Pelataran Madrasah Ibtidaiyah Al-Ikhlas, Desa Sukatani, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sesak dengan para perempuan dari sekitar Gunung Gede Pangrango, akhir 2025. Mereka berkumpul dan berdiskusi dalam acara bertajuk “Energi Hijau vs Pelestarian Ruang Hidup”. “Tolak geothermal! Tolak geothermal! Tolak geothermal!” Seru mereka di tengah diskusi. Hadir juga Inayah Wahid, putri bungsu Abdurrahman Wahid (Gus Dur)–Presiden keempat Indonesia–, warga terdampak proyek panas bumi di Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan dan Gunung Tampomas, Kabupaten Sumedang, juga sejumlah akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM). Para narasumber memotivasi dan bertukar pengalaman pada warga dalam menghadapi proyek panas bumi. Inayah bilang, proyek itu bukan saja merusak lingkungan sekitar Gunung Gede Pangrango, tetapi berdampak pada seluruh masyarakat, khususnya Jabodetabek. “Apa yang akan terjadi kalau sampai kita membiarkan ruang hidup kita dirampas, gunung-gunung kita ditambang, dibobol habis-habisan, yang akan rusak bukan hanya Gunung Gede Pangrango. Yang mendapatkan kerugian bukan hanya warga Sukatani, tapi Indonesia!” katanya. Dia pun mengingatkan peran perempuan dalam gerakan menentang proyek yang merusak alam. Di banyak daerah, perempuan jadi garda terdepan menolak proyek perusak lingkungan, seperti di Rempang Eco City dan Padarincang, Banten dan lain-lain. Karena itu, perempuan Gunung Gede Pangrango tak perlu takut untuk lantang menentang proyek panas bumi. Merekalah yang paling rentan kerusakan alam. “Kalau air kering, enggak ada, ibu-ibu yang mau masak dan mencuci bagaimana?” Perempuan Gunung Gede Pangrango berpose mengepalkan tangan, tanda perlawanan terhadap proyek panas bumi. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia. Nina, warga Kampung Tumaritis, salah yang mengamini. Dia masih ingat pernah diremehkan, saat berdiri paling depan bersama saudarinya, mengadang giat…This article was originally published on Mongabay
Para Perempuan Gunung Gede Pangrango Khawatir Proyek Panas Bumi
Para Perempuan Gunung Gede Pangrango Khawatir Proyek Panas Bumi





Comments are closed.