Wed,15 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Menyemai Energi Surya di Pesantren

Menyemai Energi Surya di Pesantren

menyemai-energi-surya-di-pesantren
Menyemai Energi Surya di Pesantren
service

Di bawah terik matahari pertengahan Juni, sebuah transformasi diam-diam tengah berlangsung di balik dinding-dinding ruang belajar. Cahaya matahari yang biasanya hanya menjadi penanda pergantian hari, kini ditangkap, disimpan, dan diubah menjadi pijar-pijar harapan bagi generasi baru.

Melalui sebuah kolaborasi multipihak—Perkumpulan Lentera Hijau Indonesia, Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, Kitabisa.com, Lazismu, PP Aisyiyah, serta dukungan teknis dari Universitas Gadjah Mada (UGM)—panel surya kini resmi menempati atap-atap sarana pendidikan. Bukan sekadar instalasi perangkat keras, inisiatif ini adalah ruang kelas yang hidup; sebuah kurikulum nyata tentang bagaimana merawat bumi sejak usia dini.

Menyiram Benih di Bandung dengan Tenaga Matahari

Langkah pertama dari perjalanan energi bersih ini dimulai di Aisyiyah Boarding School (ABS) Bandung pada Rabu, 10 Juni 2026. Di pesantren yang berdiri di atas lahan seluas 18.000 meter persegi ini, alam dan agama diajarkan dalam satu tarikan napas.

Hari itu, tiga unit panel surya—masing-masing berkapasitas 650 watt peak (Wp)—berhasil dipasang. Di ABS Bandung, listrik dari matahari ini memiliki misi khusus: memompa air. Aliran air tersebut kemudian membasahi lahan-lahan pertanian produktif yang dikelola langsung oleh para santri, menciptakan sebuah ekosistem pendidikan sirkular yang mandiri.

“Solar panel ini akan membantu menghidupkan alat siram otomatis untuk lahan pertanian yang kami kelola. Harapannya, ekosistem penghijauan dan energi terbarukan dapat berjalan beriringan di lingkungan pesantren,” kata Teguh Mulyadi, Wakil Mudir ABS Bandung

Pemasangan ini mempertegas identitas ABS Bandung yang selama ini memang telah mengusung konsep ramah lingkungan sebagai fondasi pembelajarannya.

Sehari berselang, pada 11 Juni 2026, tim ekspedisi energi bersih ini bergerak ke barat. Menempuh jarak sekitar 100 kilometer selama hampir empat jam perjalanan darat, rombongan tiba di SMP Aisyiyah Kota Sukabumi.

Berbeda dengan ABS Bandung yang telah memiliki rekam jejak panjang, sekolah ini adalah sebuah lembaran baru. Baru didirikan pada tahun 2025, SMP Aisyiyah langsung menancapkan visi sebagai Islamic Green School. Saat ini, angkatan pertamanya berisi 11 siswa perintis yang seluruhnya mengenyam pendidikan lewat jalur beasiswa penuh.

Bagi sekolah yang sedang tumbuh ini, kehadiran panel surya adalah sebuah injeksi semangat sekaligus alat peraga yang tak ternilai harganya.

“Manfaatnya sangat besar, bukan hanya sebagai sumber energi alternatif untuk kegiatan belajar mengajar dan penerangan sekolah, tetapi juga menjadi media pembelajaran bagi siswa tentang energi ramah lingkungan. Harapan kami, panel surya ini bisa menginspirasi sekolah-sekolah lain. Anak-anak perlu memahami bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama,” papar Siti Sundus Awaliyah, Kepala SMP Aisyiyah Kota Sukabumi

Membumikan Teologi Lingkungan

Di balik kerja-kerja teknis pemasangan panel surya, ada sebuah gagasan besar yang sedang diusung: Ekoteologi.

Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah yang juga menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Lentera Hijau Indonesia, Hening Parlan, menegaskan bahwa gerakan ini adalah manifestasi dari nilai-nilai keagamaan dalam merespons krisis iklim.

“Ini bukan sekadar proyek pemasangan panel surya. Ini adalah bagian dari ikhtiar Islam Berkemajuan. Kita ingin menunjukkan bahwa amanah sebagai khalifah di bumi diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dalam cara kita mengelola energi,” tutur Hening.

Hening memiliki pandangan yang puitis sekaligus pragmatis tentang energi surya. Ia menyebutnya sebagai “Energi Surga”—sebuah anugerah yang bersih, tanpa polusi, dan ditujukan untuk kemaslahatan umat.

Pemilihan institusi pendidikan sebagai titik mula gerakan ini bukanlah kebetulan. Pesantren dan sekolah adalah inkubator karakter. Harapannya sederhana namun kuat: saat budaya hemat energi dan kesadaran ekologis telah mengakar di benak para santri dan siswa, mereka akan membawanya pulang.

Pengetahuan itu akan diceritakan di meja makan keluarga, dipraktikkan di lingkungan rumah, dan pada akhirnya, bermutasi menjadi sebuah gerakan sosial yang masif. Transisi energi, pada hakikatnya, tidak pernah hanya berbicara tentang kabel dan voltase, melainkan tentang perubahan perilaku dan cara pandang manusia terhadap rumah satu-satunya: Bumi.


Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.