiliki budaya perayaan meriah di hari kemenangan.
Sebut saja, ketika kondisi ekonomi kita lebih rendah dari orang lain di saat hari kemenangan tiba. Mungkin sekali lagi, saya ucapkan bahwa tidak ada yang patut kita rayakan kecuali kemenangan yang sifatnya immateriil. Sehingga kondisi yang sedemikian adanya, memiliki urgensinya tersendiri. Setidaknya kita bisa merayakan kemenangan untuk diri kita sendiri. Yaitu melalui cara pandang sosio-teologi kita terhadap kondisi yang sedang kita rasakan.
Ilmu Pengetahuan Adalah Segalanya
Mungkin saja, kondisi ekonomi kita saat ini yang tidak sebanding dengan kondisi orang lain. Kenyataan ini merupakan hasil dari ketidakmampuan kita sendiri dalam di bidang ekonomi. Tentu saja, pernyataan ini bukan sebagai bentuk untuk menyalahkan diri yang mengakibatkan perasaan rendah diri. Akan tetapi, pernyataan tersebut memiliki sandaran teologisnya, sebagaimana yang Nabi tegaskan: “Man Arada Dunya Fa’alaihi bil-‘ilmi, barang siapa yang menghendaki (kesuksesan) di dunia, maka harus dengan ilmu (pengetahuan).”
Tentu saja, dalam konteks ini, maksud “kehidupan dunia” di sini mungkin saja sektor ekonomi yang maju dan berkembang. Namun masih terdapat kemungkinan lain atas tafsir dari diksi “kehidupan di dunia” dalam hadist tersebut. Mungkin saja ia memiliki tafsir lain yang lebih luas. Namun pada saat ini, kita merasakan bahwa sektor ekonomi telah menentukan kedudukan sosial manusia di dunia. Dengan kata lain, kehidupan seseorang yang dianggap berhasil atau tidak, mungkin pertama-tama dilihat dari sisi ekonominya.
Terlepas dari luasnya akan tafsir diksi “kehidupan di dunia” dalam Hadist di atas. Ketidakahlian kita dalam suatu bidang pengetahuan dapat kita jadikan sebagai bahan evaluasi kita untuk menjumput kesuksesan selanjut dalam menjalani hidup di dunia.
Perilaku Kita Sebagai Jalan Rezeki Kita
Namun bagaimana jika kondisi sulit tetap datang, meskipun kita sudah memiliki atau setidaknya berusaha untuk belajar tentang pengetahuan ekonomi?
Kemungkinan yang kedua, mungkin saja hal itu karena perbuatan kita sendiri. Sebab sikap mengevaluasi perilaku diri, setidaknya dapat tergambarkan dua sisi kausalitasnya masing-masing. Pertama, secara teologis, apa yang kita lakukan dapat menentukan jalan rezeki kita, sebagaimana Hadist yang berbunyi: “Inna-l’abda Layahrumu Al-rizqu Bi-dzanbi Yushibuhu, sesungguhnya menjadi suatu penghalang rezeki seorang hamba adalah dosanya”.
Namun, selain perilaku kita yang bersifat destruktif memiliki sandaran teologisnya, dalam perspektif analisis sosial-budaya ia juga berperan sebagai faktor penghambat terbukanya peluang rezeki. Dalam kehidupan sosial misalnya, tindakan yang merusak seperti ketidakjujuran, kemalasan, hilangnya etos kerja, hingga rusaknya kepercayaan akan menggerus modal sosial yang menjadi fondasi relasi ekonomi.
Padahal, kepercayaan (trust) dan integritas merupakan prasyarat utama dalam membangun jaringan, kerja sama, dan kesempatan. Sehingga ketika seseorang kehilangan legitimasi moral di tengah masyarakatnya, maka secara tidak langsung ia telah mempersempit akses terhadap berbagai peluang yang sebenarnya terbuka.
Dengan demikian, terhambatnya rezeki tidak hanya dapat kita pahami sebagai konsekuensi spiritual atas dosa saja, tetapi juga sebagai akibat logis dari rusaknya relasi sosial yang menopang keberlangsungan hidup manusia.
Sikap Tawakkal sebagai Jalan Terakhir untuk Legowo
Namun, apabila dua faktor di atas telah kita upayakan secara maksimal—baik dari sisi spiritual maupun ikhtiar sosial—tetapi kehidupan ekonomi kita belum juga menunjukkan perkembangan yang signifikan, maka di situlah ruang tawakkal menemukan relevansinya.
Sebab dari apa yang telah tergariskan oleh Allah adalah takdir terbaik di antara sekian banyak kemungkinan yang ada. Sebagaimana Imam al-Ghazali ingatkan dalam Ihya Ulum ad-Din, bahwa tidak ada kemungkinan yang lebih baik daripada realitas yang telah terjadi (laisal-imkan abda‘u mimma kan).
Al-Qur’an pun menegaskan dimensi ketetapan tersebut dalam firman-Nya: Inna Allaha faḍḍhala ba‘ḍakum ‘alā ba‘ḍin fi ar-rizq, bahwa Allah telah melebihkan sebagian manusia atas sebagian yang lain dalam hal rezeki. Tentu saja, ayat ini bukan untuk melemahkan usaha kita, melainkan untuk meneguhkan kesadaran bahwa hasil akhir tidak sepenuhnya berada dalam genggaman manusia.
Oleh karena itu, tawakkal bukanlah sikap pasrah tanpa usaha, melainkan puncak dari ikhtiar yang disertai dengan kelapangan hati. Dalam bahasa sederhana: ojo lesu, ojo mangkel, dan tetap positive thinking. Sebab pada akhirnya, keberhasilan tidak selalu terukur dari capaian material dengan segala kemeriahannya, namun juga bisa dari terlihat kemampuan kita untuk menerima, mensyukuri, dan memaknai setiap proses sebagai kemenangan—setidaknya bagi dirinya sendiri. []





Comments are closed.