Ditulis oleh Harun Rasyid •
KABARBURSA.COM – Lonjakan penjualan mobil listrik di Eropa, Asia Tenggara, dan Amerika Latin pada 2025 terjadi di tengah derasnya arus kendaraan listrik buatan China ke pasar global.
Mengacu data penjualan menunjukkan bahwa pertumbuhan di berbagai kawasan tersebut berlangsung seiring dengan meningkatnya ekspor model-model asal China, yang didorong oleh tekanan persaingan harga di pasar domestik negeri itu.
Secara global, penjualan kendaraan listrik mencapai 20,7 juta unit pada 2025, naik 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka itu ditopang oleh penjualan kuat pada akhir tahun, dengan sekitar 2,1 juta unit terjual pada Desember. Hampir seluruh kawasan mencatatkan pertumbuhan, kecuali Amerika Utara.
China tetap menjadi pasar terbesar dengan penjualan 12,9 juta unit, tumbuh 17 persen. Di luar China, Eropa mencatatkan lonjakan 33 persen menjadi 4,3 juta unit.
Asia Tenggara hampir menggandakan penjualan, sementara Amerika Selatan dan Tengah tumbuh 49 persen. Korea Selatan juga membukukan kenaikan 50 persen.
Sebagian besar pertumbuhan di luar basis utama kendaraan listrik tradisional disebut didorong oleh banyaknya model buatan China.
Persaingan harga yang ketat di pasar domestik mendorong para produsen China mencari pasar luar negeri sebagai tujuan penjualan baru.
Sementara itu, Amerika Utara justru mencatatkan penurunan penjualan sebesar 4 persen. Angka tersebut akan lebih buruk jika penjualan kendaraan listrik di Meksiko tidak tumbuh 29 persen, yang dipicu oleh masuknya mobil-mobil murah buatan China.
Di Amerika Serikat, penjualan kendaraan listrik sepanjang 2025 hanya tumbuh 1 persen. Lonjakan pembelian terjadi pada Agustus dan September, ketika konsumen bergegas memanfaatkan insentif pajak federal sebelum berakhir.
Setelah insentif dicabut pada akhir September, penjualan anjlok pada kuartal terakhir, turun hampir 50 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Kanada mengalami penurunan yang lebih dalam. Setelah insentif kendaraan listrik dihapus lebih awal pada 2025, penjualan sepanjang tahun anjlok 49 persen.
Di Eropa, kondisi pasar bergerak berlawanan arah. Penjualan meningkat berkat subsidi yang lebih kuat dan aturan emisi yang akan segera diberlakukan.
Jerman mencatatkan kenaikan 48 persen dan Inggris naik 27 persen. Prancis juga menutup tahun dengan pertumbuhan setelah insentif konsumen diperbarui di paruh kedua tahun.
Wilayah lain mencatatkan kinerja yang serupa. Asia Tenggara hampir menggandakan penjualan, sementara Amerika Selatan dan Tengah tumbuh 49 persen.
Jepang menjadi pengecualian dengan tingkat penetrasi kendaraan listrik yang stagnan di sekitar 3 persen, seiring kuatnya preferensi terhadap kendaraan hibrida.
Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kendaraan listrik di berbagai kawasan berlangsung seiring dengan meningkatnya peran ekspor model buatan China, sementara pasar Amerika Utara tertahan oleh perubahan kebijakan insentif.(*)





Comments are closed.