Arina.id – Seribu alasan bisa digunakan oleh Donald Trump dalam kebijakan geopolitiknya terhadap negara-negara lain di dunia. Tapi hakikat tujuan presiden Amerika Serikat (AS) tersebut justru terlihat dalam ending cerita; intervensi dengan cara menyamun, atau dalam diksi satirnya “pembajakan” pemerintahan sebuah negara secara pelan-pelan.
Ini yang terjadi dalam ketegangan dengan Venezuela beberapa waktu lalu. Dalih memerangi kejahatan narkoba, Trump kemudian menyerang Caracas dan menculik presidennya, Nicolas Maduro. Lalu di ending cerita, Trump menawarkan penggantian presiden, kemudian menyorongkan proposal dan menegosiasikan lagi pembagian produksi minyak Venezuela, negara komunis yang secara ideologi memiliki marka tegas dengan Paman Sam itu.
Apakah Trump berhenti? Tidak. Kini ia mengalihkan terornya ke Kuba setelah perkembangan terbaru di Venezuela, dengan cara yang mirip pula, yakni mendorong tekanan politik melalui agen-agennya di sana sembari membuka peluang negosiasi untuk mengakhiri pemerintahan komunis di negara tersebut.
Anadolu mengutip laporan Wall Street Journal menyebutkan kalau Washington tengah mencari sekutu di dalam pemerintahan Kuba, yang harapannya bisa membantu membuka jalur perundingan sebelum akhir tahun ini, setelah keberhasilan penyingkiran Nicolas Maduro dari Venezuela.
Seorang pejabat Amerika menilai kondisi ekonomi Kuba berada di ambang kolaps dan pemerintah Havana semakin rentan setelah kehilangan dukungan penting dari Venezuela. Meski belum ada rencana rinci membongkar pemerintahan Kuba, penangkapan Maduro dan konsesi yang menyertainya dipandang sebagai contoh sekaligus peringatan bagi Havana.
Narasi tentang semacam itu memang menjadi ciri khas Amerika sebelum melakukan intervensi di satu negara, bahkan menghancurkannya. Di Venezuela narasi serupa dilempar, di Iran, lalu Kuba. Jauh sebelumnya, Amerika juga melakukan hal serupa ke Irak, dan beberapa negara di Timur Tengah.
Dalam kasus Kuba, Trump pernah menulis status di media sosialnya pada 11 Januari 2026, yang intinya mendesak pemerintah Kuba segera mencapai kesepakatan. Ia juga menyatakan tidak akan ada lagi aliran minyak maupun dana ke Kuba. Menurut laporan tersebut, pejabat Amerika Serikat juga telah bertemu dengan kelompok diaspora Kuba di Miami dan Washington untuk mengidentifikasi tokoh di dalam pemerintahan Kuba yang mungkin bersedia bernegosiasi.
Operasi penangkapan Maduro disebut-sebut melibatkan bantuan dari pihak internal, sementara sebuah serangan militer Amerika Serikat di Caracas dilaporkan menewaskan puluhan personel militer dan intelijen Kuba yang bertugas melindungi Maduro.
Meskipun Washington belum secara terbuka mengancam bakal mengerahkan operasi militer terhadap Kuba, sejumlah pejabat mengatakan operasi di Venezuela dimaksudkan sebagai sinyal atas konsekuensi jika pemerintah Havana menolak tekanan.
Penilaian intelijen Amerika Serikat menggambarkan ekonomi Kuba dalam kondisi kritis, ditandai dengan kelangkaan barang kebutuhan pokok, obat-obatan, dan pasokan listrik. Pemerintah AS disebut berencana memperlemah Kuba lebih lanjut dengan memutus pasokan minyak Venezuela serta menargetkan misi medis Kuba di luar negeri yang menjadi sumber utama devisa.
Seorang pejabat Gedung Putih menuding para pemimpin Kuba sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kehancuran ekonomi negaranya, seraya kembali mendesak Havana untuk segera mencapai kesepakatan sebelum terlambat.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan bahwa kepentingan nasional AS adalah mendorong pemerintahan demokratis di Kuba serta mencegah kekuatan militer dan intelijen negara pesaing beroperasi di pulau tersebut. Sejumlah pejabat mengatakan Presiden Trump lebih memilih strategi tekanan maksimum yang disertai ruang negosiasi, ketimbang pendekatan perubahan rezim secara konvensional.
Meski demikian, sebagian sekutu Trump memperkirakan runtuhnya pemerintahan komunis Kuba, meskipun mengingatkan potensi ketidakstabilan yang dapat menyertainya.
Pemerintahan Kuba sendiri telah bertahan dari puluhan tahun tekanan Amerika Serikat. Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menegaskan tidak akan ada penyerahan atau kompromi yang didasarkan pada paksaan atau intimidasi.
Di Havana, pemadaman listrik yang kian parah dan kelangkaan bahan bakar membuat suasana malam hari semakin sunyi. Protes warga kerap ditunjukkan secara diam-diam melalui bunyi ketukan panci dari dalam rumah, sebagai simbol keputusasaan yang terus meningkat.





Comments are closed.