Mubadalah.id – Dalam keadaan darurat, Anda mungkin memerlukan transfusi darah, yakni jika Anda telah kehilangan banyak darah dan memerlukan tambahan dari luar untuk menyelamatkan jiwa Anda.
Namun, darah yang akan medis berikan pada tubuh Anda harus melalui pengujian sebaik-baiknya. Hal ini agar bisa Anda bisa memastikan terbebas dari berbagai penyakit, misalnya hepatitis atau HIV/AIDS.
Sebaiknya Anda jangan menerima transfusi darah kecuali bila keadaan benar-benar mendesak dan Anda terancam kehilangan nyawa.
Bila Anda telah memutuskan akan menjalani suatu operasi yang dijadwalkan beberapa lama kemudian dan masih ada waktu untuk bersiap-siap. Lalu tanyakan apakah mungkin bila Anda menyimpan darah Anda sendiri di rumah sakit untuk mereka gunakan. Apabila perlu selama dan sesudah operasi nanti.
Bila cara ini tidak mungkin dilakukan, mintalah seorang teman atau saudara untuk menyumbangkan darahnya bagi Anda.
Pastikan ia telah menjalani tes hepatitis dan HIV/AIDS, dan pastikan pula bahwa Anda maupun pasangan seksualnya tidak memiliki mitra seksual baru selama enam bulan terakhir sampai saat itu.
Darahnya juga harus lolos pengtesan untuk mengetahui apakah cocok dengan kebutuhan Anda, apakah menerima atau tidak.
Bila Anda menerima transfusi darah dari orang yang tidak dikenal dan tidak diuji lebih dulu untuk menangkal hepatitis dan HIV/AIDS, besar kemungkinan Anda akan tertular.
Dalam kasus manapun, meski darah yang Anda terima sudah lolos uji, selama enam bulan sesudah transfusi sebaiknya Anda dan pasangan Anda mempraktikkan hubungan seksual yang lebih aman. Lalu jalanilah tes HIV/AIDS untuk memastikan Anda benar-benar telah memperoleh transfusi yang aman.
Kiat Sesudah Operasi
Bila operasi telah berjalan baik dan Anda telah pulih kembali, sebelum meninggalkan rumah sakit tanyakan lebih dulu:
Pertama, apa yang harus Anda lakukan di rumah untuk menjaga kebersihan bekas operasi (sayatan/jahitan).
Kedua, apa yang harus Anda lakukan bila merasa sakit di bagian itu?
Ketiga, berapa lama harus istirahat? []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 53.





Comments are closed.