KABARBURSA.COM – Saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) masih bergerak dalam tekanan meski fundamental bisnis menara dan fiber perusahaan terus bertambah. Harga saham yang sempat berada di area 700 pada awal tahun, kini bertahan di kisaran 500.
Arus dana asing juga belum menunjukkan tanda akumulasi besar. Data historis bulanan menunjukkan tekanan jual masih berlangsung konsisten sejak awal 2026. Pada Januari 2026, asing keluar dari MTEL sebanyak Rp51,84 miliar. Harga saham jatuh 20,71 persen ke level 555, dari pembukaan di 700.
Februari pun demikian, asing catatkan penjualan bersih sebanyak Rp20,09 miliar saat harga turun 5,41 persen ke level 525.
Hal serupa berlanjut pada April hingga Mei 2026. Pada periode berjalan Mei 2026, catatan asing yang menjual saham MTEL sebesar Rp3,37 miliar. Harga saham turun 2,91 persen ke level 500.
Memang, angka penurunan tekanan jual mulai mengecil dibanding awal tahun, namun arus dana yang masuk juga belum cukup kuat untuk membalikkan tren.
Nilai transaksi bulanan menyusut tajam dari Rp285,68 miliar pada Januari menjadi hanya Rp36,65 miliar pada Mei. Di sini, aktivitas pasar terlihat mulai melambat.
Masuk Fase Downtrend
Secara teknikal, posisi MTEL masih berada dalam fase downtrend. Seluruh indikator moving average utama mulai dari MA5, MA10, MA20 hingga MA200 masih menunjukkan sinyal “jual”.
Harga saham saat ini juga berada di bawah area rata-rata pergerakan jangka pendek dan menengah. MA20 berada di level 519, sedangkan MA50 berada di 521, yang kini berubah menjadi area tekanan terdekat bagi MTEL.
Kondisi tersebut membuat ruang kenaikan saham masih relatif terbatas dalam jangka pendek. Selama harga belum mampu kembali menembus area 515–521 secara konsisten, arah pergerakan MTEL masih cenderung tertahan.
Dari sisi pivot point, area 497–504 menjadi zona penopang terdekat. Jika area tersebut kembali ditembus ke bawah, saham MTEL berpotensi bergerak menuju support berikutnya di kisaran 494.
Sementara di sisi atas, area 511 hingga 517 menjadi titik resistensi yang cukup padat. Level tersebut berimpit dengan MA pendek dan area distribusi harga dalam beberapa perdagangan terakhir.
Utilisasi Menara
Meski begitu, MNC Sekuritas melihat tekanan teknikal yang terjadi saat ini berbanding terbalik dengan ekspansi operasional perusahaan. Hingga kuartal I 2026, MTEL mencatat tenancy ratio naik menjadi 1,57x.
Angka tersebut menunjukkan utilisasi menara masih meningkat karena satu menara digunakan lebih banyak operator. Model bisnis seperti ini biasanya memperkuat efisiensi dan menjaga margin perusahaan tetap stabil.
Jumlah menara MTEL kini mencapai 40.327 unit. Sementara jaringan fiber telah tumbuh menjadi 58.279 kilometer dengan sekitar 54 persen berada di luar Jawa.
Ekspansi fiber di luar Jawa mulai menjadi salah satu fokus baru perusahaan di tengah pertumbuhan bisnis menara yang semakin matang. Posisi tersebut membuka ruang monetisasi tambahan ketika kebutuhan trafik data operator terus meningkat.
Rencana Merger Anak Usaha jadi Katalis Positif
MNCS Retail Research juga menyoroti rencana merger anak usaha yang diperkirakan dapat menghemat biaya hingga Rp6 miliar per tahun mulai Juli 2026. Efisiensi tersebut berpotensi membantu menjaga margin operasional di tengah pertumbuhan bisnis yang mulai melandai.
Namun pasar sejauh ini masih terlihat berhati-hati membaca cerita tersebut. Pergerakan harga MTEL menunjukkan investor masih menunggu kepastian arah akumulasi baru sebelum kembali agresif masuk ke saham ini.
Dengan struktur teknikal saat ini, pergerakan MTEL masih berada dalam fase konsolidasi bearish. Area 497 menjadi titik penting untuk menjaga stabilitas harga, sementara area 515–521 menjadi batas yang perlu ditembus jika saham ingin keluar dari tekanan jangka pendek.(*)
SEO Deskripsi:
Keywords:
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.