Wed,15 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Menggugat Tafsir Surga yang Sangat Maskulin

Menggugat Tafsir Surga yang Sangat Maskulin

menggugat-tafsir-surga-yang-sangat-maskulin
Menggugat Tafsir Surga yang Sangat Maskulin
service

Mubadalah.id – Dalam teks-teks Arab klasik, termasuk karya-karya awal seperti Shifat al-Jannah karya Ibnu Abi ad-Dunya (w. 281 H/894 M) hingga karya modern seperti Nisa’ Ahl al-Jannah oleh Muhammad Ali Abu al-Abbas, surga digambarkan secara sangat maskulin.

Misalnya, disebutkan bahwa seorang laki-laki mukmin di surga akan memperoleh kekuatan untuk berhubungan dengan seratus perawan dalam satu hari.

Ia akan “dinikahkan” dengan ribuan perempuan baik perawan, janda, maupun bidadari yang semuanya digambarkan muda, cantik, harum, dan sepenuhnya mengabdi untuk melayani keinginan laki-laki.

Di sisi lain, hampir tidak menemukan deskripsi yang sepadan tentang kenikmatan surga bagi perempuan mukmin. Tidak ada penjelasan tentang siapa yang menjadi pendamping perempuan di surga, atau bagaimana bentuk kenikmatan yang akan mereka dapatkan.

Deskripsi seperti ini nyaris tidak pernah menyinggung bagaimana bentuk kenikmatan surgai bagi perempuan mukmin. Siapakah pendamping mereka di surga? Bagaimana bentuk kebahagiaan yang mereka peroleh?

Semua ini seolah tak penting, seolah surga hanyalah kebahagiaan laki-laki yang maskulin, dan perempuan kembali menjadi objek atau pelengkap, bahkan di kehidupan abadi.

Padahal, para ulama sepakat bahwa perempuan adalah subjek penuh dari ayat-ayat keimanan, amal saleh, dan balasan surga.

Kesadaran ini tampak jelas dalam ayat-ayat seperti QS. Ali Imran [3]: 195, QS. an-Nahl [16]: 97, dan QS. al-Mu’min [40]: 40—semuanya menyebut laki-laki dan perempuan secara eksplisit sebagai penerima kenikmatan surga.

Bahkan, sebagaimana dalam pandangan Dr. Faqihuddin Abdul Kodir dalam Buku Qiraah Mubadalah, kesadaran kesetaraan itu sering kali terhenti di ranah dunia, tidak berlanjut ke deskripsi tentang balasan di akhirat.

“Para penafsir teks sumber keislaman tidak memasukkan manusia perempuan sebagai subjek yang berhak memperoleh nikmat surga sebagaimana laki-laki,” tulis Kiai Faqih.

“Padahal, semua ulama sepakat bahwa perempuan termasuk dalam subjek ayat-ayat keimanan dan ganjaran surga.”

Dengan kata lain, ketika bicara tentang iman dan amal, perempuan hadir sebagai subjek penuh. Namun ketika bicara tentang kenikmatan surga, perempuan lenyap dari wacana, dan posisi mereka kembali sebagai objek kenikmatan laki-laki. []

Redaksi

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.