Thu,6 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Psikiater Ungkap Burnout Bisa Bikin Dokter-Nakes Kehilangan Empati

Psikiater Ungkap Burnout Bisa Bikin Dokter-Nakes Kehilangan Empati

psikiater-ungkap-burnout-bisa-bikin-dokter-nakes-kehilangan-empati
Psikiater Ungkap Burnout Bisa Bikin Dokter-Nakes Kehilangan Empati
service

Jakarta

Baru-baru ini, ramai kasus pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan harus menunggu delapan jam untuk mendapat ruang rawat inap. Kasus tersebut menjadi sorotan setelah sejumlah dokter dan tenaga kesehatan melontarkan komentar bernada merendahkan terhadapnya di media sosial.

Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, mengatakan kasus tersebut perlu dilihat dari berbagai sisi. Di satu sisi, pasien memang mengalami penderitaan karena harus menunggu pelayanan dalam waktu lama. Namun di sisi lain, pada saat yang sama tenaga kesehatan juga dapat menghadapi tekanan besar dalam menjalankan tugasnya.

“Rumah sakit menghadapi keterbatasan tempat tidur, tingginya jumlah pasien, beban administrasi, serta sistem pembiayaan yang sering kali menimbulkan frustrasi bagi para petugas di lapangan,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (5/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Artinya, kedua belah pihak sama-sama dapat menjadi korban dari sistem pelayanan kesehatan yang belum ideal,” lanjutnya.

Lahargo mengatakan tekanan pekerjaan yang terus-menerus juga dapat memengaruhi kondisi mental tenaga kesehatan. Mereka dapat mengalami burnout, compassion fatigue, hingga moral injury.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menurunkan kapasitas seseorang untuk berempati apabila tidak dikenali dan ditangani dengan baik. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental tenaga kesehatan juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.

Meski demikian, Lahargo menegaskan bahwa tekanan yang dialami tenaga kesehatan tidak dapat menjadi pembenaran untuk melontarkan komentar yang merendahkan martabat pasien, termasuk mendorong seseorang untuk melakukan bunuh diri.

Ia mengingatkan bahwa ucapan yang disampaikan kepada orang lain dapat memberikan pengaruh besar, terutama ketika ditujukan kepada seseorang yang sedang menghadapi situasi sulit.

“Namun, seberat apa pun tekanan yang dihadapi, tidak ada situasi yang dapat membenarkan komentar yang merendahkan martabat seseorang atau mendorong orang lain untuk bunuh diri. Kata-kata bukan sekadar rangkaian huruf. Kata-kata dapat menjadi obat, tetapi juga dapat menjadi luka yang memperdalam penderitaan seseorang,” ucapnya.

TERUSKAN MEMBACA KLIK DI SINI.

(som/som)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.