Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali melakukan terobosan penting guna mendukung percepatan transisi menuju energi bersih di Indonesia. Melalui inovasi terbaru dari Pusat Riset Kimia Molekuler, para peneliti berhasil menyulap limbah padat hasil proses hidrodistilasi rimpang jahe (Zingiber officinale) menjadi biobriket berkualitas tinggi.
Langkah ini menjadi angin segar di tengah upaya nasional mencari sumber energi alternatif ramah lingkungan berbasis biomassa yang siap pakai sekaligus bernilai ekonomi tinggi.
Inovasi penemuan tersebut dipimpin langsung oleh Prof. Anny Sulaswatty beserta tim penelitinya. Berawal dari fakta lapangan melihat peningkatan produksi minyak atsiri selalu menghasilkan tumpukan limbah padat sisa penyulingan yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui sentuhan teknologi tepat guna, limbah agroindustri yang sebelumnya berpotensi mengotori dan mencemari lingkungan ini dikonversi menjadi bahan bakar padat terbarukan.
“Peningkatan produksi minyak atsiri seperti akar wangi, sereh wangi, kulit kayu manis, cengkeh, jahe, juga minyak atsiri dari kayu-kayuan (cendana, gaharu, masoia), menghasilkan limbah padat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket untuk mendukung energi alternatif berbasis biomassa,” ungkap Prof. Anny.
Pengembangan biobriket berbahan dasar sisa rimpang jahe ini dinilai sangat menjanjikan. Komponen lignoselulosa yang terkandung di dalam limbah tersebut masih sangat kuat.
Menurut tim riset BRIN, limbah padat rimpang jahe memiliki kandungan lignin yang sangat tinggi, yaitu mencapai 45,98 persen. Keberadaan senyawa kompleks inilah yang membuat limbah jahe memenuhi syarat utama untuk dikonversi menjadi sumber energi panas.
“Banyak limbah biomassa dapat dimanfaatkan menjadi biobriket, tapi poin utamanya adalah bahan tersebut harus memiliki nilai karbon minimal 40%. Limbah padat rimpang jahe memiliki kandungan lignin yang tinggi yaitu 45,98%, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket. Melalui proses pirolisis, limbah ini dapat ditingkatkan kualitasnya,” tambah Prof. Anny.
Proses pengolahan limbah ini diawali dengan mengeringkan sisa penyulingan jahe secara merata, kemudian dilanjutkan dengan metode karbonisasi untuk memproduksi arang hayati atau biochar.
Langkah karbonisasi terbukti mampu mendongkrak kadar karbon, mengubah struktur gugus fungsi permukaan, dan memicu terbentuknya pori-pori yang lebih banyak pada material arang.
Guna memperoleh mutu biobriket standar komersial yang kokoh, tim peneliti mengombinasikan biochar tersebut dengan berbagai formulasi jenis perekat.
“Parameter yang dianalisis meliputi kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, karbon tetap, densitas, kuat tekan, laju pembakaran, dan nilai kalor. Selain itu, karakterisasi fisikokimia dilakukan menggunakan berbagai teknik analisis laboratorium untuk mengevaluasi perubahan struktur dan sifat material selama proses pembuatan biobriket,” terangnya.
Urgensi Transisi Energi Bersih di Indonesia
Sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan jumlah populasi yang besar, ketergantungan Indonesia pada pasokan bahan bakar fosil, khususnya batu bara dan minyak bumi, memicu peningkatan emisi gas rumah kaca yang membebani atmosfer. Sementara itu, cadangan energi fosil terus menyusut seiring berjalannya waktu.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) atau Nol Emisi Karbon. Guna menuju target tersebut, diversifikasi energi mutlak diperlukan, salah satunya dengan menggeser fokus ke sektor bioenergi dan biomassa.
Keunggulan energi berbasis biomassa seperti biobriket terletak pada sifatnya yang netral karbon (carbon-neutral). Karbon dioksida yang dilepaskan saat pembakaran briket biomassa merupakan karbon yang diserap oleh tanaman selama masa hidupnya, sehingga tidak menambah akumulasi emisi baru di lapisan atmosfer.
Indonesia memiliki potensi biomassa yang melimpah dari sektor pertanian, perkebunan, dan agroindustri herbal yang tersebar di berbagai wilayah. Meski sebagian besar potensi tersebut masih berakhir di tempat pembuangan akhir atau sekadar dibakar di lahan terbuka yang justru memicu polusi asap.
Oleh karena itu, riset dari BRIN ini memberikan arah baru bagi peta jalan pemanfaatan energi nasional, membuktikan bahwa ketahanan energi dapat dibangun dari optimalisasi sisa-sisa hasil bumi dalam negeri tanpa harus mengeksploitasi alam lebih dalam.
Dampak terhadap Alam dan Ekonomi
Secara ekologis, inovasi pemanfaatan limbah jahe ini membawa dampak positif ganda bagi lingkungan. Akumulasi limbah padat sisa industri jamu dan minyak atsiri sering kali membusuk dan menghasilkan gas metana, sebagai salah satu gas rumah kaca yang jauh lebih berbahaya dibanding karbon dioksida jika terlepas langsung ke udara.
Dengan mengonversi limbah tersebut menjadi biobriket melalui metode pirolisis teratur, emisi berbahaya tersebut dapat dicegah sedari dini. Pembakaran briket biomassa ini juga menghasilkan kadar abu dan residu sulfur yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan batu bara, sehingga menjaga kualitas udara tetap bersih.
Dari sudut pandang sosial dan ekonomi, teknologi konversi biobriket ini dirancang agar mudah diterapkan pada skala praktis di tengah masyarakat. Formula riset ini ditargetkan untuk diterapkan langsung di sentra-sentra produksi minyak atsiri, pabrik jamu tradisional, industri herbal, serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang selama ini memproduksi limbah rimpang jahe dalam volume masif.
Penerapan teknologi ini melahirkan konsep ekonomi sirkular, sebuah sistem yang memastikan tidak ada sumber daya yang terbuang sia-sia. Pelaku industri herbal dan UMKM tidak perlu lagi mengalokasikan anggaran khusus untuk biaya pembuangan atau pemusnahan limbah.
Sebaliknya, pengusaha bisa mendapatkan peluang pendapatan baru dengan menjual briket atau menggunakannya secara mandiri sebagai bahan bakar mesin produksi mereka. Penghematan biaya energi ini secara otomatis akan meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing ekonomi usaha rakyat.
“Di tengah meningkatnya kebutuhan akan energi terbarukan, pengembangan biobriket berbasis limbah pertanian menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan. Selain berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, teknologi ini juga mendukung pengurangan emisi karbon, peningkatan efektivitas pengelolaan limbah biomassa, serta penciptaan nilai tambah bagi sektor pertanian dan agroindustri,” imbuh Prof. Anny.
Melalui keberhasilan inovasi ini, cara pandang konvensional terhadap residu produksi kini mulai bergeser secara bertahap. Sisa bahan baku obat tradisional yang dulunya dianggap sebagai tumpukan sampah yang mengotori sudut pabrik, kini diakui sebagai komoditas baru berharga tinggi yang memperkuat ketahanan energi daerah.
“Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong pemanfaatan limbah secara optimal, memperkuat implementasi ekonomi sirkular, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, serta mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan di Indonesia,” tandasnya.





Comments are closed.