Mubadalah.id – Sebagai refleksi di Hari Kartini, saya menemukan satu kegelisahan: mengapa dalam banyak situasi, perempuan seperti harus berjuang dua kali lebih keras untuk sampai pada titik tertentu? Dan di saat yang sama, sebagian laki-laki, malah terlihat lebih santai?
Di titik ini, ada rasa hangat: bahwa apa yang dulu perempuan perjuangkan, termasuk Kartini, perlahan menemukan bentuk nyatanya. Namun tentu, capaian ini bukan untuk melahirkan ketimpangan yang baru.
Disclaimer dulu: tulisan ini bukan tuduhan kepada siapa pun. Ia lebih seperti cara saya mencoba memahami ulang realitas yang saya lihat, terutama dalam hal pendidikan di masa sekarang dan bagaimana ia bekerja dalam kehidupan laki-laki dan perempuan.
Dari Kegelisahan Personal
Sebagai seorang keturunan arab, saya tumbuh dalam ruang sosial yang memiliki harapan-harapan tertentu. Salah satunya adalah “tuntutan” untuk menikah dengan sesama arab juga. Saya tidak ingin berdebat dan menempatkan ini sebagai suatu hal yang benar atau salah. Saya hanya sedang jujur bahwa di dalamnya ada struktur sosial yang sudah lebih dulu terbentuk sebelum saya benar-benar memahami pilihan-pilihan saya sendiri.
Namun di luar itu, saya juga punya cara pandang pribadi yang tumbuh seiring waktu. Saya punya standar, seperti halnya setiap orang punya harapan dalam membangun relasi. Salah satu yang cukup penting bagi saya adalah soal pendidikan pasangan.
Bukan dalam arti harus sama persis, bukan pula dalam arti harus berada di level yang sama secara angka atau gelar, tetapi setidaknya ada kesediaan untuk belajar, bertumbuh, dan memiliki cara berpikir yang bisa saling bertemu.
Antara Harapan, Tradisi, dan Pilihan
Karena bagi saya, pendidikan adalah ruang penting untuk itu. Ia bukan sekadar soal ijazah, tetapi tentang bagaimana seseorang memahami dunia, berdialog, dan bagaimana ia membuka dirinya terhadap perubahan.
Namun sayang, dalam beberapa pengalaman dijodohkan, saya tidak selalu menemukannya. Dan di titik itu, saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah standar saya terlalu tinggi, atau memang ada sesuatu yang lebih luas yang sedang bekerja dalam masyarakat kita?
Di sinilah saya mulai memperhatikan satu hal: bahwa dalam banyak ruang sosial, perempuan justru terdorong untuk “lebih serius” dalam pendidikan. Sejak kecil, ada dorongan halus maupun terang-terangan bahwa perempuan harus bisa berdiri di atas kakinya sendiri, harus mandiri, harus siap menghadapi dunia yang tidak selalu ramah. Seolah ada trauma di situ, karena luka lama.
Ketika Perempuan Melaju Lebih Cepat
Tampaknya, dorongan itu membuat banyak perempuan berusaha membuktikan diri dua kali lebih keras. Mereka belajar lebih sungguh-sungguh, menempuh pendidikan lebih tinggi, dan membangun kapasitas diri dengan serius. Sementara itu, pada sebagian laki-laki, dorongan yang sama tidak selalu hadir dengan intensitas yang sama. Tidak dalam arti mereka tidak penting, atau tidak ada didikan sama sekali, tetapi dalam banyak konteks sosial, posisi pendidikan sering kali bukan sebagai keharusan yang sama mendesaknya.
Saya tidak sedang membuat generalisasi. Saya tahu banyak laki-laki yang juga belajar dengan sungguh-sungguh dan tumbuh dengan luar biasa. Tetapi sebagai pola sosial, saya tidak bisa menutup mata bahwa tekanan dan ekspektasi itu sering kali tidak simetris.
Akibatnya, kita sering melihat dua kecepatan yang berbeda. Perempuan melaju lebih cepat karena adanya keterbatasan dan dorongan untuk membuktikan diri serta bertahan hidup dalam banyak kemungkinan. Sementara sebagian laki-laki berjalan dengan ruang yang lebih longgar, dengan tuntutan yang tidak selalu seketat itu.
Ketidakseimbangan ini tidak selalu terlihat sebagai masalah. Orang-orang justru sering menganggapnya sebagai hal yang biasa. Padahal, di titik tertentu, ia membentuk jarak dalam relasi. Ketika perempuan sudah terbiasa berpikir lebih luas, membaca lebih dalam, dan membangun dirinya dengan serius, ia akan cenderung mencari relasi yang bisa menjadi ruang bertumbuh bersama.
Mencari Titik Temu dalam Relasi
Dan di sinilah saya belajar memahami satu hal: bahwa kesetaraan tidak pernah berarti harus sama dalam segala hal. Kesetaraan tidak menuntut dua orang menjadi identik. Tetapi kesetaraan membutuhkan sesuatu yang bisa kita miliki bersama: sebuah titik temu, ruang dialog, dan kesediaan untuk tumbuh dalam arah yang sama, meskipun langkahnya tidak selalu sama persis.
Mungkin inilah yang juga membuat saya sering kembali merenungkan semangat Kartini. Bukan hanya Kartini sebagai simbol perempuan yang bersekolah atau menulis, tetapi Kartini sebagai suara yang mempertanyakan ketimpangan akses terhadap pengetahuan dan ruang tumbuh. Suara yang lahir dari kesadaran bahwa perempuan juga berhak berpikir, belajar, dan berkembang.
Namun dalam refleksi Kartini hari ini, saya juga belajar untuk tidak melihatnya secara sederhana sebagai “perempuan melawan laki-laki”. Karena realitasnya jauh lebih kompleks dari itu. Ada struktur sosial, ada kebiasaan budaya, ada cara lama yang masih bekerja tanpa selalu kita sadari.
Mencari yang Bisa Sejalan
Dan di tengah semua itu, saya hanya seorang perempuan yang sedang mencoba memahami posisinya sendiri. Yang sedang belajar menata harapan tanpa harus kehilangan kesadaran, bahwa dunia tidak selalu memberi ruang yang sama bagi semua orang sejak awal.
Pada akhirnya, saya tidak sedang mencari kesempurnaan dalam relasi. Saya hanya sedang mencari kemungkinan untuk bisa berjalan bersama seseorang. Bukan harus sama dalam segala hal, tetapi setidaknya punya sesuatu yang bisa bertemu: cara berpikir yang saling menghargai, kesediaan untuk tumbuh, dan pendidikan sebagai salah satu jembatan yang mempertemukan kami di tengah jalan.
Dan mungkin, dari semangat Kartini, kita bisa belajar satu hal sederhana: bahwa perjuangan perempuan bukan untuk meninggalkan siapa pun di belakang, tetapi untuk memastikan bahwa semua orang punya kesempatan yang lebih adil untuk berjalan bersama sejak awal. []





Comments are closed.