Wed,22 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Peran OMS Dinilai Krusial dalam Pencegahan Ekstremisme dan Terorisme

Peran OMS Dinilai Krusial dalam Pencegahan Ekstremisme dan Terorisme

peran-oms-dinilai-krusial-dalam-pencegahan-ekstremisme-dan-terorisme
Peran OMS Dinilai Krusial dalam Pencegahan Ekstremisme dan Terorisme
service

Jakarta, Arina.idWahid Foundation merilis Laporan Riset Pencapaian Rencana Aksi Daerah Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAD PE) periode 2021 hingga 2024. 

Salah satu temuan utama laporan tersebut menegaskan pentingnya peran Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dalam mendukung implementasi RAD PE.

Peneliti Wahid Foundation, Alamsyah M Djafar menjelaskan bahwa advokasi yang dilakukan OMS terbukti mampu membuka akses kebijakan, menyediakan rujukan teknis, serta memperkuat legitimasi kebijakan di hadapan pemerintah daerah.

Ia mencontohkan Kota Mataram sebagai praktik baik. OMS lokal berhasil menginisiasi advokasi RAD PE hingga mendorong lahirnya kebijakan di tingkat provinsi. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa RAD PE dapat lahir dari kebutuhan yang diartikulasikan oleh masyarakat sipil.

“Kasus Mataram membuktikan bahwa RAD PE tidak selalu datang dari atas, tetapi bisa tumbuh dari aspirasi masyarakat,” ujar Alamsyah dalam diskusi di Hotel Lumiere, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Alamsyah menekankan bahwa peran OMS tidak selalu hadir secara seragam di setiap daerah. Provinsi Lampung, misalnya, mampu menyusun RAD PE tanpa keterlibatan OMS yang secara khusus melakukan advokasi, meskipun terdapat organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

“Ini menunjukkan bahwa OMS memang berperan penting, tetapi bukan satu-satunya faktor. Setiap daerah memiliki konteks dan dinamika lokal yang berbeda,” jelasnya.

Lebih lanjut, Alamsyah menyoroti peran lembaga swadaya masyarakat seperti Aman Indonesia sebagai contoh OMS yang melakukan advokasi RAD PE secara berkelanjutan. Advokasi tersebut berawal dari isu perlindungan perempuan dari kekerasan, kemudian berkembang ke pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan dengan pendekatan kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial.

“Advokasi RAD PE tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses panjang yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Praktik seperti ini patut direplikasi,” tambahnya.

Sementara itu, Dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Prof. Haula Rosdiana menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara kedua di ASEAN yang memiliki Rencana Aksi Nasional Pencegahan Ekstremisme (RAN PE) dan berpotensi menjadi contoh bagi negara-negara lain.

Menurut Haula, keunggulan Indonesia terletak pada keragaman OMS serta keterlibatannya dalam proses perumusan kebijakan. Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan, terutama dalam membangun kepercayaan antara pemerintah dan OMS.

“Ruang partisipasi OMS masih terbuka dan terus berkembang. Namun, membangun kepercayaan adalah proses jangka panjang. Indonesia menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan OMS dalam pencegahan ekstremisme tetap memungkinkan,” ujarnya.

Haula menambahkan bahwa dinamika global turut memengaruhi pendekatan pemerintah dalam menangani isu terorisme, termasuk perdebatan antara pendekatan militeristik dan pendekatan sipil. 

Dalam konteks tersebut, keberadaan OMS menjadi penting sebagai penyeimbang sekaligus penyedia perspektif berbasis hak asasi manusia.

“Ketika kepercayaan antara pemerintah dan OMS terbangun, upaya pencegahan ekstremisme akan berjalan lebih inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.