Thu,30 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Nun Jauh di Jerman, Ada Rumah Adat Batak: Melihat Batakhaus yang Pembangunannya Diinisiasi Seorang Pastor

Nun Jauh di Jerman, Ada Rumah Adat Batak: Melihat Batakhaus yang Pembangunannya Diinisiasi Seorang Pastor

nun-jauh-di-jerman,-ada-rumah-adat-batak:-melihat-batakhaus-yang-pembangunannya-diinisiasi-seorang-pastor
Nun Jauh di Jerman, Ada Rumah Adat Batak: Melihat Batakhaus yang Pembangunannya Diinisiasi Seorang Pastor
service

Batakhaus di Jerman | Frank Vincentz/WikimediaCommons


Rumah adat suku Batak dikenal dengan nama Rumah Bolon. Rumah ini memiliki ciri khas berbentuk rumah panggung dengan atap melengkung.

Rumah adat semacam ini bisa ditemui di Sumatra Utara, khususnya di kalangan masyarakat Batak Toba. Namun, ternyata Rumah Bolon tidak hanya bisa ditemui di Sumatra Utara, tapi juga di Jerman.

Namanya Batakhaus. Terletak di Desa Werpeloh, Jerman, Batakhaus adalah replika rumah panggung suku Batak yang sudah ada sejak tahun 1978. Uniknya, pembangunan Batakhaus diinisiasi langsung oleh seorang pastor asal Jerman. Kok bisa?

Batakhaus dan Pastor Matthäus Bergmann

Pembangunan rumah tradisional ini berawal dari inisiasi seorang pendeta bernama Pater Matthäus Bergmann. Disadur dari situs resmi Batakhaus, tahun 1973-2003, ia mengabdi sebagai pastor di Paroki St. Fransiskus.

Namun, masalah kesehatan membuatnya urung untuk bertugas langsung sebagai misionaris di Indonesia. Akan tetapi, meskipun tidak berangkat langsung ke Indonesia, ia tetap menjalin hubungan erat dengan budaya Batak.

Hubungan yang erat antara Kantor Prokur Misi Kapusin di Münster dan saudaranya, Pastor Johannes, yang bertugas di Sumatra membuat komunikasi dan pertukaran budaya tetap terjalin langsung, khususnya dengan Tanah Batak.

Pembangunan Batakhaus melibatkan warga Warpeloh. Mereka bergotong-royong saling membantu untuk mendirikan replika rumah adat kebanggaan masyarakat Batak Toba itu. Disebut bahwa pembangunannya menggaet banyak warga desa dari berbagai profesi, seperti tukang, petani, sampai pemudanya.

Pada tahun 1978, Batakhaus diresmikan langsung dengan perayaan super meriah. Warga paroki dilibatkan. Tak hanya itu, tamu kehormatan dari Emsland dan Keuskupan Sibolga, Sumatra Utara juga hadir.

Arsitektur dan Filosofi Tiga Dunia

Arsitektur Batakhaus Werpeloh dirancang sebagai “Rumah Satu Ruang” yang merepresentasikan filosofi kosmos masyarakat Batak. Rumah ini dibagi menjadi tiga zona utama yang melambangkan Dunia Bawah, Dunia Tengah atau Bumi, dan Dunia Atas. Struktur ini mencerminkan pandangan tradisional tentang keseimbangan antara tempat tinggal manusia dengan alam spiritual.

Pada bagian bawah rumah, terdapat konstruksi tiang tinggi yang difungsikan sebagai tempat bagi hewan ternak sekaligus penanda bahaya bagi penghuninya. Bagian tengah atau lantai pertama merupakan area hunian manusia yang melambangkan interaksi sosial di dunia nyata. Sementara itu, bagian atap atau Dunia Atas menjadi tempat penyimpanan pusaka suci dan diperuntukkan bagi roh para leluhur.

Karakteristik visual yang paling menonjol adalah atap pelana yang melengkung dan hiasan ornamen di bagian gables atau atap segitiganya. Ornamen-ornamen ini menggunakan perpaduan warna hitam, putih atau kuning muda, serta merah yang masing-masing memiliki makna mendalam.

Meskipun desainnya sangat kental dengan nuansa Sumatra, material yang digunakan sepenuhnya berasal dari lingkungan sekitar Emsland. Fondasi rumah menggunakan batu-batu temuan (findlinge) dari wilayah Hümmling untuk memberikan kekuatan pada struktur bawah bangunan.

Sementara itu, jerangkanya dibuat menggunakan kayu ek tua dan kayu ek rawa atau Emseiche berwarna hitam yang sangat kokoh. Uniknya, Batakhaus juga menggunakan material alang-alang atau ilalang (reet) sebagai penutup atap menggantikan ijuk yang biasa ditemukan di Sumatra.

Penggunaan material lokal ini menciptakan perpaduan harmonis antara teknik bangunan tradisional Jerman dengan estetika arsitektur Indonesia.

Sebagai informasi, harga tiket masuk ke situs budaya ini sangat terjangkau. Cukup merogoh kocek sebesar 1 Euro untuk kategori dewasa dan 0,50 Euro untuk anak-anak mulai usia 6 tahun.

Selain itu, tersedia pula layanan tur berpemandu bagi kelompok besar dengan biaya 10 Euro per grup untuk penjelasan mendalam mengenai budaya Batak dan Pulau Sumatra.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.