Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Nur Khalik Ridwan Soroti Dominasi Perspektif Asing dalam Kajian Jawa Modern

Nur Khalik Ridwan Soroti Dominasi Perspektif Asing dalam Kajian Jawa Modern

nur-khalik-ridwan-soroti-dominasi-perspektif-asing-dalam-kajian-jawa-modern
Nur Khalik Ridwan Soroti Dominasi Perspektif Asing dalam Kajian Jawa Modern
service

Jakarta, NU Online

Peneliti kebudayaan Islam Jawa, Nur Khalik Ridwan, menilai kajian Jawa modern selama ini masih didominasi perspektif akademisi asing. Menurutnya, pendekatan yang berkembang juga belum mampu menjelaskan secara utuh hubungan antara Islam dan kebudayaan Jawa sehingga menyulitkan masyarakat memahami khazanah naskah Jawa secara komprehensif.

Hal tersebut disampaikan Nur Khalik dalam program Menjadi Indonesia yang ditayangkan melalui kanal YouTube NU Online, Sabtu (4/7/2026).

Nur Khalik menjelaskan, kegelisahannya bermula ketika menelusuri berbagai naskah babad dan serat Jawa untuk mencari dasar-dasar sejarah serta kebudayaan masyarakat Jawa. Dalam proses itu, ia menemukan berbagai persoalan metodologis yang kerap membingungkan pembaca, terutama generasi muda yang ingin mendalami sejarah Jawa.

“Ketika kita mencari rujukan untuk mencari dasar-dasar masa lalu ya untuk pengembangan konteks ke depan, kita menemukan berbagai banyak narasi-narasi cerita yang ada di babad, yang ada di serat itu saling ada yang bertolak belakang. Ada yang bahkan bertentangan,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan menjadi semakin rumit karena banyak kajian modern tentang Jawa disajikan dalam bentuk kesimpulan akhir tanpa menjelaskan secara memadai metode pembacaan terhadap sumber-sumber yang digunakan.

“Generasi kontemporer itu kan yang menekuni Jawa. Tapi belum mengemukakan rumusan bagaimana metode untuk membaca naskah-naskah ini. Sehingga kita disajikan oleh kajian-kajian itu suatu barang jadi,” lanjutnya.

Ia menilai kondisi tersebut membuat pembaca kesulitan ketika mencoba mencocokkan hasil kajian modern dengan isi naskah-naskah babad yang kerap memiliki beragam versi. Akibatnya, tidak sedikit orang mengalami kebuntuan dalam memahami sejarah dan kebudayaan Jawa.

Nur Khalik juga menyoroti dominasi akademisi asing dalam kajian Jawa. Menurutnya, sebagian besar penelitian penting mengenai Jawa memang dilakukan oleh sarjana luar negeri, baik yang diterbitkan dalam bahasa asing maupun yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

“Mayoritas kajian tentang Jawa kan sebenarnya dilakukan oleh orang asing ya. Baik yang dilakukan dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ataupun yang masih dalam bahasa mereka,” katanya.

Meski mengakui kontribusi para peneliti tersebut, Nur Khalik menilai perspektif dunia pesantren dan masyarakat Muslim Jawa belum sepenuhnya terwakili dalam berbagai penelitian yang ada. Karena itu, ia memandang perlu adanya upaya yang lebih serius dari kalangan Muslim Jawa sendiri untuk mengembangkan metode pembacaan terhadap naskah-naskah babad dan serat.

“Perlu ada yang masuk dunia ini. Mengenal terus bagaimana metode untuk mendekati khazanah-khazanah yang begitu banyak ini,” ujarnya.

Bagi Nur Khalik, pengembangan metodologi kajian Jawa merupakan kebutuhan penting agar generasi sekarang tidak hanya menjadi konsumen hasil penelitian, tetapi juga mampu membaca, mengkritisi, dan memahami secara langsung warisan intelektual yang tersimpan dalam berbagai naskah Jawa. Dengan demikian, kajian tentang Jawa tidak berhenti sebagai produk akademik, melainkan menjadi bagian dari ikhtiar memahami akar kebudayaan masyarakat secara lebih mendalam.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.