Thu,16 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. P2G Ungkap Lima Faktor Penyebab Sekolah Negeri Sepi Peminat

P2G Ungkap Lima Faktor Penyebab Sekolah Negeri Sepi Peminat

p2g-ungkap-lima-faktor-penyebab-sekolah-negeri-sepi-peminat
P2G Ungkap Lima Faktor Penyebab Sekolah Negeri Sepi Peminat
service

Jakarta, NU Online

Fenomena menurunnya minat masyarakat terhadap sejumlah sekolah dasar (SD) negeri dalam beberapa tahun terakhir dinilai dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi demografi hingga persepsi orang tua terhadap kualitas pendidikan.

Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri, mengatakan faktor pertama yang perlu dicermati adalah kondisi populasi. Menurutnya, sepinya jumlah pendaftar di sejumlah SD negeri, bahkan ada yang hanya menerima tiga siswa seperti di Kota Semarang, Jawa Tengah, perlu dilihat dari aspek demografi.

“Pertama, cek populasinya,” ujarnya kepada NU Online, Kamis (16/7/2026).

Faktor kedua adalah persepsi orang tua dalam memilih sekolah bagi anak. Sebagai pengambil keputusan, orang tua umumnya menginginkan anak memperoleh pendidikan dasar yang berkualitas.

“Secara positif mereka ingin anaknya mendapatkan pendidikan dasar yang baik,” kata Iman.

Menurutnya, persepsi tersebut turut dipengaruhi oleh strategi promosi sekolah swasta yang semakin masif, terutama melalui media sosial. Branding yang kuat membuat sebagian masyarakat memandang sekolah swasta memiliki keunggulan tertentu dibandingkan sekolah negeri.

“Sekolah swasta lebih aktif membranding dirinya sehingga dianggap memiliki kualitas lain yang tidak dimiliki sekolah negeri,” jelasnya.

Faktor berikutnya adalah belum meratanya kualitas pendidikan di sekolah negeri. Iman menilai masyarakat telah memiliki persepsi mengenai sekolah negeri yang dianggap unggul dan sekolah yang kualitasnya masih tertinggal.

“Ini masalah laten bahwa kualitas SD negeri yang bermutu belum merata. Masyarakat juga tahu mana SD negeri yang dianggap unggul, terbaik, dan bagus, serta mana yang belum memiliki kualitas yang sama,” ungkapnya.

Karena itu, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk memastikan pemerataan mutu pendidikan di seluruh sekolah negeri.

Selain meningkatkan kualitas pembelajaran, menurut Iman, sekolah negeri juga perlu memiliki nilai tambah, seperti prestasi akademik maupun nonakademik, agar semakin diminati masyarakat.

“Sekolah negeri juga harus memiliki nilai tambah, termasuk prestasi dan kualitas akademik yang dapat meningkatkan daya tarik sekolah,” ujarnya.

Iman menilai kombinasi berbagai faktor tersebut menjadi penyebab menurunnya jumlah peminat SD negeri dalam beberapa tahun terakhir.

“Hal-hal itulah yang menyebabkan fenomena SD negeri mengalami penurunan peminat dalam beberapa tahun terakhir,” tuturnya.

Meski demikian, ia melihat adanya sisi positif dari fenomena tersebut. Menurutnya, masyarakat kini semakin menyadari pentingnya memilih pendidikan yang bermutu bagi anak sejak jenjang sekolah dasar.

“Itu adalah sebuah kesadaran yang baik,” tandasnya.

Fenomena sepinya peminat juga terlihat pada penerimaan peserta didik tahun ajaran baru di sejumlah daerah di Pulau Jawa. Ada sekolah yang tetap menyambut peserta didik baru dengan meriah, namun ada pula yang tidak memperoleh murid sama sekali.

Salah satunya terjadi di SDN Purwoyoso 01, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Sekolah tersebut hanya menerima tiga peserta didik baru. Meski demikian, ketiganya tetap disambut meriah pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), termasuk oleh maskot MPLS, Si Badut.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.