Bagi kebanyakan orang, ban sepeda motor yang sudah tidak terpakai mungkin hanya terlihat seperti sampah. Namun, di tangan Supriatna alias Nana, ban bekas justru berubah menjadi burung, lumba-lumba, harimau, dinosaurus, hingga kelelawar berukuran raksasa. Ide itu berawal dari masalah yang dia hadapi di Tempat Penampungan Sementara Terpadu (TPST) Sumedang Bersatu, Desa Cempokomulyo, Kepanjen, Kabupaten Malang. Sejak menjadi Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat Sumedang Bersatu pada 2014, Nana melihat berton-ton ban bekas menumpuk di sana. TPST tersebut sebenarnya telah mengolah berbagai jenis sampah. Sampah organik dijadikan kompos, sedangkan botol plastik, kaca, kertas, dan sampah bernilai ekonomi dikirim ke pabrik daur ulang. Masalahnya, ban bekas tidak laku dan tidak boleh dikirim ke TPA Talangagung. Nana kemudian mencari cara lain. Secara otodidak, pada 2016 dia mulai mengubah ban bekas menjadi karya seni berbentuk burung dan serangga. Awalnya, dia menggunakan kayu sebagai rangka. Potongan ban kemudian dianyam dan dikaitkan menggunakan paku serta kawat. Karya-karya tersebut dipajang di sekitar TPST. Setelah fotonya diunggah ke Facebook, seorang guru dari sekolah Adiwiyata di Kepanjen tertarik membelinya. Pesanan kemudian mulai berdatangan dari berbagai daerah. Seiring waktu, teknik Nana berkembang. Kayu yang mudah rapuh diganti dengan pipa PVC. Untuk karya berukuran besar, ia menggunakan beton eser sebagai kerangka. Prosesnya dimulai dengan mengamati bentuk tubuh atau morfologi satwa yang akan dibuat. Nana lalu menggambar satwa tersebut di dinding sesuai ukuran yang diinginkan. Gambar itu menjadi pola untuk menentukan ukuran besi pembentuk rangka. Kerangka disambungkan menggunakan las listrik. Setelah itu, ban bekas dipotong, disusun, dan dipasang mengelilingi rangka menggunakan sekrup serta kuncian…This article was originally published on Mongabay
Nana, Seniman Otodidak yang Hidupkan Kembali Ban Bekas
Nana, Seniman Otodidak yang Hidupkan Kembali Ban Bekas




Comments are closed.