Sun,12 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Mengapa Banyak Perempuan Sulit Mengenali Tubuhnya Sendiri?

Mengapa Banyak Perempuan Sulit Mengenali Tubuhnya Sendiri?

mengapa-banyak-perempuan-sulit-mengenali-tubuhnya-sendiri?
Mengapa Banyak Perempuan Sulit Mengenali Tubuhnya Sendiri?
service

Mubadalah.id – Apa makna “menjadi perempuan” atau “menjadi laki-laki” dalam suatu masyarakat? Makna tersebut mencakup pula berbagai kepercayaan tentang seksualitas masing-masing, yakni tentang perilaku seksual dan bagaimana setiap jenis kelamin memandang serta merasakan tubuhnya sendiri.

Di bawah ini dipaparkan beberapa keyakinan yang merugikan terkait seksualitas perempuan. Keyakinan-keyakinan tersebut berpengaruh terhadap rendahnya kendali perempuan atas kesehatan seksualnya sendiri.

Selain karena kurangnya kesempatan, pilihan, dan penghargaan terhadap diri. Kepercayaan-kepercayaan itu juga menjadikan perempuan lebih rentan terhadap berbagai persoalan kesehatan seksual.

Benarkah Tubuh Perempuan itu Memalukan?

Sejak Anda lahir, ayah dan ibu mulai mengajarkan banyak hal tentang tubuh Anda. Biasanya orang tua tidak menyampaikan pesan-pesan tersebut secara langsung. Namun, seorang bayi belajar tentang tubuhnya melalui cara ayah dan ibu menggendongnya, memperlakukannya, serta melalui nada suara yang mereka gunakan.

Anak perempuan yang sedang tumbuh memiliki rasa ingin tahu tentang tubuhnya. Ia ingin mengetahui nama bagian-bagian tubuhnya dan mengapa genital atau alat kelaminnya berbeda dengan anak laki-laki.

Namun, tidak seperti anak laki-laki, ia sering dimarahi ketika mengajukan pertanyaan semacam itu. Ia akan diberi tahu bahwa “anak perempuan yang baik tidak akan bertanya-tanya seperti itu”.

Jika ia menyentuh genitalnya sendiri dan ketahuan, ia juga akan dimarahi. Ayah, ibu, atau anggota keluarga lainnya mengajarkan bahwa alat kelamin perempuan adalah sesuatu yang “kotor” atau “memalukan”, sehingga harus selalu disembunyikan dan tidak boleh disentuh.

Tanggapan orang tua terhadap rasa ingin tahu anak perempuan tersebut membuatnya merasa bahwa tubuhnya adalah sesuatu yang memalukan.

Dampak

Akibatnya, ia akan kesulitan menanyakan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya ketika memasuki masa pubertas. Termasuk tentang haid dan seksualitas. Ia juga dapat merasa malu untuk menanyakan hal-hal tersebut kepada tenaga kesehatan, atau bahkan tidak mengetahui apa yang seharusnya ia tanyakan.

Perempuan yang tumbuh dengan keyakinan bahwa tubuhnya memalukan, atau bahwa persoalan tubuh tidak pantas ia tanyakan kepada siapa pun, lebih mungkin menjalani hubungan seksual tanpa memahami bagaimana tubuhnya merasakan kenikmatan.

Ia bisa saja menjalani kehidupan pernikahan selama bertahun-tahun dan mengira bahwa hubungan seksual memang harus selalu tidak menyenangkan. Ia tidak mengerti bagaimana memperbaikinya dan tidak menyadari bahwa hidupnya belum pernah mengalami hubungan seksual yang sehat serta memuaskan kedua belah pihak.

Selain itu, ia mungkin juga tidak memahami cara mencegah penularan penyakit maupun cara mencegah kehamilan.

Dampak dari keyakinan yang keliru ini sangat merugikan perempuan. Namun, tidak pernah terlambat untuk menyadari bahwa tubuh bukanlah sumber “kekotoran” ataupun sesuatu yang memalukan.

Kesenangan seksual merupakan bagian yang dapat manusia alami dan bukan sesuatu yang terlarang. Karena itu, kita perlu belajar mengenali, mencintai, dan menghargai tubuh kita sendiri. []

*)Sumber TulisanBuku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 239.

Redaksi

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.