Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Menghapus Senioritas dan Relasi Kuasa dalam Dunia Kerja

Menghapus Senioritas dan Relasi Kuasa dalam Dunia Kerja

menghapus-senioritas-dan-relasi-kuasa-dalam-dunia-kerja
Menghapus Senioritas dan Relasi Kuasa dalam Dunia Kerja
service

Mubadalah.id – Realita dalam budaya relasi di tempat kerja, organisasi, hingga lingkar akademik seringkali memanfaatkan kesempatan untuk melanggengkan budaya senioritas. Akibatnya situasi ini berdampak pada timpangnya relasi kuasa.

Budaya di lingkungan kita cenderung melanggengkan ketimpangan meskipun sudah tahu bahwa hal tersebut berkebalikan dari hal baik. Alih-alih relasi kerja terkhusus di lembaga pendidikan saling belajar untuk menghentikan dan menghapus budaya senioritas, mereka justru menganggap bahwa ini adalah pembelajaran kuat mental yang harus junior lalui.

Upaya senioritas yang dilakukan oleh siapapun, esensinya merugikan kemanusiaan hingga mematikan daya kritis dan inovasi serta menghambat kesehatan relasi kerja. Pola hubungan senioritas dalam ranah pendidikan ataupun lingkungan lainnya juga merujuk pada pola hubungan sosial yang mendahulukan hierarki. Hal ini berdasarkan perbedaan usia, tingkat, atau pengalaman antara individu yang dianggap senior (lebih tua atau berpengalaman) dengan individu yang dianggap sebagai junior (lebih muda atau kurang berpengalaman).

Dalam beberapa kasus ada yang menganggap bahwa dalam pekerjaan yang junior lakukan, mereka harus merasakan yang dulu pengalaman senior rasakan.  Bagi mereka, pengalaman tersebut untuk membentuk kekuatan mental di tempat kerja baru.

Atau bahkan senior yang merasa lebih tua dan berpengalaman terkadang menutup diri dengan junior. Sehingga ruang yang seharusnya dapat menjadi tempat belajar bersama agaknya sulit terwujud karena kuatnya relasi senioritas dan identitas. Junior merasa kurang memiliki kuasa dan kesempatan yang sama sehingga sulit untuk berbagi ide dan inovasi baru.

Apabila budaya ini oleh para senior disalahgunakan untuk menunjukkan kekuasaan, balas dendam, atau bahkan terjadi pengkultusan oleh para junior, akibatnya dampak negatif akan muncul. Perilaku penindasan, ketidakadilan, kekerasan, dan ketimpangan sosial dapat muncul sebagai hasil dari penyalahgunaan budaya senioritas.

Yang Kita Pahami Mengenai Batas Penghormatan Antar Keduanya

Masalah lain dari senioritas adalah ketika kita tahu beberapa kasus akan tetapi memilih untuk diam dan melepaskan diri karena tidak punya kuasa untuk menghadapi itu. Salah seorang teman pernah bercerita mengenai relasi kerjanya dengan salah seorang senior. Di posisi itu ia adalah tenaga kerja baru di salah satu lembaga pendidikan dan ia melihat betapa banyak hal rumit berkaitan dengan relasi kerja oleh rekan kerja yang lebih tua.

Saat ia menjadi pekerja baru yang seharusnya senior mengayomi dan saling belajar, yang ia alami adalah sifat senior yang selalu merasa benar dan tidak ingin merasa bersalah atas orang lain. Selain itu, saya juga menyadari di lingkungan kerja akademik saja relasi kuasa juga sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan relasi kerja antara senior dan junior.

Terkadang sifat hormat atau takdzim kita kepada senior yang lebih tua berakibat pada penormalan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Ibaratnya hanya karena ia yang memiliki relasi kuasa di atas kita, semua yang ia lakukan dan katakan harus orang lain ikuti tanpa menimbang banyak hal.

Bentuk penghormatan itu menjadi kultus dominasi dan hierarki sosial pada dunia kerja yang tak seimbang dan tak selaras dengan prinsip dan nilai kemanusiaan. Mirisnya lagi, permasalahan ini banyak terjadi di berbagai tempat termasuk sektor pendidikan. Masalah senioritas tentu bukan hanya menyasar pada siswa, tetapi juga pendidik dan stakeholder di dalamnya.

Anehnya, evaluasi dan perilaku bekerja belum membenahi permasalahan ini. Jika terjadi masalah secara tiba-tiba, belum tentu atasan akan memanggil yang bermasalah untuk membenahi permasalahan sehingga tidak menormalisasi pada akhirnya. Jika begitu, bagaimana seseorang akan menyadari kesalahan itu dan memiliki kesadaran untuk membenahinya?

Dominasi dan Kontrol

Budaya senioritas ini hakikatnya merupakan refleksi dari keadaan sosial, budaya, dan perubahan yang sedang terjadi dalam masyarakat yang lebih luas. Budaya ini dapat terjadi karena datang dari cerminan nilai-nilai yang masyarakat anut.

