Fri,31 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Mengapa Korban Sulit Lepas dari Hubungan Toksik? Mengenal Trauma Bonding

Mengapa Korban Sulit Lepas dari Hubungan Toksik? Mengenal Trauma Bonding

mengapa-korban-sulit-lepas-dari-hubungan-toksik?-mengenal-trauma-bonding
Mengapa Korban Sulit Lepas dari Hubungan Toksik? Mengenal Trauma Bonding
service

Bincangperempuan.com- B-Pers, pernahkah kamu mendengar kasus kekerasan dalam hubungan, lalu secara spontan mempertanyakan, “Kenapa sih korbannya nggak lari aja?” atau “Kok mau sih balik lagi setelah disakiti?” Ketika sebuah hubungan sudah berubah menjadi toksik dan berujung pada kekerasan—baik secara psikis, maupun fisik— anehnya korban justru sangat sulit untuk keluar. 

Saat mereka melapor atau mengadu kepada temannya, ujung-ujungnya mereka malah balikan dengan sang mantan. Fenomena ini kerap membuat lingkungan sekitar merasa frustrasi dan perlahan menarik dukungan mereka. 

Lantas, mengapa pola yang merusak ini bisa terus terjadi? 

Membedah Anatomi Hubungan: Apa Itu Trauma Bonding?

​Melansir dari HelpGuide, trauma bond atau ikatan trauma adalah sebuah keterikatan emosional yang sangat kuat yang dikembangkan oleh seseorang terhadap pelaku kekerasan (abuser)-nya. Konsep psikologis ini menjelaskan alasan mengapa seorang korban kekerasan sering kembali berbaikan dengan pelakunya, meskipun dirinya sadar akan konsekuensi fisik dan emosional yang menjerat.

​Ikatan traumatis ini tidak hanya terjadi pada hubungan romantis. Anak-anak yang mengalami kekerasan bisa tetap memiliki keterikatan yang kuat dengan orang tua yang abusif, atau seorang karyawan yang memilih tetap loyal kepada bos yang manipulatif dan toksik. Trauma bond tumbuh karena adanya ketimpangan relasi kuasa serta pola berulang antara kekerasan dan limpahan kasih sayang. 

​Dalam konteks Kekerasan Berbasis Gender (KBG), ketimpangan relasi kuasa ini semakin diperparah oleh konstruksi sosial patriarki yang menempatkan satu gender pada posisi dominan yang mengontrol gender lainnya. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal sedang terjebak dalam dinamika tidak sehat ini, langkah pertama yang paling krusial adalah mengenali tanda-tandanya.

Baca juga: Benarkah Patriarki Bisa Lindungi Perempuan? Mengenal Toxic Feminity

Mengenali Sinyal Bahaya: 7 Tanda Kamu Terjebak Trauma Bond

​Berikut adalah beberapa tanda nyata dari trauma bonding yang perlu kita waspadai:

1. ​Keterikatan Emosional di Tengah Rasa Sakit

Kamu tetap merasa terikat secara emosional yang mendalam meskipun pelaku terus-menerus menyakitimu. Pelaku mengambil porsi yang sangat besar di dalam isi kepalamu. Kamu menghabiskan waktu hanya untuk mencemaskan apa yang sedang mereka lakukan, bagaimana perasaan mereka, dan apa yang akan terjadi selanjutnya di antara kalian berdua. Bahkan setelah kamu berhasil meninggalkan mereka, bayang-bayang mereka tetap mengikat emosimu.

2. Hubungan Putus-Nyambung yang Melelahkan

Karena adanya keterikatan emosional yang intens tersebut, berjalan pergi meninggalkan hubungan menjadi hal yang luar biasa berat. Atau mungkin kamu sebenarnya sudah berhasil pergi, tetapi entah bagaimana, kamu menemukan dirimu selalu kembali ke pelukan pelaku setelah beberapa waktu berlalu.

3. Terlalu Berempati terhadap Pelaku

Sebuah studi pada tahun 2022 yang melibatkan 345 perempuan menemukan fakta bahwa tingginya rasa empati terhadap pelaku justru meningkatkan kemungkinan terbentuknya ikatan traumatis (traumatic bonding). Kamu sering menempatkan diri di posisi pelaku dan merasionalisasi perilaku kasarnya. Misalnya ketika pelaku menangis dan menunjukkan penyesalan palsu, kamu tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut merasakan kesedihannya. Termasuk mewajarkan tindakan abusive karena karena kamu merasa pelaku punya masa lalu yang buruk atau trauma.

4. ​Pasang Badan Membela Pelaku

Ada dorongan kuat dalam dirimu untuk mengecilkan atau mengabaikan tindakan kekerasan yang dilakukan pelaku. Ketika ada sahabat yang mengkhawatirkanmu dan mencoba membujukmu untuk keluar dari hubungan tersebut, kamu otomatis membela pelaku dengan berkata, “Dia cuma lagi stres kerjaan kok,” atau “Dia nggak bermaksud ngomong sekasar itu.”

5. ​Krisis Identitas dan Runtuhnya Harga Diri

Kamu merasa sangat bergantung pada pelaku dan melakukan apa saja yang kamu bisa demi menjaga suasana hatinya agar tetap bahagia atau agar dia tetap berada di dekatmu. Perlahan tapi pasti, kamu mulai kehilangan arah mengenai apa keinginan, kebutuhan, dan impian pribadimu.

