Mon,25 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Nelayan dan Petani Kotabaru Terdampak Tambang Batubara

Nelayan dan Petani Kotabaru Terdampak Tambang Batubara

nelayan-dan-petani-kotabaru-terdampak-tambang-batubara
Nelayan dan Petani Kotabaru Terdampak Tambang Batubara
service

Amir Hasan tidak bisa menyembunyikan kekecewaan karena hasil tangkapannya sangat sedikit. Sebagian besar dari 10 jebakan yang dia pasang di dua titik lokasi rawa berbeda pada area Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Bekambit asri, Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), kosong. “Tidak ada satu pun. Padahal lukah (perangkap ikan tradisional)-nya masih baik, tidak rusak, tidak ada apa-apanya,” kata  pria 65 tahun itu. Sebulan lebih alat itu dia tinggalkan, tetapi, hama keong yang justru mendominasi di dalamnya. Pria yang sudah jadi nelayan belasan tahun itu, mendapat 10 ikan haruan gabus (Channa striata) dan kerandang (Channa pleurophthalma) dengan ukuran kecil hingga sedang. Kondisi ini, katanya, jauh beda ketimbang beberapa tahun lalu. Saat itu, lukah bisa terisi setengahnya hanya dalam waktu tiga hari. “Banyak yang mengundurkan diri sudah, tidak sanggup lagi mencari ikan, karena tidak sesuai dengan hasilnya.” Perubahan ini, dia duga, berkaitan erat dengan alih fungsi sungai alami dalam area izin usaha pertambangan (IUP) PT Sebuku Sejaka Coal (SSC) yang Kementerian Energi dan Sumber Daya Minerak (KESDM) bekukan sementara karena konflik agraria. Padahal sungai-sungai itu tadinya jalur sirkulasi untuk memengaruhi pasang surut, faktor terpenting bagi keberlangsungan hidup ekosistem perikanan. Dulu, Amir bilang, ketersediaan di wilayahnya melimpah, bahkan terkenal sampai Banjarmasin. Para pemancing, dari dalam dan luar kota kerap berkunjung ke sana. Selain mengganggu habitat ikan, pola perubahan sungai karena aktivitas perusahaan ini berimbas pada putusnya jalur transportasi air, fasilitas umum yang biasa nelayan gunakan untuk melintas. Akibatnya, mereka harus menempuh jalur lebih jauh hanya untuk mencapai lokasi tangkap. Biaya operasionalnya pun makin berlipat seiring hasil…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.