Mubadalah.id – Di Denmark, sejak 1871, suami istri Niels dan Erna Juel-Hansen memunculkan pedagogi pertama berdasarkan teori pendidikan, yang melibatkan bermain. Mereka menemukan bahwa bermain bebas sangat penting dalam perkembangan anak.
Faktanya, selama beberapa tahun, anak-anak Denmark tidak boleh untuk memulai sekolah sebelum mereka berusia 7 tahun. Guru dan komite yang mengatur agenda untuk sekolah anak-anak, mereka tidak ingin terlibat dalam pendidikan karena ia merasa bahwa anak-anak yang utama haruslah menjadi anak-anak dan bermain.
Bahkan, sekarang, anak-anak berusia 10 tahun dan di bawahnya ketika selesai sekolah pukul 2.00 siang. Kemudian mempunyai pilihan untuk pergi ke tempat yang ia namakan “free time school” (skolefritidsordning) sepanjang sisa hari. Di tempat tersebut mereka mendorong untuk bermain. Menakjubkan, tetapi benar-benar terjadi!
Tidak Boleh Memaksa
Di Denmark tidak ada penekanan untuk pendidikan atau olahraga tertentu, tetapi lebih pada anak secara keseluruhan. Orang tua dan guru fokus pada hal-hal seperti sosialisasi, otonomi, keterpaduan, demokrasi, dan harga diri.
Mereka ingin anak-anak belajar tentang ketangguhan dan menumbuhkan arahan yang tepat dalam diri yang kelak akan memandu mereka menghadapi hidup. Mereka tahu anak-anak akan terdidik dengan baik dan belajar banyak keterampilan.
Namun, kebahagiaan sejati tidak datang hanya Hari pendidikan yang baik. Seorang anak yang belajar menghadapi stres, berteman, dan realistis terhadap dunia telah mempunyai keterampilan hidup yang sangat berbeda daripada menjadi seorang ahli matematika, contohnya.
Tentang keterampilan hidup, orang-orang Denmark berbicara mengenai seluruh aspek kehidupan, tidak hanya kehidupan karier. Buat apa menjadi ahli matematika tanpa kemampuan untuk menghadapi jatuh bangunnya kehidupan?
Semua orang tua Denmark yang berbicara dengan kami mengatakan bahwa fokus berlebihan yang menekan anak-anak muda terlihat sangat aneh bagi mereka.
Mereka melihatnya, jika anak-anak selalu mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan ‘sesuatu—nilai yang baik, penghargaan, atau pujian dari guru maupun orang tua—mereka tidak bisa mengembangkan dorongan pribadi mereka.
Mereka percaya bahwa anak-anak secara mendasar membutuhkan ruang dan kepercayaan untuk membolehkannya menguasai banyak hal, yang bisa berguna saat membuat dan menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Ini menumbuhkan harga diri dan ketangguhan sejati karena dukungannya berasal dari diri mereka sendiri, bukan dari orang lain. []
*)Sumber Tulisan: Buku The Danish Way Of Parenting Karya Jessica J X dan Iben D S, hlm 11-12





Comments are closed.