6. ​Jebakan Rasa Bersalah (Self-Blame)

Alih-alih menyalahkan pelaku, kamu justru mulai merasakan malu dan bersalah karena mengutuk dirimu sendiri yang bertahan dalam hubungan tersebut. Muncul pikiran destruktif seperti, “Kalau aku bahkan nggak becus buat ninggalin dia, berarti aku memang pantas terjebak dalam pernikahan/hubungan yang tidak sehat ini.”

7. ​Isolasi Sosial sebagai Strategi Kontrol

Pelaku secara halus maupun terang-terangan melarangmu membangun hubungan dengan orang lain. Hal ini mereka lakukan sengaja agar mereka bisa mempertahankan kontrol penuh atas hidupmu. Di sisi lain, kamu mungkin merasa sangat malu dengan kondisi hubunganmu yang toksik sehingga kamu memilih berhenti membagikan cerita kepada orang-orang terdekatmu.

Bagaimana Trauma Bond Terbentuk?

​Trauma bonding dapat terbentuk ketika kata-kata dan tindakan pelaku terhadapmu bersifat tidak konsisten, tidak stabil, dan tidak dapat diprediksi.

​Bayangkan pasanganmu memperlakukanmu dengan sangat manis minggu ini, memberikan pujian, dan menghujanimu dengan hadiah. 

Namun, beberapa hari kemudian, sikapnya berubah drastis 180 derajat. Dia mulai memaki, merendahkanmu, atau melakukan bentuk kekerasan lainnya. Tidak lama setelah badai kekerasan itu mereda, sisi manis dan penyayangnya muncul kembali. Dia menangis, meminta maaf, dan menyesali perbuatannya. Ketika kekerasan berikutnya terjadi lagi di masa depan, otakmu secara otomatis akan memunculkan harapan bahwa situasi manis seperti dulu akan kembali lagi.

​Dalam dunia psikologi, dinamika membingungkan ini dikenal sebagai penguatan intermiten (intermittent reinforcement). Ini adalah hubungan yang terjebak siklus manipulatif yang melelahkan, di mana korban dipaksa merasakan stres yang luar biasa ekstrem (distress), yang kemudian langsung diikuti oleh rasa lega yang luar biasa (relief). Pelaku bertindak sebagai sumber trauma, sekaligus memposisikan dirinya sebagai satu-satunya tempat berlindung (safe haven) bagi korban. Seiring berjalannya waktu, kamu menjadi semakin berinvestasi secara emosional pada orang tersebut dan akhirnya terjebak dalam hubungan ini.

Baca juga: Mengapa Perempuan Sering Terjebak Toxic Relationship?

​Ketika ikatan trauma ini sudah lama terjadi, dinamika tidak sehat ini menjadi sangat sulit dilepaskan karena beberapa faktor psikologis dan struktural berikut:

  • ​Ketergantungan (Dependency): Jika kamu merasa kesepian atau tidak memiliki sistem pendukung (support system), kamu akan percaya bahwa kamu harus tetap bertahan dalam hubungan yang abusif ini karena dirasa sudah familiar. Hal ini nyata terjadi pada kasus KBG, terutama ketika korban mengalami ketergantungan secara struktural, seperti ketergantungan finansial, tempat tinggal, atau kebutuhan dasar hidup dari pelaku.
  • ​Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance): adalah rasa tidak nyaman secara psikologis yang muncul ketika kamu memegang dua keyakinan yang saling bertolak belakang. Dalam kasus ini, kamu tahu bahwa pasanganmu adalah sosok yang kejam, tetapi di saat yang sama kamu juga melihatnya sebagai sosok yang penyayang. Untuk meredakan konflik di dalam batinmu, kamu akhirnya memilih memaafkan perilaku buruknya dengan merasionalisasi, “Dia peduli sama aku, akunya aja yang bikin dia stres karena banyak nuntut.”
  • ​Manipulasi Sistematis: Pelaku menggunakan taktik manipulasi seperti gaslighting untuk membuatmu terus bergantung secara emosional kepada mereka. Mereka mengisolasimu dari lingkaran pertemanan, memberikan ancaman balas dendam jika kamu nekat pergi, hingga meyakinkanmu bahwa kamu adalah “beban” dan kamu sangat beruntung karena ada orang seperti dirinya yang mau bersamamu. Taktik ini merubuhkan harga dirimu hingga kamu percaya bahwa hubungan ini adalah opsi terbaik yang bisa kamu dapatkan di hidup ini.
  • ​Harapan Palsu: Karena hubungan ini selalu berjalan jalannya naik-turun secara ekstrem, bahkan di momen-momen terburuk sekalipun, korban akan selalu menanti dan berharap datangnya gelombang kasih sayang berikutnya. Korban terus membohongi diri sendiri bahwa pasangan mereka memiliki sisi baik tersembunyi yang kelak akan mengubahnya menjadi orang yang lebih baik secara permanen.

​Memahami trauma bonding membantu kita untuk berhenti menghakimi korban Kekerasan Berbasis Gender. Keluar dari jerat ini bukanlah urusan sepele tentang “tinggal angkat kaki”, tetapi sebuah perjuangan berat untuk memutus rantai adiksi psikologis dan manipulasi emosional yang telah merusak pola pikir korban. Seseorang yang terjebak di dalamnya tidak butuh penghakiman, mereka butuh diulurkan tangan, ruang aman tanpa stigma, dan bantuan profesional untuk perlahan merebut kembali kendali atas hidup mereka sendiri.

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.