Jakarta, NU Online
NU Care-LAZISNU bersama Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU, Lakpesdam PBNU, dan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) menggelar pelatihan Community Emergency Response Partnership (CERP) di Hotel Acacia, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Program yang bekerja sama dengan China Merchants Foundation, Sany Foundation, dan Shenzhen Rescue Volunteers Federation (SRVF) ini bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) berharap kerja sama tersebut menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui peningkatan kemampuan kader NU dalam merespons berbagai bencana dan kondisi darurat.
“Seperti hari ini, kita bekerja sama secara internasional untuk meningkatkan kapasitas berbagai unit NU yang bertanggung jawab menanggapi berbagai bencana dan kesulitan yang dihadapi masyarakat,” ujar Gus Yahya.
Ia menilai kolaborasi tersebut merupakan langkah strategis karena membekali kader-kader NU yang selama ini menjadi relawan di lapangan dengan pelatihan dan pengetahuan yang lebih memadai dari mitra internasional.
“Melalui kerja sama ini, para kader NU yang siap menjadi petugas relawan di lapangan dapat meningkatkan kapasitasnya melalui pelatihan khusus yang diberikan oleh mitra internasional kita,” katanya.
Direktur Eksekutif NU Care-LAZISNU Riri Khariroh mengatakan, pada angkatan pertama pelatihan diikuti sekitar 520 peserta yang terbagi dalam delapan kelas, masing-masing berisi 65 peserta.
NU Care-LAZISNU dipercaya menjadi koordinator penyelenggaraan karena dinilai memiliki kesiapan sumber daya, sementara pada pelaksanaan berikutnya penyelenggaraan akan dilakukan secara bergantian oleh lembaga-lembaga lain.
Menurut Riri, CERP tidak ditujukan untuk mencetak tenaga penyelamat profesional, melainkan membekali masyarakat agar mampu bertindak cepat saat terjadi bencana di lingkungan masing-masing.
“Ini bukan pelatihan untuk rescuer profesional. Pelatihan ini ditujukan bagi masyarakat di komunitas agar mereka tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana, bagaimana melindungi keluarga, membantu tetangga, hingga melakukan tindakan penyelamatan dasar,” katanya.
Ia berharap para peserta memiliki kemampuan dasar kebencanaan sehingga dapat menjadi garda terdepan di lingkungan tempat tinggal.
Pelatihan berlangsung sehari penuh dengan materi mitigasi dan penanganan berbagai jenis bencana, seperti banjir, gempa bumi, kebakaran, hingga pertolongan pertama (first aid). Selain pembelajaran di kelas, peserta juga mengikuti simulasi lapangan, termasuk praktik penggunaan alat pemadam api ringan (APAR) dan teknik penyelamatan dasar.
“Pelatihannya tidak hanya di dalam ruangan, tetapi juga ada praktik di luar ruangan. Peserta akan belajar menggunakan alat pemadam api ringan (APAR), melakukan simulasi penyelamatan, hingga praktik pertolongan pertama. Peralatan yang digunakan juga cukup lengkap,” jelasnya.
Rangkaian pelatihan diawali di Jakarta, kemudian dilanjutkan di Kampus UNUSIA dengan sasaran mahasiswa dan dosen. Setelah itu kegiatan digelar di Kabupaten Tangerang bersama Fatayat NU dengan fokus mitigasi abrasi pesisir, dilanjutkan di Karawang, serta tiga lokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni PWNU DIY bersama LAZISNU PWNU DIY, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga melalui Center for Disaster Studies, dan sebuah pondok pesantren yang masih ditentukan.
“Kalangan pesantren juga perlu dibekali kemampuan mitigasi bencana agar para santri memahami prosedur evakuasi dan pertolongan pertama apabila sewaktu-waktu terjadi bencana,” tuturnya.
Lebih lanjut, Riri mengatakan peserta terbaik akan berkesempatan mengikuti pelatihan lanjutan di China. Seluruh alumni juga akan dihimpun dalam komunitas relawan yang siap dimobilisasi ketika terjadi bencana.
“Harapannya sekitar 520 peserta ini nantinya menjadi frontliner NU dalam penanggulangan bencana. Mereka tidak hanya selesai mengikuti pelatihan, tetapi akan kami koordinasikan dalam satu komunitas sehingga ketika ada bencana bisa segera dimobilisasi untuk membantu masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, Captain Shenzhen Rescue Volunteer Federation (SRVF), Shi Xin mengatakan kerja sama dengan NU berawal dari respons kemanusiaan saat gempa dan tsunami Palu pada 2018. Menurutnya, bantuan NU ketika itu sangat membantu tim penyelamat SRVF dalam mendistribusikan logistik ke wilayah terdampak.
“Saya masih mengingat dengan jelas bagaimana teman-teman dari NU dengan tulus menawarkan bantuan untuk mengangkut barang-barang bantuan menggunakan armada pribadi mereka,” ungkapnya.
Shi Xin menjelaskan tujuan utama CERP Indonesia bukan sekadar pelatihan, melainkan membangun sistem kapasitas darurat lokal jangka panjang yang sesuai dengan karakter bencana dan budaya masyarakat Indonesia.
“Kami yakin pemberdayaan pemimpin komunitas, generasi muda, dan relawan perempuan akan memperkuat ketangguhan masyarakat sehingga mampu menyelamatkan lebih banyak jiwa ketika bencana terjadi,” jelasnya.
Perwakilan Sany Foundation, Saanjay Shamdasani Ramchand, menyampaikan komitmen lembaganya untuk terus mendukung peningkatan kapasitas penanggulangan bencana di Indonesia. Sebagai bagian dari perusahaan alat berat global Sany, pihaknya ingin berkontribusi melalui penguatan teknologi dan pelatihan penggunaan peralatan penyelamatan.
“Kami ingin bermitra dengan pemerintah, masyarakat Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat program pelatihan bantuan bencana sehingga Indonesia semakin siap menghadapi berbagai potensi bencana di masa depan,” ujarnya.




Comments are closed.