Thu,10 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Pola Asuh Keras Pengaruhi Perkembangan Otak dan Perilaku Anak Perempuan saat Dewasa

Pola Asuh Keras Pengaruhi Perkembangan Otak dan Perilaku Anak Perempuan saat Dewasa

pola-asuh-keras-pengaruhi-perkembangan-otak-dan-perilaku-anak-perempuan-saat-dewasa
Pola Asuh Keras Pengaruhi Perkembangan Otak dan Perilaku Anak Perempuan saat Dewasa
service

Pola asuh keras kerap dipilih sebagai upaya mendisiplinkan anak. Namun, banyak pengaruhnya untuk perkembangan Si Kecil, karena pola asuh keras dapat memengaruhi perkembangan otak dan perilaku, khususnya pada anak perempuan.

Banyak orang tua beralasan, memarahi atau memberi hukuman fisik kepada anak sebagai bentuk ketegasan. Padahal, pola asuh keras seperti itu bisa memengaruhi perkembangan anak saat dewasa, Bunda.

Sejumlah ahli mengungkapkan bahwa pola asuh keras lebih banyak menimbulkan dampak negatif dibandingkan manfaatnya. Pasalnya, luapan emosi yang berlebihan terhadap anak dapat membuat tubuh mereka mengalami stres yang berlebih.

Selain itu, mungkin banyak yang mengira dampaknya akan lebih terasa pada anak laki-laki. Nyatanya, penelitian menunjukkan bahwa anak perempuan justru lebih rentan, Bunda. Untuk memahaminya lebih lanjut, yuk simak penjelasan lengkapnya dari para ahli.

Mengetahui pola asuh keras pada anak

Melansir dari laman Psychology Today, pola asuh keras atau harsh parenting merupakan tindakan mengasuh anak dengan hal-hal yang negatif, seperti membentak, memukul, mempermalukan, hingga menekan atau memaksa anak dengan cara yang menyakitkan.

Perlakuan kasar tersebut merupakan sumber stres yang dapat mengganggu pertumbuhan emosional dan sosial mereka, Bunda. Para ahli pun mengkhawatirkan kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko masalah perilaku seiring mereka dewasa.

Pasalnya, otak anak yang sedang berkembang pesat akan merekam apapun yang mereka lihat dengan matanya. Mulai dari lingkungan hingga cara orang tua memperlakukan mereka, semuanya akan tersimpan sehingga dapat memengaruhi perkembangan otaknya.

Sejauh ini, hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola asuh seperti ini berisiko menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan anak. Maka dari itu, para ahli gencar meneliti dampak pola asuh keras terhadap anak-anak, khususnya pada anak perempuan. 

Apa dampak pola asuh keras terhadap perkembangan anak perempuan

Menurut berbagai ahli, pola asuh keras memiliki efek yang luar biasa dan akan membekas hingga dewasa. Berikut beberapa dampak yang terjadi dari pola asuh tersebut, dikutip dari laman PsyPost.

1. Dampak terhadap perilaku anak perempuan

Perkembangan otak dan perilaku anak dipengaruhi dari pola asuh yang diberikan orang tua. Studi terbaru mengungkapkan bahwa anak yang mengalami pengasuhan keras pada usia 4,5 tahun mulai menunjukkan masalah perilaku saat mereka menginjak usia 10,5 tahun.

Masalah yang sering muncul adalah perilaku agresif, suka melanggar aturan, dan suka membangkang. Sebaliknya, pada pola asuh keras tidak ditemukan efek masalah yang berkaitan dengan gangguan kecemasan atau depresi.

Menariknya, tidak semua anak mengalami dampak yang sama, Bunda. Penelitian menemukan bahwa anak perempuan justru lebih rentan terhadap perubahan emosional dan perilaku akibat pola asuh yang keras dibandingkan anak laki-laki.

Selain itu, anak-anak perempuan dengan pola asuh keras memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah serta enggan membantu orang lain. Bahkan, tak sedikit dari mereka  juga memiliki masalah hubungan pertemanan dengan teman sebaya hingga berusia 18 tahun.

2. Dampak terhadap perkembangan otak

Dari sisi perkembangan otak, para peneliti menyoroti peran amigdala, yaitu bagian otak yang bertugas mengatur emosi serta respons terhadap stres dan ancaman. Nah, pola asuh keras diduga memiliki kaitan dengan perubahan perkembangan amigdala dan bagian otak lainnya.

Benar saja, hasil penelitian pun menyatakan bahwa amigdala dan bagian otak lain menjadi terpengaruh. Anak yang tumbuh dengan pola asuh tersebut menjadi lebih sulit mengatur emosi, terlalu agresif, bahkan memiliki risiko gangguan perilaku seperti ADHD yang lebih tinggi.

Selain itu, anak perempuan yang mendapat pola asuh keras menunjukkan respons adaptasi darurat yang terjadi lebih cepat pada amigdala dan bagian otak lainnya. Adaptasi yang lebih cepat ini diduga terjadi karena perkembangan otak yang lebih dini dalam merespons stres.

Para ahli juga menekankan, tanpa bimbingan yang tepat dari orang tua, anak akan kehilangan kesempatan untuk belajar disiplin dan mengatur emosinya. Perlu diingat bahwa keduanya merupakan hal yang sangat penting hingga mereka dewasa, Bunda.

“Ketika orang tua menerapkan pola asuh yang keras, mereka merampas kesempatan anak untuk memahami secara logika kesalahan mereka dan hanya menggantinya dengan rasa takut yang besar padanya,” ujar seorang pakar perkembangan anak di Cornell’s Bronfenbrenner Center for Translational Research, Kimberly Ann Kopko.

Apa yang terjadi pada orang tua yang menerapkan pola asuh keras

Penelitian yang mensurvei lebih dari 6.000 orang tua dari anak-anak berusia 6-12 tahun menemukan bahwa setidaknya mereka pernah mengalami peristiwa traumatis di masa kecil yang memicu stres hingga mereka dewasa dan menjadi orang tua.

Selain itu, orang tua cenderung menunjukkan gejala gangguan psikologis, seperti depresi, pikiran untuk melukai diri sendiri, hingga kecemasan. Singkatnya, orang tua yang menerapkan pola asuh kasar dilatarbelakangi oleh masalah atau trauma yang dialaminya di masa lalu.

Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman traumatis di masa kecil tidak berhenti pada satu generasi saja, Bunda. Trauma tersebut dapat mempengaruhi cara seseorang mengasuh anak di masa depan dan berisiko menciptakan pola asuh keras yang berulang.

Demikian informasi mengenai dampak dari pola asuh keras pada anak perempuan. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.