Sat,8 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Menyelami Budaya Dayak: Tentang Sastra Lisan Telima & Mengapa Keseniannya Kerap Bertemakan Alam?

Menyelami Budaya Dayak: Tentang Sastra Lisan Telima & Mengapa Keseniannya Kerap Bertemakan Alam?

menyelami-budaya-dayak:-tentang-sastra-lisan-telima-&-mengapa-keseniannya-kerap-bertemakan-alam?
Menyelami Budaya Dayak: Tentang Sastra Lisan Telima & Mengapa Keseniannya Kerap Bertemakan Alam?
service

4 Agustus 2026 23.26 WIB • 2 menit

Peluncuran karya musik kolaboratif “Suara Tanah Kita” di Jakarta pada Jumat (31/7/2026).


Ada banyak hal menarik dalam budaya Dayak. Dua di antaranya yakni adanya bentuk sastra lisan yang disebut Telima dan banyaknya praktik kesenian Dayak yang bertemakan alam.

“Telima adalah tradisi lisan yang dimiliki Suku Dayak Kayaan Mendalam yang isinya bersyukur kepada Tuhan, bersyukur kepada kebersamaan kita, dan tak lupa pula atas kebersamaan itu ada nasehat dan pedoman hidup yang dituturkan dalam bentuk lantunan,” ujar Ine Martha Haran, seorang tokoh adat Dayak sekaligus pelantun Telima, kepada awak media termasuk GNFI di Jakarta pada Jumat (31/7/2026).

Martha hadir di Jakarta dalam rangka peluncuran karya musik kolaboratif “Suara Tanah Kita” oleh lembaga nirlaba Yayasan Madani Berkelanjutan. Kebetulan, Martha adalah salah satu orang yang ikut membawakan karya tersebut bersama dengan penyanyi Asteriska dan satu budayawan Dayak lainnya, Dominikus Uyub.

Dalam acara tersebut, Martha tidak hanya tampil membawakan lagu bersama Asteriska dan Uyub. Ia juga berbagi cerita seputar budaya Dayak, khususnya keseniannya.

Kata “Ine” di depan namanya adalah bukti darah Dayak dalam diri Martha. Bagi masyarakat Dayak, “Ine” adalah sebutan untuk orang tua perempuan, sama seperti panggilan “Ibu” dalam bahasa Indonesia.

Sebagai tokoh adat Dayak Kayaan Mendalam, Martha punya peran besar bagi komunitasnya di Kapuas Hulu. Selain menjadi penutur syair Telima, ia juga merupakan Dayung Aya atau imam besar dalam upacara adat Dange.

Menurut Martha, Telima sejatinya adalah pesan dari leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia pun punya harapan agar warisan budaya leluhur tersebut bisa terus dijaga oleh Dayak melalui sosok-sosok penerus yang mengambil jalan hidup seperti dirinya.

“Ine berharap agar di saat-saat yang kemudian nanti timbullah regenerasi penerusnya untuk menggantikan Ine seterusnya,” katanya.

Kesenian Dayak, baik itu yang berbentuk sastra lisan seperti Telima atau yang lainnya, punya satu fenomena yang menarik, yakni isinya kerap mengambil tema alam atau mengandung pesan-pesan mengenai alam. Ini tentu bukan kebetulan dan ada alasan di baliknya.

Soal ini, budayawan muda Dayak Punan Hovongan, Samuel Moring, memberi penjelasan. Menurutnya, budaya Dayak memiliki pengetahuan mengenai bagaimana manusia selayaknya berperilaku terhadap alam di wilayah adat. Nah, pengetahuan-pengetahuan itulah yang diturunkan secara turun-temurun melalui media seni.

“Banyak sekali tempat-tempat yang disakralkan, kemudian ada juga tempat-tempat yang tidak boleh sembarangan kita eksploitasi. Itu sudah diatur oleh masyarakatnya sendiri, tanpa dituangkan dalam bentuk dokumen atau aturan, hanya melalui mulut saja,” papar Moring.

Diterangkan Moring, seni dan budaya pada dasarnya adalah salah satu unsur warisan leluhur selain wilayah adat dan sejarah. Selama suatu masyarakat adat menempati suatu wilayah, maka keseniannya pun akan bercampur dengan pengetahuan-pengetahuan lokal yang ada.

“Terciptalah beragam seni, baik itu seni musik, tarian, sastra, baik itu sastra lisan atau sastra tulis, gambar, dan sebagainya, itu adalah wujud dari salah satu yang menurut saya bahwa mereka sudah lama berada di wilayah tersebut,” tutur Moring.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.