Misal, dalam budaya yang sangat tradisional atau otoriter, hierarki yang kuat, dan penghormatan terhadap orang yang lebih tua atau berpengalaman dapat tercermin dalam dinamika senioritas di lingkungan pendidikan. Berbeda dengan masyarakat yang lebih inklusif dan demokratis, budaya senioritas di lembaga pendidikan seyogianya lebih beriorientasi pada kesetaraan dan kerja sama.

Jika membaca teori konflik dari Sosiolog, Ralf Dahrendorf mengungkapkan bahwa bagaimana kekuasaan dan dominasi diperjuangkan dan perubahan sosial yang terjadi antara senior dan junior memunculkan konflik. Di mana senior berusaha mempertahankan dominasi dan kontrol mereka atas junior, sementara junior berusaha menantang dan mengubah status quo yang ada.

Realitanya, kelompok senior cenderung mempertahankan dominasi dan kontrol terhadap kelompok junior. Sebab keuntungan untuk memberi kekuatan interaksi sosial dan keleluasan mereka menentukan norma dan nilai yang menurut senior adalah hal yang wajar berlaku di lingkungan tersebut.

Kelompok junior yang lebih muda yang memiliki tingkat pengalaman yang masih minim cenderung menantang dominasi dan kontrol oleh kelompok senior. Mereka mungkin tidak puas dengan status quo yang ada dan berusaha mengubahnya supaya lebih merata dan adil.

Senioritas Menebalkan Tembok Inovasi dan Keterbukaan

Dalam dinamika budaya senioritas, bisa kita analogikan bahwa senior memiliki kebijaksanaan dan pemahaman yang lebih mendalam terkait proses dan pengalaman. Sementara junior lebih cenderung untuk belajar dari apa yang mereka pahami sambil belajar bersama dengan senior.

Mereka yang merasa lebih muda akan sungkan untuk memberikan ide dan gagasan baru karena terkadang senior tidak menawarkan kesempatan dan bersikap lebih terbuka pada junior. Alhasil, ketakutan akan penolakan dan pengabaian akan berakibat pada kelompok junior.

Di berbagai lingkungan manapun, termasuk lingkungan akademik, baik guru, akademisi, mahasiswa yang merasa dirinya senior cenderung mendapatkan lebih banyak sumber daya dan mendapatkan perlakuan lebih baik. Sementara junior yang bekerja bersama senior mungkin mengalami lebih banyak kerja tambahan, lebih banyak diskriminasi, atau perlakuan tidak adil.

Dampak negatif dari senioritas menjadi manifestasi feodalisme. Lebih jauh, senior memiliki otoritas untuk menentukan nasib junior. Meski tak hanya senior, junior pun juga bisa berlagak untuk berkepentingan dengan senior meski bertentangan dengan hati nurani.

Relasi Mubadalah dalam Dunia Kerja

Kita membutuhkan peran bersama dengan kesadaran berkesalingan dan tolong menolong antar sesama rekan kerja. Tujuan membongkar tembok senioritas bukan berarti meniadakan rasa hormat kepada yang lebih tua. Akan tetapi, mulai mengubah peran senior yang spesifik sebagai mentor menjadi sesuatu yang lebih dapat mudah kita terima.

Sekaligus meredefinisi senior bukan posisi yang memiliki hak istimewa tetapi sebagai tanggung jawab. Begitu pula sebaliknya, generasi muda juga harus membangun semangat perubahan dengan menyalurkan ide-ide kreatif diikuti etika kerja, potensi diri dan kesiapan belajar.

Al-Qur’an sendiri juga telah menanamkan prinsip kesalingan sebagai fondasi relasi sosial. Dalam QS. Al-Hujurat (49):13 yang artinya sebagai berikut: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang palin mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

QS Al-Hujurat (49):13 merupakan ayat mubadalah yang memiliki prinsip kesalingan dalam berinteraksi dua arah. Perbedaan suku, bangsa, jenis kelamin, bahkan umur bukan untuk saling merendahkan. Akan tetapi, relasi yang dialogis dan setara.

Mengubah dinamika budaya senioritas perlu komitmen pada kesadaran individu dengan memahami nilai-nilai kesetaraan, penghargaan terhadap perbedaan, dan menciptakan lingkungan aman. Sementara, nilai-nilai keagamaan yang hadir dalam lingkungan akademik dapat menjadi modal sosial untuk menumbuhkan sikap egaliter.

Tak terpungkiri, adanya pengalaman dan pengetahuan senior kepada junior dapat mendorong kolaborasi antar rekan kerja, memperkaya lingkungan belajar, dan mengurangi biaya pelatihan staf. Lingkungan akademik juga perlu arahan supaya perbedaan peran senior-junior menjadi ruang kolaborasi yang terbuka bukan dominasi. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.