Menjelang dan setelah ikrar kemerdekaan dibacakan dalam teks Proklamasi, 17 Agustus 1945, perang ide dan gagasan diantara para tokoh bangsa terus mengalir. Tak ada permusuhan meski tak semua gagasan bisa diterapkan. Situasi demi situasi genting itu diangkat dalam pementasan Orkestra Kebangsaan “Meradjoet Sendja, Persembahan Cinta untuk Republik” di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu (26/8).
Rintisan kemerdekaan disulut para pemuda dalam pertemuan di Jakarta, 28 Oktober 1928, disusul dengan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Layar di belakang panggung membentangkan foto-foto hitam putih Soekarno dan suasana Kongres Perempuan Indonesia.
Nama Siti Soendari mencuat sebagai perwakilan dari kota Solo, tempat ia berbakti sebagai guru. Soendari yang diperankan Marcella Zalianty, menekankan bahwa kaum perempuan harus berpendidikan tinggi, memperluas wawasan, dan tidak hanya dituntut pandai memasak. Perempuan yang cerdas sangat dibutuhkan untuk memenuhi tuntutan zaman dan mencukupi kebutuhan sosial masyarakat luas.
“Pada masa itu Siti Soendari masih berbahasa Belanda, jadi mati-matian dia belajar bahasa Indonesia agar bisa hadir dalam Kongres Perempuan. Makanya tadi kan saya juga memerankan tokoh Siti Sundari dalam bahasa Indonesia bercampur logat Jawa dan Belanda,” ungkap Marcella.
Kata “Meradjoet” dimaknai sebagai upaya menyambungkan kembali benang-benang pemikiran yang terpisah, sementara “Sendja” memiliki dua lapis makna, yakni fase penghujung kehidupan para tokoh dan seniman, sekaligus senja sebagai pintu menuju hari baru.
“Ini bukan tentang berakhirnya sebuah zaman, melainkan tentang merajut kembali warisan sebuah generasi agar tetap hidup dalam perjalanan Republik. Saya ingin penonton merasakan bahwa nilai-nilai para pendiri bangsa dan seniman masih hidup dan perlu dibawa ke masa depan,” kata Olivia Zalianty, sutradara dan produser “Meradjoet Sendja”.
Perdebatan Ide Tokoh-Tokoh Kebangsaan
Dalam empat babak naratif, penonton diajak untuk menyusuri perjalanan Indonesia dari perspektif para pendiri bangsa. Selain monolog Siti Soendari, ada pula dialog Soekarno-Hatta di bagian “Fajar Nusantara”, perenungan di masa pembuangan di Banda Neira dan Boven Digul yang melahirkan Pancasila, hingga puncaknya pada “Pertemuan Satu Malam” yang menggambarkan dialog imajiner antara Soekarno dan Tan Malaka.
“Waktu latihan kita lumayan singkat terutama untuk peran saya sebagai Tan Malaka, apalagi referensi tentang Tan Malaka minim tidak seperti Bung Hatta atau Sjahrir yang saya sudah pernah bertemu keluarganya. Jadi tantangan terbesarnya adalah bagaimana merangkum pemikiran dari tulisan-tulisannya agar dapat membentuk karakter dan apa yang penting untuk disampaikan di atas panggung,” jelas Tanta Ginting, aktor pemeran Tan Malaka kepada media.
Naskah dan dialog yang padat ditampilkan dengan sangat menyentuh hati, terutama saat perdebatan sengit antara Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka. Bayangkan, Tan Malaka yang bersumpah tak akan menyerah kepada Jepang berhadapan dengan Soekarno yang tidak mengharamkan kolaborasi. Atau ide-ide Hatta yang tak selalu sejalan dengan seorang sosialis seperti Sjahrir.
“Sebetulnya kita tidak mementaskan fisionomi Soekarno, tapi kita mementaskan pemikiran. Pertemuan antara Tan Malaka dan Soekarno ini jarang diketahui orang dan masih menjadi tanda tanya besar. Ini adalah pengingat bahwa kita tidak boleh melupakan sejarah,” ujar Arswendy, yang juga Dewan Pertimbangan Parfi ‘56.
Pementasan ini adalah program Bakti Seniman Nusantara – Social Funds of Art & Culture, didukung puluhan penari dan paduan suara anak-anak dan remaja dari sekolah-sekolah di Jakarta, serta beberapa penyanyi diantaranya Fryda Luciana, Dira Sugandi, dan Isyana Sarasvati. Kolaborasi lintas sektor ini mempertemukan Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI ’56), Keana Production, dan lembaga filantropi Dompet Dhuafa.
“Gerakan-gerakan pemberdayaan Dompet Dhuafa ke depan akan lebih diperkuat dengan pendekatan-pendekatan kultural. Pendekatan kultural atas kemanusiaan akan lebih tersentuh dengan daya estetik, dengan daya yang kreatif, yang lebih menggugah martabat kemanusiaan,” jelas Yudi Latif yang juga terlibat dalam supervisi naskah ‘Meradjoet Sendja’.





Comments are closed.