Mubadalah.id – Dunia pesantren seringkali dicitrakan sebagai kawah candradimuka yang keras dalam disiplin dan pencarian ilmu. Namun, di balik dinding-dinding asrama dan riuhnya setoran hafalan, pesantren menyimpan sisi kemanusiaan yang sangat lembut. Hal ini saya rasakan kembali saat liburan semester genap tiba. Kepulangan saya ke pondok pesantren lama dalam rangka acara haul Sang Kyai, mempertemukan saya dengan sebuah “tafsir hidup” tentang kemanusiaan melalui sosok anak kecil bernama Dina.
Dapur pesantren adalah jantung dari setiap acara besar. Di sanalah saya bersua dengan Dina, seorang anak perempuan berhijab hijau yang ceria. Dina bukan santri di sana, ia adalah putri dari salah satu ibu yang berdedikasi di dapur pondok. Dina memiliki hambatan dalam bicara (speech impairment), namun bahasanya tersampaikan melalui binar mata dan tarikan tangan yang ramah.
Saat saya baru tiba, Dina langsung meminta bersalaman dan tak lama kemudian ingin duduk di pangkuan saya. Ada rasa haru yang menyeruak, sebuah kejujuran dari seorang anak yang merasa aman di lingkungannya. Di sini, saya menyadari satu hal penting yaitu semua orang menerima Dina sepenuhnya. Para santri (mbak-mbak pondok) tidak memandangnya dengan tatapan aneh atau mengasingkannya. Kehadirannya dimaklumi, didukung, dan bahkan menjadi warna keceriaan di tengah kepulan asap dapur yang panas.
Belajar Martabat: Bukan Kasihan tetapi Penghormatan
Seringkali, cara pandang kita terhadap penyandang disabilitas terjebak dalam charity model atau paradigma belas kasihan. Kita merasa mereka “kurang” dan kita “lebih”. Namun, pertemuan dengan Dina membalikkan logika tersebut. Dina tidak merasa dirinya kurang. Ia asyik bermain dengan teman-temannya, meski terkadang mereka tidak saling memahami bahasa lisan satu sama lain. Komunikasi mereka melampaui kata-kata; itu adalah komunikasi hati.
Dari Dina, saya belajar bahwa yang seringkali “cacat” bukanlah fisik seseorang, melainkan cara pandang kita yang sempit. Pesantren, dalam praktiknya yang paling organik, telah mendidik kita untuk memuliakan manusia tanpa syarat kesempurnaan fisik. Inilah esensi dari nilai pesantren: memandang setiap ciptaan Allah sebagai manifestasi keagungan-Nya.
Jika kita bertanya, bagaimana Islam memandang disabilitas? Kita bisa merujuk pada peristiwa bersejarah yang telah tertulis di dalam Al-Qur’an, yaitu Surah Abasa. Saat itu, Rasulullah SAW sedang berbincang dengan para pembesar Quraisy, lalu datanglah Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat tunanetra, yang ingin belajar Islam. Ketika Rasulullah tampak sedikit bermuka masam karena merasa terganggu, Allah langsung menurunkan teguran.
Ini adalah pesan kuat bahwa di mata Allah, seorang disabilitas yang ingin bertaqwa jauh lebih mulia daripada tokoh-tokoh terpandang yang sombong. Islam menegaskan bahwa standar kemuliaan hanyalah taqwa. Sebagaimana disebutkan: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Tidak ada sekat antara laki-laki, perempuan, penyandang disabilitas, maupun non-disabilitas dalam akses menuju cinta Tuhan.
Inklusivitas dan Konsep Mubadalah
Kini, pemahaman saya semakin diperkaya dengan konsep Mubadalah atau kesalingan. Mubadalah mengajarkan bahwa relasi antarmanusia harus didasarkan pada prinsip keadilan, kesetaraan, dan kemaslahatan bersama. Menyayangi saudara kita yang disabilitas bukan lagi sekadar tindakan sporadis karena rasa iba, melainkan sebuah kewajiban moral untuk memberikan dukungan yang utuh.
Dukungan utuh berarti memberikan ruang bagi mereka untuk menjadi Subyek. Dina, misalnya, setiap pagi ibunya mengantarnya ke SLB (Sekolah Luar Biasa) dari jam 08.00 hingga 11.00. Saya sangat bangga saat ia menunjukkan hasil belajarnya yaitu menulis nama-nama buah. Ia berdaya, ia belajar, dan ia memiliki identitasnya sendiri. Inilah wujud inklusivitas yang nyata; ketika lingkungan memberikan hak akses pendidikan dan sosial secara adil.
Mewujudkan Pesantren Ramah Disabilitas sebagai Pekerjaan Rumah
Meskipun suasana di dapur pesantren sudah sangat inklusif secara sosial, kita tidak boleh berpuas diri. Kisah Dina adalah pemantik untuk pertanyaan yang lebih besar: Apakah pesantren-pesantren kita sudah benar-benar ramah disabilitas secara sistem?
Membangun pesantren ramah disabilitas yang inklusif berarti kita harus mulai memikirkan: Aksesibilitas Fasilitas. Apakah santri disabilitas dapat menggunakan tangga menuju masjid atau ruang kelas dengan mudah dan maksimal.
Kurikulum yang Adaptif dengan Bagaimana metode pengajaran kitab kuning atau Al-Qur’an memiliki akses yang mudah oleh santri tunanetra atau tunarungu. Selanjutnya yaitu Kebijakan di Lingkungan Pesantren. Pesantren harus memperkuat kebijakan untuk mendukung keluarga Dina yang menjamin perlindungan dan hak bagi penyandang disabilitas begitu juga dengan pemerintah desanya.
Perjumpaan dengan Dina telah mengubah tafsir kemanusiaan saya. Kita harus bergeser dari rasa kasihan menjadi rasa hormat. Kita harus berhenti memandang saudara disabilitas sebagai objek yang perlu “disembuhkan”, dan mulai memandang mereka sebagai manusia utuh yang perlu “didengarkan” dan “diberi ruang”.
Allah menciptakan kita beragam bukan untuk saling menghina, tapi untuk saling mengenal (li ta’arafu). Jika Islam adalah rahmah, maka rahmah itu harus menyentuh setiap sudut dapur, setiap ruang kelas, dan setiap hati di pesantren tanpa terkecuali. Belajar dari Dina, mari kita tebar kebaikan dengan setiap langkah, demi terciptanya ruang inklusif untuk keadilan bersama. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah goes to Community Surakarta, kerjasama Media Mubadalah dengan UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta.





Comments are closed.