Sat,15 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Pemberdayaan warga jadi solusi efektif meredam abrasi: Pelajaran dari pesisir Bulukumba

Pemberdayaan warga jadi solusi efektif meredam abrasi: Pelajaran dari pesisir Bulukumba

pemberdayaan-warga-jadi-solusi-efektif-meredam-abrasi:-pelajaran-dari-pesisir-bulukumba
Pemberdayaan warga jadi solusi efektif meredam abrasi: Pelajaran dari pesisir Bulukumba
service

● Indonesia memiliki banyak kawasan pesisir rawan abrasi ekstrem, seperti di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

● Pemberdayaan masyarakat setempat amat krusial untuk mencegah abrasi.

● Pembangunan kawasan pesisir yang sehat berdampak langsung pada peningkatan ekonomi dan kesehatan warga setempat.


Ancaman gelombang ekstrem, abrasi, dan perubahan iklim merupakan tantangan nyata bagi wilayah pesisir Indonesia, tidak terkecuali di daerah Bintarore, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Kawasan ini termasuk wilayah prioritas rawan bencana. Ia berada di zona perbatasan antara aktivitas perkotaan dan laut, menjadikannya area dengan tekanan ekologis tinggi.

Tercatat, setiap tahun, gelombang tinggi menghantam sepanjang pesisir sehingga merusak tambak, permukiman, dan fasilitas umum. Kondisi ini bahkan tak jarang menghentikan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Tekanan lingkungan memburuk karena degradasi ekosistem mangrove akibat alih fungsi lahan menjadi tambak dan permukiman dalam satu dekade terakhir. Hilangnya mangrove secara signifikan mengurangi kemampuan alami wilayah dalam menahan hempasan gelombang dan erosi pantai.

Namun, kajian kami menunjukkan, kerentanan tersebut bisa diatasi secara efektif melalui model konservasi berbasis partispasi masyarakat. Model ini juga kami kaitkan dengan manfaat ekonomi, sehingga memberikan insentif nyata bagi masyarakat penjaga lingkungan.


Read more: Bagaimana agar proyek jumbo tambak di pantura tidak mengancam mangrove dan masyarakat pesisir


Dari dan untuk masyarakat setempat

Kami menjalankan program Kolaborasi Sosial Membangun Bangsa Kosabangsa di Bintarore di penghujung tahun lalu.

Dalam program ini, kami menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA), yakni metode yang menempatkan warga sebagai pelaku utama dalam pelestarian kawasan pesisir sejak tahap awal.

Mula-mula, kami mengajak para akademisi dan warga terlibat aktif dalam tahap asesmen bersama untuk memetakan sumber daya, mengidentifikasi sebaran mangrove eksisting, menentukan area kritis, hingga mengenali titik rawan bencana.

Dari sana, proses berlanjut ke tahap implementasi atau aksi rehabilitasi massal, yakni menanam kembali mangrove yang rusak. Kami melatih masyarakat melakukan pembibitan mangrove dan cara menanam mangrove.

Setelahnya, kami melibatkan masyarakat dalam evaluasi/pemeliharaan melalui pemantauan keberhasilan penanaman bibit dan perlindungan area konservasi.

Denah lokasi program pemberdayaan di Kelurahan Bintarore, Bulukamba, Sulawesi Selatan. Author provided

Hasil monitoring awal menunjukkan tingkat keberhasilan hidup bibit mangrove di atas 70%. Tingkat keberhasilan ini terbilang baik, mengingat kondisi substrat (endapan di dasar pesisir) yang berlumpur dan tekanan pasang surut.
Antusiasme warga sangat tinggi dengan program ini. Partisipasi aktif masyarakat mencapai 95%.


Read more: Lebih dari separuh kawasan lindung karang Indonesia bakal alami pemutihan massal pada 2044 akibat perubahan iklim


Dengan langsung melibatkan masyarakat, program ini berhasil mengubah cara pandang warga dari eksploitatif menjadi protektif terhadap mangrove.

Mereka yang sebelumnya mungkin hanya memandang mangrove sebagai sumber kayu bakar atau lahan potensial tambak, kini mulai memahami fungsi utama mangrove sebagai penyangga ekosistem pesisir (green belt) yang secara langsung melindungi keselamatan wilayah dan mata pencaharian mereka dari gelombang ekstrem.

Pemberdayaan ekonomi berbasis konservasi

Selain memulihkan lingkungan, program ini juga menguatkan ekonomi masyarakat.

Kami memberikan pelatihan diversifikasi produk olahan pangan berbahan dasar mangrove non-kayu kepada warga, seperti pemanfaatan buah pidada menjadi dodol dan sirup.

Dua target utama program pemberdayaan. Grafis: Andi Ibnu (The Conversation Indonesia)

Dalam hal ini, kelompok masyarakat yang menjadi sasaran utama kami adalah perempuan pesisir.

Kami memberikan mereka pelatihan teknologi sederhana untuk menjamin kualitas produk olahan hingga pelatihan digital marketing (WhatsApp Bisnis, Shopee, TikTok Shop) untuk mendukung branding dan pemasaran produk mereka.

Ketika masyarakat bisa menghasilkan cuan tanpa membabat mangrove, mereka memiliki motivasi ekonomi yang kuat untuk melestarikannya.

Hal ini menciptakan insentif yang kuat untuk beralih dari praktik eksploitatif (penebangan kayu) menuju praktik pemanfaatan yang lestari.

Mengorganisasi masyarakat agar berkelanjutan

Agar program ini bisa berkelanjutan, masyarakat setempat perlu dibekali kemampuan mengelola kegiatan secara mandiri. Salah satunya melalui pembentukan kelembagaan lokal.

Kami lantas membantu pembentukan kelembagaan di tingkat dusun pesisir yang didominasi kaum muda.

Kami mendampingi mereka dalam menyusun Rencana Aksi Komunitas (RAK), yang mencakup jadwal pemantauan rutin, pengukuran tingkat keberhasilan hidup bibit, dan strategi pengamanan lokasi rehabilitasi dari potensi perusakan.

Sistem pemantauan, pemeliharaan, dan pembersihan sampah secara mandiri penting untuk menjaga kualitas kawasan.

Memberikan kepercayaan kepada masyarakat setempat terbukti efektif menanamkan rasa tanggung jawab, menjadikan konservasi sebagai kegiatan rutin yang digerakkan oleh inisiatif lokal.

Selain itu, diperlukan juga integrasi dengan struktur dan perangkat pemerintahan setempat.

Evaluasi program sementara menunjukkan, sudah ada komitmen lisan dari pemerintah kelurahan setempat untuk mengintegrasikan rencana aksi masyarakat ke dalam program desa/kelurahan.

Meskipun masih bersifat verbal, pengakuan ini merupakan langkah awal yang penting. Integrasi RAK ke dalam Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKPDes) menjadi indikator keberlanjutan kelembagaan, karena memastikan peluang alokasi sumber daya desa di masa mendatang.

Dengan pendekatan yang menggabungkan pemberdayaan masyarakat, rehabilitasi ekosistem, dan penguatan ekonomi lokal, program ini membuktikan bahwa perlindungan pesisir tidak hanya soal menahan gelombang atau abrasi, tetapi juga soal membangun komunitas yang tangguh dan mandiri.

Ketika warga memahami nilai mangrove dan dilibatkan langsung dalam pemeliharaannya, maka keberlanjutan lingkungan, ekonomi, dan kesehatan masyarakat lokal pun tumbuh secara bersamaan.


Read more: Bagaimana perubahan iklim memperparah ketimpangan gender di kawasan pesisir?



0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.