Produk kosmetika dan pakaian dalam rantai produksinya bergantung pada batu bara. Ketergantungan ini tidak disadari pada umumnya. Keterhubungan industri gaya hidup dan kecantikan dengan industri ekstraktif yang memiliki dampak lingkungan dan sosial besar tidak dipahami akibat kesenjangan pengetahuan.
Wajah batu bara yang lebih menekankan aspek ekonomi makro tanpa disadar mengaburkan ketergantungan itu. Karena batu bara sering dipandang sebagai sesuatu yang jauh dan teknis. Sekadar sektor energi atau komoditas ekonomi. Namun, wajah batu bara tidak tunggal. Ada yang mengenalnya sebagai sumber penyakit, debu, dan kerusakan lingkungan dan ini realitas yang sangat berbeda dari narasi ekonomi yang dominan.
“Jadi wajah batu bara itu sangat bergantung bagaimana dampaknya dirasakan. Produk kecantikan dan baju itu semua bergantung sama batu bara,” kata Manajer Riset Kebijakan dan Transisi Berkeadilan Institute for Essential Services Reform (IESR) Martha Jesica Solomasi Mendrofa dalam talkshow “Ketergantungan Batubara dan Tantangan Transformasi Ekonomi Daerah” pada Pesta Media AJI Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu, 11 April 2026.
Sementara data-data mengenai batu bara itu sangat ekonomi. Pemain di sektor itu sangat banyak karena batu bara dilihat sebagai komoditas dengan pendapatan luar biasa.
Data di Kabupaten Muara Enim di Sumatera Selatan dan Kabupaten Paser di Kalimantan Timur menunjukkan 50 hingga 70 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) didominasi batu bara. Tetapi tidak semua ke tenaga kerja. Sebab karena industrinya padat modal, bukan padat karya. Sebanyak 80 persen masuk ke operasional perusahaan dan sekitar 20 persen ke tenaga kerja.
“Keuntungan ke masyarakat ada. Tetapi tidak sebesar yang dibayangkan,” kata dia.
Usaha sehari-hari seperti laundry, warung, dan kontrakan bisa berjalan akibat aktivitas tambang. Artinya, perputaran uang di tingkat lokal sangat bergantung pada keberadaan tambang.
Wilayah yang sebelumnya mengandalkan pertanian kemudian berubah dan sangat kecanduan dengan tambang. Kehidupan sehari-hari masyarakat ikut terikat dan bergantung.
Situasi itu merupakan masalah global. Perubahan penggunaan batu bara di negara lain bisa langsung berdampak ke daerah tambang di Indonesia. Ketergantungan ini membuat daerah jadi lebih rentan. Terutama kalau wilayah itu terlalu bergantung pada satu sektor saja.
Berdasarkan survei IESR, ketergantungan pada batu bara membuat pemerintah belum siap menghadapi transisi energi berkeadilan. Komunikasi dan koordinasi antar lembaga lemah,kewenangan yang terbatas, perbedaan pandangan antar pemerintah, dan sistem yang belum terintegrasi menjadi hambatan. Padahal transisi ini membutuhkan kerja sama banyak pihak.
Di wilayah tambang, tantangannya lebih kompleks. Masyarakat yang sudah terbiasa dengan ekonomi tambang enggan beralih ke sektor lain. Karena itu transisi energi harus diikuti transformasi ekonomi daerah. Tidak bisa hanya bergantung pada satu sektor tetapi perlu mengembangkan sektor lain.
Ketergantungan pada satu sumber energi dalam jangka panjang menciptakan risiko sistemik. Hal ini disampaikan Koordinator Nasional Publish What You Pay (PWYP) Indonesia Aryanto Nugroho.
Dia mencontohkan Kalimantan Timur yang hampir 50 persen ekonominya bergantung pada batu bara. Kalau tambang itu tutup maka ekonominya akan turun drastis. Hal serupa juga di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan.
Ada 900 perusahaan batu bara di Indonesia, Ketika perusahaan ini berhenti maka akan ada jutaan tenaga kerja terdampak.
“Artinya ada kerentanan yang tinggi. Paling penting adalah bertransformasi. Bukan sekadar mengurangi produksi batu bara tetapi menciptakan sumber pertumbuhan baru berbasis energi terbarukan dan ekonomi berkelanjutan.”
Diversifikasi ekonomi tidak bisa hanya mengandalkan Pemerintah. Perusahaan juga harus proaktif dan harus melibatkan masyarakat. Pemerintah Daerah harus menciptakan alternatif ekonomi baru.
Akademisi dari Universitas Indonesia, Suraya Abdul Wahab Affif, menyebutkan ekonomi tidak bisa berdiri sendiri. Tetapi harus terkait dengan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. Pendekatannya harus terintegrasi. Ekonomi yang sebelumnya bergantung pada eksploitasi sumber daya harus bergeser.
“Saat ini pemerintah masih mengandalkan industri ekstraktif. Seharusnya bergeser ke model ekonomi yang lebih berkelanjutan. Hal ini membutuhkan lokalisasi dan demokratisasi produksi dan konsumsi,” kata dia.





Comments are closed.