Sun,19 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Perang Iran dan Dampaknya bagi Percepatan Energi Terbarukan

Perang Iran dan Dampaknya bagi Percepatan Energi Terbarukan

perang-iran-dan-dampaknya-bagi-percepatan-energi-terbarukan
Perang Iran dan Dampaknya bagi Percepatan Energi Terbarukan
service

KABARBIRSA.COM — Gejolak yang terjadi di Timur Tengah mulai memicu gangguan besar pada pasar minyak dan gas dunia. Banyak pengamat menyebut situasi ini sebagai gangguan terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Beberapa perkembangan di kawasan menunjukkan betapa cepatnya dampak konflik merambat ke sektor energi global. Qatar menghentikan operasi fasilitas ekspor gas alam cair terbesar di dunia. Di Arab Saudi, kilang minyak terbesar terpaksa menangguhkan kegiatan produksi.

Sementara itu lalu lintas kapal tanker yang melewati Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global, hampir sepenuhnya berhenti.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan serangan terhadap Iran kemungkinan akan berlanjut selama empat hingga lima pekan ke depan. Pernyataan tersebut menambah ketidakpastian di tengah pasar energi yang sebenarnya saat ini masih berada dalam kondisi kelebihan pasokan minyak dan gas.

Namun jika konflik berlangsung lama, keseimbangan pasar energi dunia bisa berubah secara drastis.

Energi Terbarukan Kembali Dilirik

Lonjakan harga energi yang muncul akibat ketegangan geopolitik sering kali memunculkan argumen bahwa energi terbarukan menjadi pilihan yang lebih aman. Sumber energi seperti matahari dan angin dapat diproduksi secara domestik dan tidak terlalu bergantung pada dinamika politik global.

Peneliti Energi dari Brussels Institute for Geopolitics, Thijs Van de Graaf, mengatakan kenaikan harga bahan bakar fosil secara teori akan membuat teknologi alternatif menjadi lebih menarik.

“Secara prinsip harga minyak dan gas yang tinggi merupakan kabar baik bagi teknologi alternatif karena membuatnya lebih kompetitif. Pemasangan panel surya, pompa panas dan teknologi lain yang dapat menurunkan ketergantungan pada gas menjadi semakin menarik,” kata Van de Graaf, dikutip dari Bloomberg, Ahad, 8 Maret 2026.

Namun sejumlah pakar menilai perhitungannya tidak sesederhana itu. Kepala Ekonomi dan Pemodelan Global BloombergNEF, David Hostert, menilai lonjakan harga energi justru berpotensi memicu inflasi. Kondisi tersebut dapat mendorong bank sentral menaikkan suku bunga.

Kenaikan suku bunga membuat pembiayaan proyek energi bersih menjadi lebih mahal. Hal ini penting karena industri energi terbarukan sangat bergantung pada investasi besar dan sensitif terhadap biaya pinjaman. Hostert menilai gangguan pada pasar energi fosil sering kali membuka ruang interpretasi yang berbeda bagi setiap negara.

“Gangguan pada bahan bakar fosil ini seperti tes Rorschach tentang apa yang ingin Anda lihat,” kata Hostert. “Jika Anda adalah negara produsen minyak dan gas, Anda mungkin akan berkata bahwa ini alasan untuk kembali mengandalkan sumber daya domestik. Sementara negara lain mungkin melihatnya sebagai alasan untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dan mempercepat elektrifikasi ekonomi dengan energi terbarukan.”

Kekhawatiran Negara Asia

Bagi banyak negara Asia, gangguan pengiriman minyak dan gas dapat menimbulkan tekanan besar terhadap perekonomian. Ketergantungan yang tinggi pada impor energi membuat kawasan ini sangat sensitif terhadap gangguan pasokan.

Pemerintah China bahkan telah menyerukan gencatan senjata segera. Di saat yang sama, sejumlah pembeli di Asia mulai meminta pengiriman gas alam cair lebih cepat dari pemasok di luar Timur Tengah guna menutup potensi kekurangan pasokan pada Maret.

Analis energi dari lembaga riset Ember di London, Kingsmill Bond, menilai konflik ini dapat memengaruhi strategi energi negara-negara Asia. “Para pembuat kebijakan di Asia akan melihat situasi ini dan menjadi kurang terdorong untuk menempuh jalur gas,” kata Bond. “Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar tekanan untuk mencari solusi alternatif.”

Di sisi lain, sejumlah negara berkembang sudah mulai mempercepat penggunaan teknologi energi hijau karena biaya produksinya semakin murah. Namun kenaikan harga minyak dan gas tetap berpotensi menjadi hambatan baru.

Direktur Energi dan Iklim di lembaga riset Transport and Environment, Antony Froggatt, mengatakan lonjakan harga energi dapat memperketat anggaran pemerintah. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi dukungan subsidi bagi teknologi bersih. Di negara yang memiliki cadangan batu bara besar seperti China dan India, bahan bakar fosil paling kotor itu justru dapat menjadi pilihan cepat untuk menggantikan sebagian impor gas.

“Kami sangat bergantung pada harga energi dalam perekonomian secara keseluruhan dan harga yang tinggi memang menambah beberapa tantangan,” kata Froggatt. “Karena energi adalah darah kehidupan perekonomian, semakin banyak yang dapat diproduksi secara domestik maka semakin aman pula pasokannya.”

Uni Eropa telah merasakan manfaat percepatan energi terbarukan setelah invasi Rusia ke Ukraina. Meski pada saat yang sama kawasan itu juga mencari sumber gas alternatif yang kini kembali terancam oleh ketegangan di Timur Tengah.

Data lembaga Agora Energiewende menunjukkan bahwa antara 2019 hingga 2024 negara-negara Uni Eropa berhasil memasang kapasitas tenaga angin dan surya dalam jumlah besar. Kapasitas tersebut memungkinkan kawasan itu menghindari pembakaran sekitar 92 miliar meter kubik gas dan 55 juta ton batu bara keras pada 2024.

Frauke Thies, direktur Eropa di lembaga tersebut, mengatakan transisi energi mulai menunjukkan hasil nyata. “Kami telah melihat hasil yang nyata,” kata Thies. “Berkat energi terbarukan, Eropa tidak terkena dampak yang lebih parah dari krisis energi terakhir.”

Konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah membuat pasar energi dunia kembali berada dalam ketidakpastian. Minyak, gas, hingga strategi transisi energi global kini bergerak mengikuti dinamika geopolitik yang belum menunjukkan tanda mereda.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.