Mubadalah.id – Obrolan parenting langsung terasa dekat sejak langkah pertama memasuki ruang acara yang difasilitasi oleh Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina di Cirebon, dengan Nyai Nurul Bahrul Ulum yang memandu jalannya diskusi dengan hangat.
Suasana tidak terasa formal atau berjarak. Sebaliknya, percakapan mengalir seperti cerita yang pelan-pelan membuka cara pandang baru: tentang anak, masa depan, dan tentang dunia yang tidak selalu adil.
Ada alasan yang cukup personal di balik kehadiranku hari itu, meski statusku belum menikah dan belum memiliki anak: keinginan untuk melihat lebih dekat sosok yang selama ini menjadi tokoh inspirasiku.
Di tanganku, ada buku berwarna kuning cerah berjudul Parenting di Negara Gagal karya Kalis Mardiasih. Judulnya aja udah cukup mengusik. “Negara gagal”: kata yang mungkin terdengar keras, tapi justru terasa jujur.
Tampaknya, ini juga berangkat dari kegelisahan penulis yang sangat personal: sebagai seorang ibu, ia tidak hanya menulis dari jarak aman, tetapi dari pengalaman yang ia jalani sendiri. Keresahan itu terasa nyata, tidak dibuat-buat. Karena, sebagaimana orang tua lainnya, ia tumbuh dari pertemuan antara harapan dan realitas sistem yang sering kali tidak berpihak.
Melihat Parenting dari Sudut yang Lebih Luas
Di sana, aku tidak hanya mendengar tentang parenting sebagai hubungan antara orang tua dan anak. Aku justru diajak melihat sesuatu yang lebih luas: bahwa membesarkan anak tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bersinggungan dengan lingkungan, sistem, negara, dan kebijakan. Bahkan dengan hal-hal yang sering kita anggap “bukan urusan kita”.
Kita sering diajarkan bahwa menjadi orang tua yang baik cukup dengan mencintai anak, mendidiknya dengan nilai-nilai yang benar: jujur, rajin, punya mimpi, dan berakhlak baik. Dan itu benar. Sangat benar.
Tapi ternyata, itu belum cukup.
Karena di luar rumah, anak-anak kita akan bertemu dunia yang tidak selalu adil. Mereka akan hidup dalam sistem yang kadang tidak berpihak. Mereka akan tumbuh di tengah realitas sosial yang tidak semua orang punya akses yang sama.
Dan di titik itu, aku seperti ditampar pelan.
Selama ini, kita terlalu sering menaruh seluruh beban masa depan anak di pundak orang tua. Seolah-olah, kalau anak gagal, itu karena orang tuanya kurang berusaha. Seolah-olah, kalau anak berhasil, itu semata karena kerja keras keluarga.
Padahal, ada hal besar lain yang ikut menentukan: sistem.
Negara yang “Gagal”
Bayangkan seorang anak yang sudah diajarkan untuk bermimpi tinggi. Tapi sekolahnya minim fasilitas. Gurunya terbatas. Lingkungannya tidak mendukung. Akses terhadap peluang begitu sempit.Atau anak yang sudah dididik untuk jujur, tapi tumbuh di lingkungan yang penuh praktik ketidakadilan. Di mana kejujuran justru sering kalah oleh koneksi dan kekuasaan.
Apa yang bisa kita harapkan?
Di titik itu, aku mulai mengerti maksud dari “parenting di negara gagal”. Bukan berarti kita benar-benar hidup di negara yang sepenuhnya gagal. Tapi ada banyak celah yang membuat proses membesarkan anak menjadi lebih sulit dari seharusnya.
Dan sering kali, kita tidak sadar akan itu.
Pentingnya Kesadaran “Politik”
Di acara itu, aku melihat banyak ibu-ibu. Wajah mereka hangat, tapi juga menyimpan kegelisahan. Mungkin aku belum paham rasanya. Tapi siapa sih yang tidak ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya? Di sinilah aku merasa, ada satu pesan penting yang perlu kita bicarakan lebih sering, dan mungkin selama ini kita hindari: orang tua tidak bisa apatis terhadap isu politik.
Iya, politik. Kata yang sering terasa jauh, rumit, bahkan melelahkan. Kata yang sering kita anggap “bukan urusan kita”, apalagi dalam konteks parenting dan rumah tangga. Tapi ternyata, justru di situlah letak persoalannya.
Kebijakan pendidikan, misalnya, itu politik. Akses kesehatan, itu politik. Lapangan kerja, upah layak, keamanan lingkungan, itu semua politik. Dan semua itu akan langsung atau tidak langsung memengaruhi kehidupan anak-anak kita. Baik sekarang, atau nanti.
Kalau kita ingin anak kita tumbuh di sekolah yang baik, kita tidak bisa tidak peduli pada kebijakan pendidikan. Kita ingin anak kita hidup sehat, kita tidak bisa abai terhadap sistem kesehatan. Menjamin masa depannya yang layak, kita tidak bisa menutup mata terhadap arah kebijakan negara.
Jadi sebenarnya, ketika kita memilih untuk tidak peduli, kita sedang menyerahkan masa depan anak kita pada sesuatu yang tidak kita pahami. Dan itu berisiko.
Aku jadi teringat satu hal sederhana: selama ini kita sibuk memilih sekolah terbaik untuk anak, tapi jarang sekali bertanya: siapa yang menentukan kualitas pendidikan di negeri ini?
Kita sibuk mengajarkan anak untuk disiplin, tapi jarang bertanya, apakah sistem di luar sana memberi ruang yang adil untuk mereka yang sudah berusaha? Berharap anak kita sukses, tapi sering lupa bahwa kesuksesan itu tidak hanya ditentukan oleh usaha individu, melainkan juga oleh struktur yang mengelilinginya.
Dan struktur itu, lagi-lagi, dibentuk oleh politik.
Tidak Harus Besar, Tapi Berarti
Tentu ini bukan berarti kita semua harus jadi aktivis. Bukan berarti setiap orang tua harus turun ke jalan. Tidak. Tapi setidaknya, kita perlu melek. Terkait informasi, kebijakan, dan arah perubahan. Karena dari situlah kita bisa mulai mengambil peran, sekecil apa pun itu. Mungkin dengan memilih pemimpin yang tepat. Atau dengan ikut menyuarakan isu yang penting. Bisa juga dengan tidak diam ketika ada ketidakadilan.
Hal-hal kecil, tapi berdampak besar.
Karena di era seperti sekarang, parenting tidak lagi bisa kita pahami sebatas upaya memenuhi kebutuhan anak atau memastikan mereka tumbuh dengan nilai-nilai baik di dalam rumah. Tanggung jawab itu bergerak lebih jauh: menyentuh cara kita melihat dunia, cara kita membaca arah kebijakan, dan cara kita memilih untuk peduli.
Pada akhirnya, anak-anak, siapa pun mereka nanti, akan hidup di dunia yang terbentuk hari ini. Maka, pertanyaannya bukan hanya tentang bagaimana membesarkan mereka. Lebih dari itu: sejauh mana kita mau ikut menjaga dunia tempat mereka akan tumbuh. []





Comments are closed.