Thu,6 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Pagi Kuliah Kedokteran Hewan, Malam Belajar Arsitektur: Kisah Hana Membuat Tugas Trimatra dari Tulang Ayam

Pagi Kuliah Kedokteran Hewan, Malam Belajar Arsitektur: Kisah Hana Membuat Tugas Trimatra dari Tulang Ayam

pagi-kuliah-kedokteran-hewan,-malam-belajar-arsitektur:-kisah-hana-membuat-tugas-trimatra-dari-tulang-ayam
Pagi Kuliah Kedokteran Hewan, Malam Belajar Arsitektur: Kisah Hana Membuat Tugas Trimatra dari Tulang Ayam
service

Dhia Hana Putri Saraswati


Ada satu momen yang unik saat Hana menempuh pendidikan di Arsitektur. Saat mahasiswa lain membawa stik es krim, kayu balsa, atau karton untuk mengerjakan tugas trimatra, Dhia Hana Putri Saraswati malahan bawa tulang ayam yang sudah dibersihkan dan diawetkan.

Trimatra adalah karya tiga dimensi yang memiliki panjang, lebar, dan tinggi. Dalam pendidikan arsitektur, tugas trimatra digunakan untuk melatih mahasiswa memahami bentuk, ruang, komposisi, dan struktur sebelum masuk ke tahap perancangan bangunan yang lebih kompleks.

Nah pertanyaannya, kenapa Hana bawa tulang ayam ke kuliah arsitektur? Sebab, bagi Hana, tulang ayam adalah benda yang akrab ditemuinya saat belajar anatomi di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.

Oleh karena itu, ia ingin benda yang biasa dipakai untuk mempelajari struktur tubuh hewan itu justru berubah menjadi bagian dari karya tiga dimensi di kelas Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Hana Jalani Dua Perkuliahan: Arsitektur dan Dokter Hewan

Sebenarnya, apa yang dilakukan Hana bukan untuk cari sensasi. Perempuan asal Surabaya tersebut memang sedang menjalani dua perkuliahan sekaligus di dua kampus berbeda.

Pagi hingga sore, ia mengikuti perkuliahan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair). Setelah itu, ia berpindah kampus untuk mengikuti kuliah Arsitektur di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) hingga malam hari.

Rutinitas tersebut dijalani hampir setiap hari selama bertahun-tahun. Karena itulah, tulang ayam yang dibawanya ke kelas Arsitektur seolah menjadi gambaran kecil dari dua dunia yang setiap hari ia jalani secara bersamaan.

Menurutnya, baik kedokteran hewan maupun arsitektur sama-sama berupaya menciptakan kehidupan yang lebih baik. Jika kedokteran hewan berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan hewan, arsitektur berperan menghadirkan lingkungan hidup yang sehat dan nyaman bagi penghuninya.

“Di dunia medis ada istilah medicine is an art, sementara dalam arsitektur ada architecture is art. Keduanya sama-sama memiliki seni untuk membantu kehidupan,” ujar Hana.

Cara pandang itulah yang membuatnya mampu menemukan titik temu di antara dua disiplin ilmu yang selama ini dianggap berjauhan. Bahkan, ia mulai membayangkan bagaimana ilmu kesehatan hewan dan ilmu desain bangunan bisa saling melengkapi di masa depan.

Kuliah di Dua Tempat Jelas Bukan Perkara Mudah

Ceritanya memang unik. Akan tetapi, jalan yang ditempuh Hana tentu tidak selalu berisi cerita menarik. Menjalani satu jurusan saja sudah cukup menyita waktu dan tenaga bagi banyak mahasiswa. Apalagi Hana harus membagi fokusnya ke dua bidang yang memiliki karakter sangat berbeda.

“Tantangan terbesar adalah menyambungkan dua cara berpikir yang berbeda. Dari yang fokus pada makhluk hidup dan kesehatan, saya harus beradaptasi dengan desain, struktur bangunan, warna, dan visualisasi,” katanya.

Ada kalanya rasa lelah datang bersamaan dengan tumpukan tugas dan jadwal kuliah yang padat. Terlebih ketika tugas akhir di Arsitektur harus berjalan beriringan dengan pendidikan profesi kedokteran hewan yang juga menuntut komitmen tinggi.

“Tentu ada puluhan kali saya berpikir untuk berhenti. Biasanya saat tubuh dan pikiran sudah sangat lelah. Tetapi di balik pikiran untuk menyerah itu, ada ribuan doa dan semangat dari orang tua, keluarga, dan dosen yang membuat saya bertahan,” ungkapnya.

Meski demikian, dari pengalaman menjalani dua perkuliahan tersebut, Hana justru menemukan cita-cita yang semakin jelas. Ia ingin membangun peternakan modern dan rumah sakit hewan yang tidak hanya memenuhi standar kesehatan, tetapi juga dirancang dengan konsep arsitektur yang baik.

Baginya, kesehatan hewan dan kualitas lingkungan tidak bisa dipisahkan. Hewan yang hidup di lingkungan sehat akan menghasilkan kualitas pangan yang lebih baik. Sementara manusia yang tinggal di bangunan yang sehat dan nyaman juga memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.